Minggu, 25 September 2011

Lomba Lari

Satu lagi orang bodoh yang kutemui.


Ia adalah salah seorang calon peserta lomba lari yang ingin kuikuti kemarin dulu. Aku berkenalan dengannya saat aku masih muda dan entah mengapa kuhabiskan waktu menanti kedewasaan bersama dia dan orang-orang dari negeri dongeng. Ia adalah seorang jenderal perang, sekaligus filsuf yang pemikirannya melebihi Shikamaru. Sudah banyak peperangan yang ia hadapi dan hasilnya ia tak pernah kalah, kalaupun tak menang, kedudukannya selalu berimbang. Ketika kutanyakan kepadanya apakah ia mau mengikuti lomba lari itu, ia malah berkilah kalau sepatunya hilang sehingga aku pun meminta dia memetakan jalur perlombaan kepadaku, agar aku bisa selamat sampai ke akhir lintasan lariku.

Ketika hari perlombaan, aku melihatnya berdiri di belakang garis start, lalu aku tersenyum kepada diriku sendiri. Aku menghampiri dan menyapanya lalu dia hanya tersenyum, katanya ia akan berlari tanpa sepatu itu. Lalu aku berdoa kepada tuhan semoga kami bisa berdiri di podium yang sama lalu tersenyum bersama sambil mengangkat tropi dan menyemburkan bir.

Tapi seperti yang ia katakan, semesta memiliki refleks kepada manusia, dan begitu pula manusia. Ketika aku dan dia telah bersiap menunggu aba-aba dan letupan senapan angin, rasionalitas dalam diriku menguasai perasaanku. Apa yang terbayangka digaris finis bisa saja sama, tapi rasion itu berbisik kepadaku, mungkin saja garis finis tak seperti apa yang aku pikirkan dulu. Dan aku pada akhirnya merasa gentar berlari.

Hei, jenderal, ketika letupan senapan itu terdengar dan kau serta merta semua orang itu berlari menyongsong garis finis kalian sendiri-sendiri, aku memutuskan untuk tak berlari. Dan rasionalitasku mulai menjalari tubuhku. Ketika kau berteriak kepadaku bahwa kau berlari terlalu kencang hingga tak sadar telah melewati garis finis, kau menoleh dan mendapatiku sedang melakukan harakiri.


Ya, jenderal, aku mungkin sekarang telah mati akibat hal yang belum aku mulai.

4 komentar: