Senin, 07 Mei 2012

Topeng


Hari yang aneh.*) Ketika aku bangun dari tidurku, aku sudah berada di tempat ini, sebuah halte bus tua berwarna biru.

Hari terik sekali, matahari bersinar terang di atas sana, seolah tak memberikan ampun bagi tengkuk-tengkuk orang yang lalu lalang di jalanan. Langit biru sekali, dengan awan stratus yang tipis, memberikan efek surgawi. Sejenak aku termenung menatap langit, hingga dikagetkan oleh suara rem bus yang berhenti di depanku. Pintu bus itu terbuka, dan keluarlah serombongan laki-laki dan wanita bertopeng dengan kostum seperti akan berparade. Bus itu lewat begitu saja, tak menanyakan aku ingin naik atau tidak.

Lantas orang-orang bertopeng dan kostum aneh itu beriringan menyeberang jalan, tanpa sadar aku mengikutinya karena aku penasaran. Orang-orang itu berbicara dengan bahasa yang tak kupahami meski ada beberapa kata yang aku kenal. Agaknya, mereka tak sadar akan keberadaanku yang mengikuti mereka.

Setelah berjalan agak lama, aku sampai di sebuah kota aneh, semua orang di sana memakai topeng dan kostum, dan mereka lagi-lagi berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti. Orang-orang yang aku ikuti itu terpecah belah menuju tempat yang berbeda, dan aku hanya sendiri saja di depan etalase toko yang memajang berbagai topeng. Karena senggang, kuputuskan berjalan-jalan di kota itu.

Seperti kataku tadi, kota itu aneh, sangat aneh malah. Ada banyak orang berpakaian aneh, bertopeng dengan topeng yang aneh, dan berbicara dengan bahasa yang aneh. Di sepanjang jalan itu aku bisa mencium wangi pahit dan manis, wangi cokelat dan vanilla. Kurasa, di kota itu sedang merayakan sebuah festival, dan di ujuang jalan ini ada sesuatu yang menungguku. Karena terlalu bersemangat, jalanku kupercepat, lambat laun karena tak sabar, aku pun berlari. Jalanan mulai menanjak, sepertinya menuju sebuah bukit yang lumayan tinggi puncaknya.

Semakin jauh, aku melihat orang-orang bertopeng itu berpasang-pasangan, berdansa di tepi sebuah toko dengan musik terdengar dari sebuah tape recorder. Aku juga melihat anak-anak kecil bertopeng berlarian, pasangan kakek-nenek bertopeng yang kelakuannya membuat wajahku panas karena malu melihat mereka, dan segerombolan anak-anak muda bertopeng yang riang gembira bercanda bersama.

Ada apa dengan mereka? Mengapa bisa begitu gembira?

Tanpa ku sadari, seseorang bertopeng menarikku mengajakku menari. Tapi aku diam, pusing dengan keramaian ini. Semua orang terus menari, aku linglung melihat kesana kemari, tapi seseorang itu menahanku agar tetap menari. Semua orang asing bertopeng ini terasa janggal, lalu aku pun berlari meninggalkan mereka, terus mendaki puncak bukit. Orang-orang bertopeng semakin jarang, lalu aku terhenti.

Di puncak bukit itu ada sebuah danau, dan aku terduduk di tepinya, menelangkupkan tanganku untuk mencuci muka. Kupandangi wajah yang tercermin di sana. Ada aku yang mengenakan topeng noh yang tersenyum janggal. Aku menengok kiri kanan dan semua orang bertopeng itu masih lalu lalang. Aku lalu kembali berkaca pada danau itu. Ada aku tanpa topeng itu.



*) seharusnya dipostkan pada tanggal 14 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar