Rabu, 01 Februari 2012

Sebuah Kursi

Mungkin bohong, jika aku tak pernah melirik kursi itu lagi, kursi yang kau tawarkan itu.


Ini bukan tentang pertarungan siapa yang akan bertahan lari lebih jauh, bukan pula tentang pertarungan siapa yang lebih dulu menaklukkan gunung, bukan pula tentang siapa yang akan menyelami laut lebih dalam. Ini tentang pertarunganku melawan mantra itu, atau malah tentang melarikan diri darimu. Hanya saja, semakin aku melirik kursi itu, rasa-rasanya aku ingin berhenti dan menyerah dalam pelarian ini.

Aku kesal, perlakuan mereka hanya akan membuat kepalamu membesar. Ingin saja terus lari, tapi bahkan aku tak tahu berlari untuk apa. Mungkin untuk diriku sendiri? Orang-orang pasar lalu lalang aku ceritai, tapi yang mereka lakukan hanya menyuruhku untuk kembali menuju kursi itu. Sialan, aku membayangkan kau makin besar kepala. Ah, mungkin berlari pun tak cukup, aku harus bergegas.

Aku lelah. Yang kucari hanya sebuah tempat dimana aku bisa beristirah, tanpa takut orang lain menyuruhku kembali ke kursimu itu. Aku hanya butuh seseorang yang memberikan pembenaran atas lariku ini, bukan seseorang yang terus menawarkan tempat singgah. Ya, kursi itu telah jadi milikmu, aku tak akan meliriknya lagi, karena aku akan mencari kursiku sendiri.

(per)-Teman-(an)

Aku tahu kalau semua hal ini akan terjadi suatu ketika. Entah aku atau kau dulu yang menyadarinya.

Waktu berlalu dan jalur lari kita telah berubah atau bahkan masih sama. Tapi musim yang berganti pun telah jadi kawan dekatmu. Entah kau sadar atau tidak, bahkan aku mulai tak mengenalimu ketika kita tak sengaja bertemu di sebuah kedai kopi tak jauh dari rumahku. Tapi kau tersenyum dan berbicara seperti dirimu yang dulu hingga aku menyimpulkan bahwa aku telah salah, kau masih orang yang kukenal beberapa tahun lalu.

Musim semi tiba dan virus-virus merah jambu merebak mencandui semua orang, termasuk kau. Suatu ketika dipertengahan musim bunga mekar, lagi-lagi aku bertemu denganmu bersama orang yang kau cintai dan mengenalkannya kepadaku sebagai 'virus'. kau mulai berbicara seperti biasanya, tapi ada yang berbeda darimu, entah apa.

Musim kini sedang terik-teriknya. aku milai bertanya-tanya dimana dirimu. aku mulai mengunjungi rumahmu, bertanya kepada ibumu dimana kau sekarang, lantas semua orang menjawab bahwa kau sedang bersama 'virus'mu atau bahkan sedang ke luar kota mengurusi perihal hidupmu kini. Aku kecewa tetapi tetap kembali lain waktu. apa kau tahu kunjungan berulang kali itu berbuah apa? Tidak kawan, tidak ada.

aku tahu bahwa kini semua orang sibuk dengan 'virus-virus' itu kecuali diriku yang sudah diberi antibiotik banyak-banyak saat musim dingin lalu. aku mengerti dan memilih menunggumu di sini. aku masih baik-baik saja. Tapi kawan, menunggu tak mudah ucapanmu yang berjanji akan menemuiku akhir minggu ini. Aku mulai mengirimimu pesan, meninggalkan tumpukan cerita dan undangan di loker depan stasiun milikmu, juga menanyakan kapan kita akan pesta minum teh lagi? Dan seerti kunjunganku, lagi-lagi pesan itu tak kau balas dan kertasku sudah habis untuk kutulisi lagi.

Aku mungkin terlalu berharap kepadamu, tapi kupikir bahkan hubungan di antara kita lebih dari itu. Ya, kupikir kita lebih dari sekedar kebersamaan 3 tahun lamanya. Atau aku salah?

Sekali ini, mungkin yang terakhir, kapan kita akan duduk-duduk di bawah sinar rembulan sambil minum teh dan bertukar kata?