Selasa, 20 Desember 2011

Distopia

Hari yang aneh.*

Hari itu sungguh cerah, langit biru tanpa awan setitik pun, dan entah mengapa aku sungguh tak memiliki suatu hal yang harus dikerjakan. Aku bosan berdiam diri dan memutukan untuk berkeliling kota. Sepanjang jalan, tak ada suatu hal pun yang terlintas dipikiranku, otakku sungguh kosong, udara pun tak ada. Tanpa sadar sepedaku melaju ke arah halaman depan rumahmu. Jalanan lengang, aku bisa merasakan terik matahari yang menyengat tengkukku. Aneh, tapi aku sama sekali tak berusaha berbalik atau apa, hanya terus mengayuh hingga aku benar-benar berada di jalan yang sering kau lewati dulu.

Sepanjang jalan aku berdoa kepada tuhan agar aku tak bertemu denganmu, karena sungguh, aku hanya berniat jalan-jalan mencari udara segar siang itu. Jalanan di depanku terasa lebih panjang dari biasanya. Waktu seolah berutar lebih lambat sepuluh kali. Tapi kali itu aku benar-benar bisa menikmati hal-hal yang sering kali kau lihat ketika pulang. Aku berpikir, ada bagusnya juga aku bersepeda siang itu.

Jalanan mulai menanjak, aku hampir-hampir kelelahan. Ketika mendongak dan menatap puncak jalan itu, aku melihatmu, berlari ke arah sebalikku. Aku mengumpat dalam hati, kenapa aku harus bertemud denganmu kali itu. Aku menunduk ketika sudah dekat denganmu, dan berdoa kepada tuhan semoga kau tak melihatku. Dan sepertinya doaku yang itu terkabul. Aku menoleh ke belakang ketika kau sudah berlalu, dan mendapati dirimu berlari sekuat tenaga entah melarikan diri dari apa. Aku mengayuh sepedaku sekuat tenaga, membuat jarak kita semakin jauh.

Tak lama, aku sampai di depan halaman rumahmu yang sepi. Rumah-rumah di samping rumahmu juga sepi, kosong malah. Aku mulai bertanya-tanya, kemana semua orang pergi. Pagar halaman rumahmu sedikit terbuka. Aku ingin masuk dan memastikan ada orang di rumahmu itu atau tidak, tetapi sepertinya malaikat di otakku berbisik agar aku tidak masuk. Dan aku menuruti saja perkataan malaikat itu. Aku kembali menaiki sepedaku, terdiam sejenak lalu kembali mengayuh sepedaku, pulang.

Hari itu, sungguh, aku sedikit menyesal karena pergi ke depan rumahmu.




* Hari kebalikan