Rabu, 23 Mei 2012

Seribu Muka

Aku sudah lama mengamatimu, gerak-gerikmu, hingga membandingkannya dengan orang lain di sekelilingmu, lantas aku simpulkan bahwa kau melipat lidahmu. Topeng di wajahmu itu sudah berganti, aku tak mengenalinya lagi. Terlalu banyak senyum dan tawa untuk menutupi hatimu, pikiranmu tentang orang itu. Anggap saja ia adalah siluet, sosok dengan background sorot cahaya, yang bahkan tak pernah bisa dilihat sosoknya meski aku menyipitkan mata.

Kupikir aku tahu apa yang kau sembunyikan, jelas sekali dari gerak matamu. Bahkan dalam jarak sedekat itu, kau diam, berbicara kepada tali sepatu yang lupa kau ikat. Sesekali kau meliriknya, seolah takut terhadap silau cahaya. Ekspresimu masih sama, datar. Tapi sudut bibirmu tertawa. Ah, tak salah lagi, kau memang pandai bersandiwara. Aku jadi ingin menertawakanmu, tapi aku pura-pura diam, sepertimu, meski bibirku mulai berdarah karena sengaja kugigit agar aku tak berganti muka.

Lalu siluet itu berjalan memutar, jarakmu dan sosok itu semakin dekat tapi kau masih saja diam, sibuk mengamati sepatumu. Kulihat tak ada yang begitu menarik dari sepatumu, kecuali talinya yang lupa kau ikat. Siluet itu semakin dekat, lalu duduk dengan jarak setengah hasta darimu, tapi kulihat mukamu masih saja sama. Badanku panas dingin menahan detak jantungku sendiri, seolah aku takut sosok itu akan mendengar detak jantungmu yang seperti genderang.

Sosok itu berbicara sesuatu, entah apa, aku tak begitu mendengar karena sibuk mengamatimu. Kau mendongak sejenak karena ucapannya itu, lalu tertunduk lagi, menatap kerikil diujung sepatumu. Hei, apakah sepatumu sebegitu menariknya? Mukamu masih datar, tapi mulai ada semburat warna merah dipipimu dan aku bisa melihatnya dengan jelas, kau mencoba menahan diri untuk tersenyum. Aku mulai keringat dingin, merasa geli akan perilakumu itu. Siluet itu tiba-tiba menoleh menatapmu, mengajakmu berbicara entah apa. Kau hanya mendongak sebenar lalu tertunduk lagi. Kalau aku bisa aku ingin membuang sepatumu yang kupikir tak menarik itu agar kau tak punya sesuatu untuk melarikan pandanganmu itu. Kau mulai menangangguk, entah karena apa. Siluet itu mengajakmu bicara. Lalu kau menatapnya, dan dengan gerakan yang sangat lembut, kau tersenyum.

Ah, sial! Sepertinya kau memang sedang bersandiwara pura-pura tak tahu apa yang sedang kau rasakan itu!

Kamis, 10 Mei 2012

Tentang Perihal


kepada Antares


Di ujung cakrawala ada seiris keju,
yang tak habis kau gigit, segelas ronde,
yang legitnya menggoda, dan sebatang ampas
rokok yang pahit
Kau tawari mei, tapi ia sedang sakit, lalu aku.
Barang secuil rasa kusimpan saja buat
menyahur piutangmu

Di ujung kala ada selembar kertas,
yang sepertinya lama kau pingit,
kau ulurkan kepadaku, baunya
seperti parit depan rumahmu.
Kau bilang, kau mau memperpanjang kontrak,
di sana tertulis : Aku mencintaimu, tertanda aku dan kau

Lantas aku bangkit. Kali ini aku akan menagih hutangmu kepadaku

Percakapan I



ada sepotong keju menggantung di luar jendelamu. Lalu kau
mengirimkan pesan kepadaku, bertanya seolah aku
kamus besar bahasa Indonesia maha tahu
kau, Apa itu aksara?
aku lama diam, tidur, bangun, duduk, lantas bediri. Lalu antares
berbisik kepadaku, adalah cara paling sederhana
yang dipergunakan manusia untuk mengeja rasa.

Senin, 07 Mei 2012

Celah


Tak ada yang salah. Semua jadi lebih mudah daripada dulu. Semuanya jauh lebih menyenangkan daripada dulu. Semuanya jadi lebih sederhana daripada dulu. Tapi, mengapa masih saja ada hal yang terasa kurang?

Lihat, langit masih di atas sana, biru seperti biasanya. Awan masih berarakan, putih abu-abu seperti dulu. Pepohonan masih saja rindang, kehijauan seperti pekarangan. Udara masih mengambang, tak terlihat seperti kodratnya. Waktu masih berlalu, terburu-buru mengejar siang dan malam. Tapi, mengapa masih saja ada hal yang terasa kurang?

Dengar, burung masih berkicau, riuh diantara dengkuran hari. Angin masih berdesau, mengendap-endap main petak umpet. Air masih gemericik, meretas celah untuk dilalui. Jam masih berdentang, detik-detiknya mengelilingi lapangan. Tapi, mengapa masih saja ada hal yang terasa kurang?


Kini rasakan yang telah tiada. Mungkinkah ini celah yang perlu terpenuhi itu?

Rahasia-rahasia III


Rahasia-rahasia III

Ada sepasang mata yang sedari tadi curi pandang kearahmu,
Tapi kau tak tahu
Ada sepasang kaki yang sedari tadi berjingkat mendekatimu,
Tapi kau tak tahu

Ada seseorang yang sedari tadi jatuh hati kepadamu,
Tapi kau tak tahu

Topeng


Hari yang aneh.*) Ketika aku bangun dari tidurku, aku sudah berada di tempat ini, sebuah halte bus tua berwarna biru.

Hari terik sekali, matahari bersinar terang di atas sana, seolah tak memberikan ampun bagi tengkuk-tengkuk orang yang lalu lalang di jalanan. Langit biru sekali, dengan awan stratus yang tipis, memberikan efek surgawi. Sejenak aku termenung menatap langit, hingga dikagetkan oleh suara rem bus yang berhenti di depanku. Pintu bus itu terbuka, dan keluarlah serombongan laki-laki dan wanita bertopeng dengan kostum seperti akan berparade. Bus itu lewat begitu saja, tak menanyakan aku ingin naik atau tidak.

Lantas orang-orang bertopeng dan kostum aneh itu beriringan menyeberang jalan, tanpa sadar aku mengikutinya karena aku penasaran. Orang-orang itu berbicara dengan bahasa yang tak kupahami meski ada beberapa kata yang aku kenal. Agaknya, mereka tak sadar akan keberadaanku yang mengikuti mereka.

Setelah berjalan agak lama, aku sampai di sebuah kota aneh, semua orang di sana memakai topeng dan kostum, dan mereka lagi-lagi berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti. Orang-orang yang aku ikuti itu terpecah belah menuju tempat yang berbeda, dan aku hanya sendiri saja di depan etalase toko yang memajang berbagai topeng. Karena senggang, kuputuskan berjalan-jalan di kota itu.

Seperti kataku tadi, kota itu aneh, sangat aneh malah. Ada banyak orang berpakaian aneh, bertopeng dengan topeng yang aneh, dan berbicara dengan bahasa yang aneh. Di sepanjang jalan itu aku bisa mencium wangi pahit dan manis, wangi cokelat dan vanilla. Kurasa, di kota itu sedang merayakan sebuah festival, dan di ujuang jalan ini ada sesuatu yang menungguku. Karena terlalu bersemangat, jalanku kupercepat, lambat laun karena tak sabar, aku pun berlari. Jalanan mulai menanjak, sepertinya menuju sebuah bukit yang lumayan tinggi puncaknya.

Semakin jauh, aku melihat orang-orang bertopeng itu berpasang-pasangan, berdansa di tepi sebuah toko dengan musik terdengar dari sebuah tape recorder. Aku juga melihat anak-anak kecil bertopeng berlarian, pasangan kakek-nenek bertopeng yang kelakuannya membuat wajahku panas karena malu melihat mereka, dan segerombolan anak-anak muda bertopeng yang riang gembira bercanda bersama.

Ada apa dengan mereka? Mengapa bisa begitu gembira?

Tanpa ku sadari, seseorang bertopeng menarikku mengajakku menari. Tapi aku diam, pusing dengan keramaian ini. Semua orang terus menari, aku linglung melihat kesana kemari, tapi seseorang itu menahanku agar tetap menari. Semua orang asing bertopeng ini terasa janggal, lalu aku pun berlari meninggalkan mereka, terus mendaki puncak bukit. Orang-orang bertopeng semakin jarang, lalu aku terhenti.

Di puncak bukit itu ada sebuah danau, dan aku terduduk di tepinya, menelangkupkan tanganku untuk mencuci muka. Kupandangi wajah yang tercermin di sana. Ada aku yang mengenakan topeng noh yang tersenyum janggal. Aku menengok kiri kanan dan semua orang bertopeng itu masih lalu lalang. Aku lalu kembali berkaca pada danau itu. Ada aku tanpa topeng itu.



*) seharusnya dipostkan pada tanggal 14 Februari 2012

Jumat, 04 Mei 2012

Rahasia-rahasia II

ada sungai yang mengalir dari kaki jendelamu malam ini
di ujungnya ada kau, termangu dibalik kelam rambutmu
ada sungai yang mengalir dari celah jari tanganmu kali ini
di ujungnya ada sepasang mata, sibuk berkaca pada jarimu


April berdiri diujung pagi, menemaniku ronda,
membikin perahu kata-kata yang tak pernah kulabuhkan di ujung jendelamu

Selasa, 01 Mei 2012

Rahasia-rahasia I

Ada sepasang mata yang kupandangi,
di dalamnya tercermin bayangmu, gelap.
Ada pecahan kaca yang memantulkan cahaya,
dikelopaknya tergenang samudra, luap.

Adakah kau tahu bahwa aku menunggumu memalingkan wajahmu itu kepadaku?