Jumat, 15 Juni 2012

Waktu


Sora, sudah lama tak menulis kepadamu. Maafkan aku yang tak pernah jujur pada diri sendiri ini.



Ini sudah juni, sora. Hampir sewindu sejak saat itu. Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja. Aku hanya iseng menulis ini meski tak pernah aku tujukan kepadamu. Masih kuingat dengan jelas, matahari sore itu, daun-daun mahoni yang berguguran saat itu, hutan jati itu, rerumputan yang tersapu angin itu. Oktober, ya, oktober kala itu. Waktu berlalu, rumah itu sedikit berubah, pagarnya kini dicat jingga oleh pamanmu, tapi aspal masih sama hitam, bunga-bunga masih bermekaran pada musimnya, aroma semangka yang menguap ketika penghujan masih sama. Februari. Kita lama-lama menua, Sora. Langit masih biru sora, kemarau semakin panjang saja, daun-daun mahoni rontok pada waktunya, lalu April. Saat itu melihatmu saja aku sedikit bahagia. Kau ingat tentang surat keempat yang aku alamatkan kepadamu? Purnama masih lama, zodiak bertambah jadi tigabelas, angka enambelas itu tak lama lagi, bahkan aku belum beranjak dari tempatku. September. Hujan datang seperti jadwalnya, awan-awan berarakan, waktu berlalu lalu kau tumbuh sendiri. Januari. Aku bertemu banyak orang, sora, orang-orang yang baik tapi nasibnya malang, ceritanya tak kalah memilukan. Lalu aku ingat kau, Sora. Dengan keberanian yang telah kupupuk berathun-tahun lalu, aku menyapamu tapi kau tak ingat kepadaku, meruntuhkan rasa yang kutanggul tinggi-tinggi. Juli. Ada yang berniat berkelana diangkasa, sedikit terpincut tujuannya itu, aku terhanyut akan permainan yang telah aku buat, tapi ia berkhianat. Masih Juli. Ada gelap yang gemerlapnya begitu menyilaukan mataku, aku sempat buta lalu tau-tau Desember. Aku disidang malam itu, hujan diluar deras karena memang sudah waktunya begitu, aku tak punya pengacara yang siap membela, aku tak siap, gagap. Februari. Aku keluar sangkar hari itu, mecari jawaban meski kemudian aku mencaci diriku yang berbuat demikian. Jawaban yang kucari sudah ketemu, tapi aku tertangkap, siap-siap saja pada peperangan yang akan datang. Juli. Waktuku tinggal satu tahun sebelum usia dimana kau akan menyebutku dewasa, kuputuskan meletakkan penat lalu menengok cakrawala di katulistiwa tempatmu berada. Hei, apakan melihat matahari terbit sebegitu indahnya di sana, Sora? Oktober. Aku lipa hari lahirmu, sora. Maaf saja tak berkirim surat karena aku terlampau sibuk kini, sibuk membereskan hati. Tapi mengapa ada begitu banyak penyesalan karena kesalahan masa lalu?



Waktu ternyata berlalu cepat sekali, ya. Lihat, sudah berapa lama sejak pertemuan kita. Tinggal menghitung hari hingga penghujung kemarau lalu aku akan tumbuh jadi manusia yang menyebalkan. Dewasa itu sulit, Sora. Tapi aku tak ingin menua, tak ingin terlalu bermasalah dengan rasa. Hei sora, aku akan beli topeng baru di bulan itu. Topeng yang paling bagus untuk menyembunyikan kata-kata.



Hei sora, bolehkah aku bertanya kepadamu? Apakah menyukai seseorang selalu sesulit ini, sesulit menyukaimu?



Aku tertawa, ah, lupakan saja pertanyaanku barusan.

Sabtu, 09 Juni 2012

Genap

9+6+2+0+1+2


Ini Juni tapi semesta berkehendak hujan. Lintasan jadi becek karena banjir. November masih empat bulan lagi tapi aku tak sabah sampai tanggal 9. Ah, bodoh, ini sudah tanggal 9.

Mari kita berhenti sejenak dari lari yang tak jelas ujungnya ini. Aku tegaskan kepadamu, lembar surat ini akan jadi yang terakhir seperti catatan kecilmu, desember. Berlari itu susah, sesusah mengawalinya. Jadi, sudah kau putuskan hendak kemana kau? Aku sendiri tak tahu, entahlah, hanya berlari sesuka hati saja. Hei, sudah aku rumuskan jalur larimu, y=x+1. Kupikir belajar matematika ada juga gunanya. Lalu kuhitung lagi lintasanku, y=2(x+1), mirip ya? Tentu, tapi ternyata kedua kurva fungsi itu hanya sekali saja bertemu, titik (-1,0).

Kupukir, aku dan kau adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang kuperbuat tapi malah kau yang harus menanggung cacat sejarah itu. Aku minta maaf tapi kupikir sekarang permintaan maafku tidak berguna lagi. Kadang memang ada bekas yang tak bisa dihilangkan dan hanya bisa ditutupi. Maka kini hentikan larimu jika kau mau. Aku sudah tak peduli dengan aturan yang ada. Aku hanya ingin lari meski aku belum memutuskan untuk siapa dan untuk apa aku berlari. Jadi kurasa kita impas kali ini.

kalau kita bertemu lagi, biarkan bekas itu tetap membekas karena memang takdirnya, tak usah ditutupi kalau kau memang tak malu karena aku sudah tak peduli apapun itu.


Bersedia. Siap. Yak!!!!