Senin, 08 Oktober 2012

Bo(u)nd(ary)

The bo(u)nd(ary) that times created, the bo(u)nd(ary) that we call fri-End.
A big familly hapilly (n)ever after.

Episode (Api)


Sebuah september, tahun 2012

Bapa, biyung, berbekal sekarung rindu yang kutabung di kota aku pulang

Di depan pagar, kudijemput abu,
rumah kayu itu terapung di antara bara,
tetangga layaknya semut yang diganggu sarangnya,
sibuk bisik kasak kusuk busuk tak membahu

ada api bapa, menghanguskan mataku yang digenangi jelaga,
ada api biyung, membawa darah dagingmu melambung,
terhuyung kujatuh  di atas lutut yang keropos
tak ada sisa yang tertinggal diantara jelaga, mata bara, dan jilat api

lantas kini mengaduh kepada siapa aku? Kau yang disusul mereka, bapa biyung, tentu tak tahu

Senin, 27 Agustus 2012

Rumahmu (Medan Perang)


Berkali-kali, sudah tahu ranjau tapi diinjak pula.

Rumahmu adalah ladang ranjau bagiku. Meleset satu senti saja, ranjau yang kau tanam itu akan menghancurkanku. Selalu kutanyakan kepadamu mengapa kau pasang ranjau-ranjau itu di halaman rumahmu, ruang tamu, dan kamarmu. Kau bilang supaya suasana jadi meriah akibat letusan-letusan ranjau. Sepertinya kau memang sudah gila. Tapi mungkin aku lah yang lebih gila, nekad datang kerumahmu meski tahu di mejamu terhidang ranjau untukku. Aku hanya bisa berbekal apa? Stategi mungkin. Tapi kau selalu bisa menghancurkanku dengan kata-kata yang terucap dari mulutku. Ah, apa mungkin kau telah menanam ranjau di mulutku.

Lalu apa maumu sebenarnya? Menghancurkanku hingga jadi debu? Lantas apa yang kau terima? Medali kebesaran sebagai pahlawan perang? Bah, katakan saja kau tak sudi membiarkanku sedikit tenang bertandang ke rumahmu.

Minggu, 26 Agustus 2012

Muka


Kupuji dirimu yang pandai betul melipat muka. Ada belasan ekspresi yang kau ungah dalam sebuah topeng. Hendak kau apakan semua itu? Kau jual katamu. Aku masih menatapi punggungmu yang mengucurkan peluh diantara usahamu menata topeng-topeng itu. Aku akan beli satu buatku bulan depan.

Ambilah satu yang kau mau.

Aku mengeleng. Aku mau yang baru, yang tak ada jejak tangis di sudut matanya, yang tak ada kerut duka di setiap lekuknya, yang tak ada derita di ujung permukaannya.

Kau gila!

Aku tertawa. Ah, bilang saja kau tak bisa membuatnya.

Jumat, 24 Agustus 2012

Mudik


Senja tadi, aku baru sadar, kau telah kembali pulang kepadaku, kawan. Salamku padamu, semoga sejahtera menyertaimu. Amin.

Tikar hanya sejengkal, bulan belum bulat karena ini bukan tanggal dengan angka sakral itu.
Lalu bagaimana kabarmu?
Baik. Sebaik minggu-minggu lalu.
Ah, kau benar, kita memang sudah sering berjumpa. Tapi mengapa kali ini seperti selama sebelumnya?

Ada yang berbeda dari wajahmu yang sudah menua itu, rambutmu yang tak lagi sama dengan dulu, terutama pikiranmu yang kacau saat terakhir kali kita bertemu. Tapi aneh, aku  merasa, melihat dirimu yang bertahun-tahun lalu?

Ah, kawan, aku rindu kepada dirimu yang itu! Mari bersulang, perjamuan baru akan diadakan.

Senin, 20 Agustus 2012

Tentang Rasa


(sebuah tulisan lama, di sambung di ujung pagi)

Tentang proses, tentang kata kerja, tentang kata sifat, tentang kata benda.

Sejauh mana rasa yang kau pendam, sejauh proses kata itu bekerja kepada hatimu, sejauh kata benda itu menghantuimu tiap malam.

‘Lupakan, hapus, hilangkan, pupus, bersihkan!’ kataku. Tapi kau memilih bungkam menyimpannya dalam diam. Memilih jadi orang gila yang tertawa bahagia dan lalu menangis lara di saat bersamaan.

Ah, coba katakan kepadaku, apa hebatnya satu kata itu? Mengapa begitu kau agungkan ia layaknya Tuhan-mu?

Minggu, 12 Agustus 2012

Main Drama


Peran apa di sandiwara mana yang sedang kau mainkan?

Ps: Tiap tahun ada-ada saja pertunjukan. Aku heran, apakah ini salah satu  cara Tuhan membuat satu sama lain terhibur dengan tontonan segar?

Hidangan malam ini, full course. Hors d’oeuvre-nya adalah satu parsel manna, pesanan dari sang putri. Hidangan utamanya didatangkan dari Timur jauh, dibakar oleh koki yang saking ahlinya, jadi sangat berlimpah. Ada tempe tahu dan kecap manis, yang konon kedelainya didatangkan dari luar negeri. Ada sambal manis dan pedas yang saking bersemangat dalam pembuatannya, semuanya jadi rasa pedas. Dessert-nya, lagi-lagi salah satu rangkaian buah manna. Tidak ada yang meragukan, bahwa pertemuan besar-besaran itu memang hanya bisa diadakan jikalau semua anggotanya membayar pajak. Apakah selamanya pertemuan seperti ini hanya akan ada jikalau uang terkumpul?

Jamuan sudah habis, karpet digelar,  layar terangkat. Lalu kau muncul dengan topengmu itu, bak seorang pahlawan kesiangan. Lalu kau mulai bersandiwara. Apakah lucu? Apakah menarik? Apakah mengharukan? Aku tak peduli! Sungguh, baik padamu, pada topengmu, atau pada sandiwaramu itu. Lalu, sejak kapan kau jadi pandai betul bersandiwara seperti ini, kawan? Sudah kesenangan main drama rupanya ya. Tapi sepertinya orang-orang kurang tontonan dan jadi terbawa suasana, tertawa bahak, lalu haru biru.

Lalu kau menarikku naik ke panggung dan semua orang bersorak senang. Kau menatapku dengan pandangan menantang. Kugulung kemejaku. Oke, kuterima tantanganmu. Kupasang topengku, kubungkam mulutku, kugerakkan tangan dan kakiku, memasang kuda-kuda. Yak! Ayo kita main pantomim.

Senin, 06 Agustus 2012

Dalam Sabar


kepada Caci, semoga mimpi indah malam ini


Akan kunanti dalam diam, sampai mulutmu redam.
Akan kutunggu dalam mangu, hingga kata-katamu bisu.
hingga merah jadi pudar,
hingga amarah jadi pendar

Lalu, hanya tinggal aku, kau, Caci
dan kata-kataku yan belum sempat kumaki padamu

Senin, 23 Juli 2012

Kontraversi

Dan bila ada orang yang ingin tua bersamamu, itulah aku.


(1)
Anggap saja, angan-angan menjadi tua bersama seseorang yang ditakdirkan Sang Pemilik Hidup adalah ujung perjalanan yang tiada batas ini, sekaligus sebagai garis start untuk berlari bersama orang itu dalam lomba lari tiga kaki. Kuanggap kalimat itu telah tertanam dikepalamu yang mulai lebat oleh uban. Aku tahu benar rasanya menyukai seseorang sepertimu saat ini. Ada banyak laki-laki sepertimu, yang kisahnya digantungkan oleh sehelai benang merah kasat mata yang ujungnya, tentu saja, bukan kepada wanita yang membuatmu berpuasa itu.

Katakan padaku, sejak kapan kau menyukai putri Maria itu? 

Aku cukup pandai ilmu rajah tangan dan hati untuk bisa membaca matamu. Semua kaca yang kau hujamkan diulu hatimu itu membuatku ngeri dengan dirimu, sekaligus iri dengan anak Maria yang kau cintai itu. Apakah ia tahu paku yang sudah berkarat di hatimu itu akan kau ajak berlari? Aku ingatkan kepadamu, cucu Adam dan Hawa, kau akan mati jika tetap nekat berlari dengan semua pecahan kaca dan paku yang tertancap dihatimu. Hatimu akan koyak, hancur berkeping-keping. Apakah ada yang mau menerima hatimu setelah kau dengan begitu keji melukai perasaanmu itu?

Bodoh kalau boleh kau kumaki. Kenapa tak kau terjang saja pagar depan rumah Maria itu? Jelas-jelas saja matamu merindu sendu haru biru apapun itu. Jendela kamar putrinya terbuka menunggumu, tapi kau bilang, hatimu ciut oleh luka merah mengucurkan darah.

Aduh, bodohnya kau, hei cucu Adam dan Hawa!


(2)
Menjadi tua bersama seorang yang dicintai dengan tulus dari awal mengenal percintaan adalah kenaifan manusia yang paling utama. Katakan saja, bagaimana kau bisa tahu orang yang benar-benar Ia takdirkan untukmu kalau kau tak berusaha mencari? Begitu kata orang, yang katanya, sudah berpengalaman dalah usaha pencarian the one and only and forever. Kau pun termakan ucapannya, benar begitu, hei anak perempuan Maria?

Katakan padaku, kenapa kau memendam perasaan yang kau tujukan kepada cucu Adan dan Hawa itu?

Aku cukup tahu dan pandai membaca kata-kata yang tersirat dalam setiap kalimat yang kau ucapkan, serta hafal betul isyarat tubuh dua orang manusia yang dimabuk perasaan, tapi sekuat tenaga membendungnya agar tak membanjiri wajah. Apakah merencanakan hidup bersama anak domba itu membuatmu bahagia? Tak usah kau jawab, biar aku saja yang mentranslatekan bahasa matamu. Kau tak bahagia dan senantiasa merindukan cucu Adam dan Hawa itu, sedang kau tahu sendiri bukan, ia sudah bukan seseorang yang kau kenal dulu. Ada tanggung jawab besar yang ia panggul. Dan kau takut karenanya.
Bodoh benar kau ini! Ah, banyak sekali aku mengatai orang bodoh, tapi sudahlah, kau memang bodoh. Kenapa tak kabur saja dari jendela itu? Hei lihat, cucu Adam dan Hawa itu sedang gentar di depan pagar rumahmu. Lepaskan pasungmu, lompat dari jendela itu lalu kabur bersamanya. Aku jamin, kebahagiaan yang tak terkira harganya menantimu. Tapi kau malah memilih diam, atau menunggu cucu Adan dan Hawa itu yang bergerak duluan?

HAHAHAHAHA! Aku tertawa. 

Kau bodoh betul, hei anak perempuan Maria!

Jumat, 15 Juni 2012

Waktu


Sora, sudah lama tak menulis kepadamu. Maafkan aku yang tak pernah jujur pada diri sendiri ini.



Ini sudah juni, sora. Hampir sewindu sejak saat itu. Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja. Aku hanya iseng menulis ini meski tak pernah aku tujukan kepadamu. Masih kuingat dengan jelas, matahari sore itu, daun-daun mahoni yang berguguran saat itu, hutan jati itu, rerumputan yang tersapu angin itu. Oktober, ya, oktober kala itu. Waktu berlalu, rumah itu sedikit berubah, pagarnya kini dicat jingga oleh pamanmu, tapi aspal masih sama hitam, bunga-bunga masih bermekaran pada musimnya, aroma semangka yang menguap ketika penghujan masih sama. Februari. Kita lama-lama menua, Sora. Langit masih biru sora, kemarau semakin panjang saja, daun-daun mahoni rontok pada waktunya, lalu April. Saat itu melihatmu saja aku sedikit bahagia. Kau ingat tentang surat keempat yang aku alamatkan kepadamu? Purnama masih lama, zodiak bertambah jadi tigabelas, angka enambelas itu tak lama lagi, bahkan aku belum beranjak dari tempatku. September. Hujan datang seperti jadwalnya, awan-awan berarakan, waktu berlalu lalu kau tumbuh sendiri. Januari. Aku bertemu banyak orang, sora, orang-orang yang baik tapi nasibnya malang, ceritanya tak kalah memilukan. Lalu aku ingat kau, Sora. Dengan keberanian yang telah kupupuk berathun-tahun lalu, aku menyapamu tapi kau tak ingat kepadaku, meruntuhkan rasa yang kutanggul tinggi-tinggi. Juli. Ada yang berniat berkelana diangkasa, sedikit terpincut tujuannya itu, aku terhanyut akan permainan yang telah aku buat, tapi ia berkhianat. Masih Juli. Ada gelap yang gemerlapnya begitu menyilaukan mataku, aku sempat buta lalu tau-tau Desember. Aku disidang malam itu, hujan diluar deras karena memang sudah waktunya begitu, aku tak punya pengacara yang siap membela, aku tak siap, gagap. Februari. Aku keluar sangkar hari itu, mecari jawaban meski kemudian aku mencaci diriku yang berbuat demikian. Jawaban yang kucari sudah ketemu, tapi aku tertangkap, siap-siap saja pada peperangan yang akan datang. Juli. Waktuku tinggal satu tahun sebelum usia dimana kau akan menyebutku dewasa, kuputuskan meletakkan penat lalu menengok cakrawala di katulistiwa tempatmu berada. Hei, apakan melihat matahari terbit sebegitu indahnya di sana, Sora? Oktober. Aku lipa hari lahirmu, sora. Maaf saja tak berkirim surat karena aku terlampau sibuk kini, sibuk membereskan hati. Tapi mengapa ada begitu banyak penyesalan karena kesalahan masa lalu?



Waktu ternyata berlalu cepat sekali, ya. Lihat, sudah berapa lama sejak pertemuan kita. Tinggal menghitung hari hingga penghujung kemarau lalu aku akan tumbuh jadi manusia yang menyebalkan. Dewasa itu sulit, Sora. Tapi aku tak ingin menua, tak ingin terlalu bermasalah dengan rasa. Hei sora, aku akan beli topeng baru di bulan itu. Topeng yang paling bagus untuk menyembunyikan kata-kata.



Hei sora, bolehkah aku bertanya kepadamu? Apakah menyukai seseorang selalu sesulit ini, sesulit menyukaimu?



Aku tertawa, ah, lupakan saja pertanyaanku barusan.

Sabtu, 09 Juni 2012

Genap

9+6+2+0+1+2


Ini Juni tapi semesta berkehendak hujan. Lintasan jadi becek karena banjir. November masih empat bulan lagi tapi aku tak sabah sampai tanggal 9. Ah, bodoh, ini sudah tanggal 9.

Mari kita berhenti sejenak dari lari yang tak jelas ujungnya ini. Aku tegaskan kepadamu, lembar surat ini akan jadi yang terakhir seperti catatan kecilmu, desember. Berlari itu susah, sesusah mengawalinya. Jadi, sudah kau putuskan hendak kemana kau? Aku sendiri tak tahu, entahlah, hanya berlari sesuka hati saja. Hei, sudah aku rumuskan jalur larimu, y=x+1. Kupikir belajar matematika ada juga gunanya. Lalu kuhitung lagi lintasanku, y=2(x+1), mirip ya? Tentu, tapi ternyata kedua kurva fungsi itu hanya sekali saja bertemu, titik (-1,0).

Kupukir, aku dan kau adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang kuperbuat tapi malah kau yang harus menanggung cacat sejarah itu. Aku minta maaf tapi kupikir sekarang permintaan maafku tidak berguna lagi. Kadang memang ada bekas yang tak bisa dihilangkan dan hanya bisa ditutupi. Maka kini hentikan larimu jika kau mau. Aku sudah tak peduli dengan aturan yang ada. Aku hanya ingin lari meski aku belum memutuskan untuk siapa dan untuk apa aku berlari. Jadi kurasa kita impas kali ini.

kalau kita bertemu lagi, biarkan bekas itu tetap membekas karena memang takdirnya, tak usah ditutupi kalau kau memang tak malu karena aku sudah tak peduli apapun itu.


Bersedia. Siap. Yak!!!!

Rabu, 23 Mei 2012

Seribu Muka

Aku sudah lama mengamatimu, gerak-gerikmu, hingga membandingkannya dengan orang lain di sekelilingmu, lantas aku simpulkan bahwa kau melipat lidahmu. Topeng di wajahmu itu sudah berganti, aku tak mengenalinya lagi. Terlalu banyak senyum dan tawa untuk menutupi hatimu, pikiranmu tentang orang itu. Anggap saja ia adalah siluet, sosok dengan background sorot cahaya, yang bahkan tak pernah bisa dilihat sosoknya meski aku menyipitkan mata.

Kupikir aku tahu apa yang kau sembunyikan, jelas sekali dari gerak matamu. Bahkan dalam jarak sedekat itu, kau diam, berbicara kepada tali sepatu yang lupa kau ikat. Sesekali kau meliriknya, seolah takut terhadap silau cahaya. Ekspresimu masih sama, datar. Tapi sudut bibirmu tertawa. Ah, tak salah lagi, kau memang pandai bersandiwara. Aku jadi ingin menertawakanmu, tapi aku pura-pura diam, sepertimu, meski bibirku mulai berdarah karena sengaja kugigit agar aku tak berganti muka.

Lalu siluet itu berjalan memutar, jarakmu dan sosok itu semakin dekat tapi kau masih saja diam, sibuk mengamati sepatumu. Kulihat tak ada yang begitu menarik dari sepatumu, kecuali talinya yang lupa kau ikat. Siluet itu semakin dekat, lalu duduk dengan jarak setengah hasta darimu, tapi kulihat mukamu masih saja sama. Badanku panas dingin menahan detak jantungku sendiri, seolah aku takut sosok itu akan mendengar detak jantungmu yang seperti genderang.

Sosok itu berbicara sesuatu, entah apa, aku tak begitu mendengar karena sibuk mengamatimu. Kau mendongak sejenak karena ucapannya itu, lalu tertunduk lagi, menatap kerikil diujung sepatumu. Hei, apakah sepatumu sebegitu menariknya? Mukamu masih datar, tapi mulai ada semburat warna merah dipipimu dan aku bisa melihatnya dengan jelas, kau mencoba menahan diri untuk tersenyum. Aku mulai keringat dingin, merasa geli akan perilakumu itu. Siluet itu tiba-tiba menoleh menatapmu, mengajakmu berbicara entah apa. Kau hanya mendongak sebenar lalu tertunduk lagi. Kalau aku bisa aku ingin membuang sepatumu yang kupikir tak menarik itu agar kau tak punya sesuatu untuk melarikan pandanganmu itu. Kau mulai menangangguk, entah karena apa. Siluet itu mengajakmu bicara. Lalu kau menatapnya, dan dengan gerakan yang sangat lembut, kau tersenyum.

Ah, sial! Sepertinya kau memang sedang bersandiwara pura-pura tak tahu apa yang sedang kau rasakan itu!

Kamis, 10 Mei 2012

Tentang Perihal


kepada Antares


Di ujung cakrawala ada seiris keju,
yang tak habis kau gigit, segelas ronde,
yang legitnya menggoda, dan sebatang ampas
rokok yang pahit
Kau tawari mei, tapi ia sedang sakit, lalu aku.
Barang secuil rasa kusimpan saja buat
menyahur piutangmu

Di ujung kala ada selembar kertas,
yang sepertinya lama kau pingit,
kau ulurkan kepadaku, baunya
seperti parit depan rumahmu.
Kau bilang, kau mau memperpanjang kontrak,
di sana tertulis : Aku mencintaimu, tertanda aku dan kau

Lantas aku bangkit. Kali ini aku akan menagih hutangmu kepadaku

Percakapan I



ada sepotong keju menggantung di luar jendelamu. Lalu kau
mengirimkan pesan kepadaku, bertanya seolah aku
kamus besar bahasa Indonesia maha tahu
kau, Apa itu aksara?
aku lama diam, tidur, bangun, duduk, lantas bediri. Lalu antares
berbisik kepadaku, adalah cara paling sederhana
yang dipergunakan manusia untuk mengeja rasa.

Senin, 07 Mei 2012

Celah


Tak ada yang salah. Semua jadi lebih mudah daripada dulu. Semuanya jauh lebih menyenangkan daripada dulu. Semuanya jadi lebih sederhana daripada dulu. Tapi, mengapa masih saja ada hal yang terasa kurang?

Lihat, langit masih di atas sana, biru seperti biasanya. Awan masih berarakan, putih abu-abu seperti dulu. Pepohonan masih saja rindang, kehijauan seperti pekarangan. Udara masih mengambang, tak terlihat seperti kodratnya. Waktu masih berlalu, terburu-buru mengejar siang dan malam. Tapi, mengapa masih saja ada hal yang terasa kurang?

Dengar, burung masih berkicau, riuh diantara dengkuran hari. Angin masih berdesau, mengendap-endap main petak umpet. Air masih gemericik, meretas celah untuk dilalui. Jam masih berdentang, detik-detiknya mengelilingi lapangan. Tapi, mengapa masih saja ada hal yang terasa kurang?


Kini rasakan yang telah tiada. Mungkinkah ini celah yang perlu terpenuhi itu?

Rahasia-rahasia III


Rahasia-rahasia III

Ada sepasang mata yang sedari tadi curi pandang kearahmu,
Tapi kau tak tahu
Ada sepasang kaki yang sedari tadi berjingkat mendekatimu,
Tapi kau tak tahu

Ada seseorang yang sedari tadi jatuh hati kepadamu,
Tapi kau tak tahu

Topeng


Hari yang aneh.*) Ketika aku bangun dari tidurku, aku sudah berada di tempat ini, sebuah halte bus tua berwarna biru.

Hari terik sekali, matahari bersinar terang di atas sana, seolah tak memberikan ampun bagi tengkuk-tengkuk orang yang lalu lalang di jalanan. Langit biru sekali, dengan awan stratus yang tipis, memberikan efek surgawi. Sejenak aku termenung menatap langit, hingga dikagetkan oleh suara rem bus yang berhenti di depanku. Pintu bus itu terbuka, dan keluarlah serombongan laki-laki dan wanita bertopeng dengan kostum seperti akan berparade. Bus itu lewat begitu saja, tak menanyakan aku ingin naik atau tidak.

Lantas orang-orang bertopeng dan kostum aneh itu beriringan menyeberang jalan, tanpa sadar aku mengikutinya karena aku penasaran. Orang-orang itu berbicara dengan bahasa yang tak kupahami meski ada beberapa kata yang aku kenal. Agaknya, mereka tak sadar akan keberadaanku yang mengikuti mereka.

Setelah berjalan agak lama, aku sampai di sebuah kota aneh, semua orang di sana memakai topeng dan kostum, dan mereka lagi-lagi berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti. Orang-orang yang aku ikuti itu terpecah belah menuju tempat yang berbeda, dan aku hanya sendiri saja di depan etalase toko yang memajang berbagai topeng. Karena senggang, kuputuskan berjalan-jalan di kota itu.

Seperti kataku tadi, kota itu aneh, sangat aneh malah. Ada banyak orang berpakaian aneh, bertopeng dengan topeng yang aneh, dan berbicara dengan bahasa yang aneh. Di sepanjang jalan itu aku bisa mencium wangi pahit dan manis, wangi cokelat dan vanilla. Kurasa, di kota itu sedang merayakan sebuah festival, dan di ujuang jalan ini ada sesuatu yang menungguku. Karena terlalu bersemangat, jalanku kupercepat, lambat laun karena tak sabar, aku pun berlari. Jalanan mulai menanjak, sepertinya menuju sebuah bukit yang lumayan tinggi puncaknya.

Semakin jauh, aku melihat orang-orang bertopeng itu berpasang-pasangan, berdansa di tepi sebuah toko dengan musik terdengar dari sebuah tape recorder. Aku juga melihat anak-anak kecil bertopeng berlarian, pasangan kakek-nenek bertopeng yang kelakuannya membuat wajahku panas karena malu melihat mereka, dan segerombolan anak-anak muda bertopeng yang riang gembira bercanda bersama.

Ada apa dengan mereka? Mengapa bisa begitu gembira?

Tanpa ku sadari, seseorang bertopeng menarikku mengajakku menari. Tapi aku diam, pusing dengan keramaian ini. Semua orang terus menari, aku linglung melihat kesana kemari, tapi seseorang itu menahanku agar tetap menari. Semua orang asing bertopeng ini terasa janggal, lalu aku pun berlari meninggalkan mereka, terus mendaki puncak bukit. Orang-orang bertopeng semakin jarang, lalu aku terhenti.

Di puncak bukit itu ada sebuah danau, dan aku terduduk di tepinya, menelangkupkan tanganku untuk mencuci muka. Kupandangi wajah yang tercermin di sana. Ada aku yang mengenakan topeng noh yang tersenyum janggal. Aku menengok kiri kanan dan semua orang bertopeng itu masih lalu lalang. Aku lalu kembali berkaca pada danau itu. Ada aku tanpa topeng itu.



*) seharusnya dipostkan pada tanggal 14 Februari 2012

Jumat, 04 Mei 2012

Rahasia-rahasia II

ada sungai yang mengalir dari kaki jendelamu malam ini
di ujungnya ada kau, termangu dibalik kelam rambutmu
ada sungai yang mengalir dari celah jari tanganmu kali ini
di ujungnya ada sepasang mata, sibuk berkaca pada jarimu


April berdiri diujung pagi, menemaniku ronda,
membikin perahu kata-kata yang tak pernah kulabuhkan di ujung jendelamu

Selasa, 01 Mei 2012

Rahasia-rahasia I

Ada sepasang mata yang kupandangi,
di dalamnya tercermin bayangmu, gelap.
Ada pecahan kaca yang memantulkan cahaya,
dikelopaknya tergenang samudra, luap.

Adakah kau tahu bahwa aku menunggumu memalingkan wajahmu itu kepadaku?

Jumat, 30 Maret 2012

Kaktus-kaktus

Adakah kau tahu, bahwa yang kau tuliskan itu adalah kutukan seumur hidup untuk semua orang yang tertorehkan namanya di sana?

Anggap saja kau tak tahu kawan. Tapi aku akan berpura-pura tak peduli dan mengatakannya kepadamu. Baru kapan lalu angin berbisik kepadaku, agar jangan menggores namaku hingga tertutup oleh getah kaktus yang mengeras itu. Kupikir rasanya tak adil melihat tulisan tanganmu itu menggoyahkanku, aku ingin menghempasmu seperti kau menghempaskanku dengan olok-olokan itu. Anggap saja begitu, ini hanya balas dendamku kepadamu.

Aku terangkan kepadamu. Racun-racun kaktus itu telah menjangkitku dan kau, duri-durinya tajam menghujam perasaan setiap orang, mencabiknya menjadi berkeping-keping, lepas dari tempatnya. Kau salah kira bahwa batang-batang itu mampu menyimpan rahasia seperti halnya pohon mangga. Rahasia itu malah jadi kutukan bagimu, bagiku, juga orang itu. Banyak orang telah terjebak kawan, salah berharap bahwa yang kau ceritakan itu akan jadi cerita masa muda yang berakhir bahagia ibarat dongeng pengantar tidur.

Kau telah tertipu, kawan. Kaktus-kaktus itu mengutukmu, dan semua orang yang ada di sana. Kau hanya tak sadar karena kau tak pernah menilik kembali rahasia yang kau titipkan itu. Tapi terimakasih kawan, kutukan itu menyelamatkan hidupku.

Jumat, 09 Maret 2012

Rahasia Kaktus

Ada hal-hal yang tak bisa terceritakan meski kepada seorang kawan 7 tahunan sekalipun, apakali kepada seseorang yang baru-baru ini muncul 5 tahun belakangan.

Bisik-bisik, kasak-kusuk di belakang bukan hal yang jarang kau lakukan kawan. Bahkan meski tak kau ceritakan kepadaku pun pasti aku akan dengan mudah menebak apa yang jadi bahan pembicaraanmu itu. Kadang aku berpikir kenama semua cerita itu akan pergi setelah kau ceritakan kepada orang lain. Kertas kah? Laut kah? atau langit? Tak pasti. Hanya saja, pasti cerita-cerita itu akan tercetak di kedua bagian otakmu yang terlalu pintar itu.
Lantas, kemana semua certai yang tak kau ceritakan itu pergi?

Bertahun-tahun, aku yakin kau pasrahkan semua cerita itu kepada seseorang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, langit pun tak kau kasih tahu begitu saja. Angin pun tidak, hanya menggelitik telingaku ketika berkata ia tahu sesuatu.

Ada sebuah tempat, di dalam hutan belantara pepohonan perdu. Di sana terdapat lempeng-lempeng cerita-ceritamu itu. Lempeng-lempeng itu hidup bertahun-tahun, melindungi ceritamu itu dengan duri-duri damn. Termasuk konspirasi yang kau tulis tentangku.

Tapi maaf saja kawan, kau tahu dirimu cukup licik untuk mengancamku. Hanya saja apakah kau tak ingat? Aku temanmu, meski kau tak tahu, aku sama liciknya denganmu. Dan ketika aku menemukan naskah konspirasi itu, maaf saja kalau aku menggoresnya dengan batang pohon terdekat. Kuhilangkan namaku di atas lempeng itu, dan namanya belakangan. Agar kau tahu, aku memang telah lama berhenti.

Rabu, 01 Februari 2012

Sebuah Kursi

Mungkin bohong, jika aku tak pernah melirik kursi itu lagi, kursi yang kau tawarkan itu.


Ini bukan tentang pertarungan siapa yang akan bertahan lari lebih jauh, bukan pula tentang pertarungan siapa yang lebih dulu menaklukkan gunung, bukan pula tentang siapa yang akan menyelami laut lebih dalam. Ini tentang pertarunganku melawan mantra itu, atau malah tentang melarikan diri darimu. Hanya saja, semakin aku melirik kursi itu, rasa-rasanya aku ingin berhenti dan menyerah dalam pelarian ini.

Aku kesal, perlakuan mereka hanya akan membuat kepalamu membesar. Ingin saja terus lari, tapi bahkan aku tak tahu berlari untuk apa. Mungkin untuk diriku sendiri? Orang-orang pasar lalu lalang aku ceritai, tapi yang mereka lakukan hanya menyuruhku untuk kembali menuju kursi itu. Sialan, aku membayangkan kau makin besar kepala. Ah, mungkin berlari pun tak cukup, aku harus bergegas.

Aku lelah. Yang kucari hanya sebuah tempat dimana aku bisa beristirah, tanpa takut orang lain menyuruhku kembali ke kursimu itu. Aku hanya butuh seseorang yang memberikan pembenaran atas lariku ini, bukan seseorang yang terus menawarkan tempat singgah. Ya, kursi itu telah jadi milikmu, aku tak akan meliriknya lagi, karena aku akan mencari kursiku sendiri.

(per)-Teman-(an)

Aku tahu kalau semua hal ini akan terjadi suatu ketika. Entah aku atau kau dulu yang menyadarinya.

Waktu berlalu dan jalur lari kita telah berubah atau bahkan masih sama. Tapi musim yang berganti pun telah jadi kawan dekatmu. Entah kau sadar atau tidak, bahkan aku mulai tak mengenalimu ketika kita tak sengaja bertemu di sebuah kedai kopi tak jauh dari rumahku. Tapi kau tersenyum dan berbicara seperti dirimu yang dulu hingga aku menyimpulkan bahwa aku telah salah, kau masih orang yang kukenal beberapa tahun lalu.

Musim semi tiba dan virus-virus merah jambu merebak mencandui semua orang, termasuk kau. Suatu ketika dipertengahan musim bunga mekar, lagi-lagi aku bertemu denganmu bersama orang yang kau cintai dan mengenalkannya kepadaku sebagai 'virus'. kau mulai berbicara seperti biasanya, tapi ada yang berbeda darimu, entah apa.

Musim kini sedang terik-teriknya. aku milai bertanya-tanya dimana dirimu. aku mulai mengunjungi rumahmu, bertanya kepada ibumu dimana kau sekarang, lantas semua orang menjawab bahwa kau sedang bersama 'virus'mu atau bahkan sedang ke luar kota mengurusi perihal hidupmu kini. Aku kecewa tetapi tetap kembali lain waktu. apa kau tahu kunjungan berulang kali itu berbuah apa? Tidak kawan, tidak ada.

aku tahu bahwa kini semua orang sibuk dengan 'virus-virus' itu kecuali diriku yang sudah diberi antibiotik banyak-banyak saat musim dingin lalu. aku mengerti dan memilih menunggumu di sini. aku masih baik-baik saja. Tapi kawan, menunggu tak mudah ucapanmu yang berjanji akan menemuiku akhir minggu ini. Aku mulai mengirimimu pesan, meninggalkan tumpukan cerita dan undangan di loker depan stasiun milikmu, juga menanyakan kapan kita akan pesta minum teh lagi? Dan seerti kunjunganku, lagi-lagi pesan itu tak kau balas dan kertasku sudah habis untuk kutulisi lagi.

Aku mungkin terlalu berharap kepadamu, tapi kupikir bahkan hubungan di antara kita lebih dari itu. Ya, kupikir kita lebih dari sekedar kebersamaan 3 tahun lamanya. Atau aku salah?

Sekali ini, mungkin yang terakhir, kapan kita akan duduk-duduk di bawah sinar rembulan sambil minum teh dan bertukar kata?

Jumat, 27 Januari 2012

Tanggal Perak

Sora, baik-baik kah kau disana? Aku dengar, binimu kabur membawa hatimu kemarin dulu.

Sora, depan rumahmu yang dekat rumahku itu telah ditumbuhi alang-alang dan anyelir putih. Kursi impor jepara diteras rumahmu juga telah jadi sarang laba-laba ungu. Tidakkah kau tergerak untuk kembali dan membersihkannya?
Maaf Sora, jika ucapanku meracau, lama tak menulis tentangmu membuatku gugup hingga jadi gagap.
Kau tentu sudah hafal luar kepala jikalau ada maksud tersembunyi yang aku harapkan darimu. Maaf, tapi memang seperti ini lah aku.

Aku baru ingat Sora, kalau tanggal perak kemarin adalah hari lahirmu. Pantas saja kemarin itu langit cerah dan begitu indah, hingga takbosan bosan aku memandanginya. Aneh, tapi hari itu aku memang merasakan kejanggalan yang kurang hingga hatiku tak genap. Maaf, tapi kau tahu, aku ini pelupa. Badai matahari menghempaskan ingatan yang satu ini tentangmu.

Sora, mungkin kali inipun aku tak berhak lagi mengirimimu kartu ucapan. Tapi kali ini saja, di tempat ini, biar aku ucapkan.

Selamat hari lahir, Sora!