Sabtu, 17 September 2011

Pertemuan

Ada banya hal yang tak bisa aku jelaskan lewat kalimat kepadamu, kawan, begitu pula apa yang kau sembunyikan dariku selama ini.

Malam itu tanpa salah satu saudara perempuan kita itu, kita sekeluarga pergi ke sebuah tempat yang sama setahun lalu. Tanpa kau sadari, lagi-lagi pertemuan itu terjadi pada tanggal yang sering kita hindari, tapi anehnya selalu kita pakai sebagai waktu untuk berkumpul tanpa sengaja. Malam itu tidak mendung, bulan kelihatan jelas, tapi aku sama sekali tak bisa membaca wajahmu yang dipenuhi kegundahan. Entah apa yang membebani pikiranku malam itu, tapi aku jelas bisa menangkap kedalaman suaramu, penuh rasa sakit yang entah mengapa ikut membuatku sakit.

Lalu kau memilih ntuk tak mengajakku bicara meski kita sama-sama bermain melempar kata dan kelicikan kita masing-masing bertama saudara-saudari kita. Malam semakin larut saja dan aku gelisah memikirkan jalan pulang malam itu. Tidak masalah, hanya saja aku tak ingin terjebak dipekarangan orang lain malam itu. Saat itu aku menemukan dirimu bersama seseorang yang kau percaya sejak lama itu, bercerita mengenai kegundahanmu malam itu. Sedikit banyak aku bisa membaca gerak bibirmu yang terbata-bata bercerita tentang ganjalanmu selama berhari-hari ini. Entah mengapa aku sedikit iri kepada seseorang yang kau ceritai itu, hingga aku bertanya dalam hati, apakah kau tak cukup percaya kepadaku untuk menyimpan kegundahanmu itu?

Kawan, ketika kau sore itu pun pergi menuju tanah perantauan, aku mendoakan kebahagiaanmu di sana dan juga berharap agar ketika kau kembali ke tanah tempat kau dibesarkan, kau sudah bisa mempercayaiku, dan tentu saja, dengan senang hati aku akan mendengarkan segala pemikiranmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar