Jumat, 21 Oktober 2011

Rahasia Hati

Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah.



Ada banyak hal yang tak perlu diucapkan untuk dapat dipahami. Ada banyak hal yang tetap tak bisa diucapkan meski sudah berusaha keras untuk menyampaikannya. Ada banyak hal yang tetap tak dapat dimengerti meski telah dengan jelas diucapkan.

Aku tak pernah tahu, cara yang paling tepat untuk menyampaikannya kepadamu. Ya, tak pernah ada kesempatan sedikit pun sekarang, padahal ketika dulu aku tak ingin menyampaikannya, ada begitu banyak kesempatan. Dan pada akhirnya, seperti yang sudah-sudah, aku menyerah untuk mengatakannya kepadamu.

Rabu, 05 Oktober 2011

Bersamamu ( atau Tanpamu )

Pernah terpikirkan olehku, aku ingin mencoba berbagai hal baru bersamamu. Sepertinya akan terasa menyenangkan karena ada kau.

Maaf, jikalau akhir-akhir ini kata-kataku terlalu menyebalkan untuk kau dengar. Aku hanya sedang marah dan kecewa terhadap diriku sendiri, juga kau. Sudah aku utarakan hal itu, meski dengan kalimat yang tak lengkap. Tapi kau tak juga mengerti, atau pura-pura tak mengerti? Sudahlah, toh semua itu telah berlalu jauh-jauh hari.

Kuputuskan saat itu untuk mencari kontemplasi ke penjuru negeri karena ku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan agar kau mengerti. Deburan ombak hanya mengacaukan hatiku, berbicara kepada bulan pun hanya akan memperburuk suasana, berbisik kepada angin hanya akan menyebarkan keputusasaanku ini kepadamu.

Aku terus berlari di belakang kereta api, menyusuri pematang sawah, merimba belantara, bertemu senja, lalu mendaki bersama purnama dan juga peta perbintangan. Sejenak terhenti di sebuah jurang dan terpikirkan, apakah aku harus terjun ke bawah sana agar kau mengerti? Kupikir kebodohan itu tak juga sampai di sana saja. Ketika puncak malam aku muncak di atas horizon, aku tertidur dalam ketak mengertian dan pencarian akan jawaban pertanyaan-pertanyaanmu. Mungkin malam itu, Jibril turun ke bumi dan memberiku pencerahan, tentang kau dan aku, tentang jawaban atas pertanyaanmu, tentang apa yang aku inginkan darimu. Hingga ketika matahari berada di garis batas langit, aku terjatuh berlutut dan tersadar oleh sengat dingin pagi buta. Kulihat ada kau diujung sana, ya, di batas horizon itu. Dan aku pun tersenyum, karena aku telah menemukan jawaban itu.

Hei, jikalau ternyata pada akhirnya aku memutuskan untuk tak berlari bersamamu, maka jadilah engkau dewasa. Toh terpikirkan olehku, ada banyak hal besar yang belum aku dan kau lakukan, jadi, mengapa aku dan kau harus merisaukan masalah kecil tentang perasaan kita yang aku dan kau juga tahu bagaimana? Ya, jadilah, dewasa kawan, seperti saat kau katakan kepadaku, kalau kau sudah dewasa daripada aku.