Jumat, 30 Maret 2012

Kaktus-kaktus

Adakah kau tahu, bahwa yang kau tuliskan itu adalah kutukan seumur hidup untuk semua orang yang tertorehkan namanya di sana?

Anggap saja kau tak tahu kawan. Tapi aku akan berpura-pura tak peduli dan mengatakannya kepadamu. Baru kapan lalu angin berbisik kepadaku, agar jangan menggores namaku hingga tertutup oleh getah kaktus yang mengeras itu. Kupikir rasanya tak adil melihat tulisan tanganmu itu menggoyahkanku, aku ingin menghempasmu seperti kau menghempaskanku dengan olok-olokan itu. Anggap saja begitu, ini hanya balas dendamku kepadamu.

Aku terangkan kepadamu. Racun-racun kaktus itu telah menjangkitku dan kau, duri-durinya tajam menghujam perasaan setiap orang, mencabiknya menjadi berkeping-keping, lepas dari tempatnya. Kau salah kira bahwa batang-batang itu mampu menyimpan rahasia seperti halnya pohon mangga. Rahasia itu malah jadi kutukan bagimu, bagiku, juga orang itu. Banyak orang telah terjebak kawan, salah berharap bahwa yang kau ceritakan itu akan jadi cerita masa muda yang berakhir bahagia ibarat dongeng pengantar tidur.

Kau telah tertipu, kawan. Kaktus-kaktus itu mengutukmu, dan semua orang yang ada di sana. Kau hanya tak sadar karena kau tak pernah menilik kembali rahasia yang kau titipkan itu. Tapi terimakasih kawan, kutukan itu menyelamatkan hidupku.

Jumat, 09 Maret 2012

Rahasia Kaktus

Ada hal-hal yang tak bisa terceritakan meski kepada seorang kawan 7 tahunan sekalipun, apakali kepada seseorang yang baru-baru ini muncul 5 tahun belakangan.

Bisik-bisik, kasak-kusuk di belakang bukan hal yang jarang kau lakukan kawan. Bahkan meski tak kau ceritakan kepadaku pun pasti aku akan dengan mudah menebak apa yang jadi bahan pembicaraanmu itu. Kadang aku berpikir kenama semua cerita itu akan pergi setelah kau ceritakan kepada orang lain. Kertas kah? Laut kah? atau langit? Tak pasti. Hanya saja, pasti cerita-cerita itu akan tercetak di kedua bagian otakmu yang terlalu pintar itu.
Lantas, kemana semua certai yang tak kau ceritakan itu pergi?

Bertahun-tahun, aku yakin kau pasrahkan semua cerita itu kepada seseorang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, langit pun tak kau kasih tahu begitu saja. Angin pun tidak, hanya menggelitik telingaku ketika berkata ia tahu sesuatu.

Ada sebuah tempat, di dalam hutan belantara pepohonan perdu. Di sana terdapat lempeng-lempeng cerita-ceritamu itu. Lempeng-lempeng itu hidup bertahun-tahun, melindungi ceritamu itu dengan duri-duri damn. Termasuk konspirasi yang kau tulis tentangku.

Tapi maaf saja kawan, kau tahu dirimu cukup licik untuk mengancamku. Hanya saja apakah kau tak ingat? Aku temanmu, meski kau tak tahu, aku sama liciknya denganmu. Dan ketika aku menemukan naskah konspirasi itu, maaf saja kalau aku menggoresnya dengan batang pohon terdekat. Kuhilangkan namaku di atas lempeng itu, dan namanya belakangan. Agar kau tahu, aku memang telah lama berhenti.