Senin, 23 Juli 2012

Kontraversi

Dan bila ada orang yang ingin tua bersamamu, itulah aku.


(1)
Anggap saja, angan-angan menjadi tua bersama seseorang yang ditakdirkan Sang Pemilik Hidup adalah ujung perjalanan yang tiada batas ini, sekaligus sebagai garis start untuk berlari bersama orang itu dalam lomba lari tiga kaki. Kuanggap kalimat itu telah tertanam dikepalamu yang mulai lebat oleh uban. Aku tahu benar rasanya menyukai seseorang sepertimu saat ini. Ada banyak laki-laki sepertimu, yang kisahnya digantungkan oleh sehelai benang merah kasat mata yang ujungnya, tentu saja, bukan kepada wanita yang membuatmu berpuasa itu.

Katakan padaku, sejak kapan kau menyukai putri Maria itu? 

Aku cukup pandai ilmu rajah tangan dan hati untuk bisa membaca matamu. Semua kaca yang kau hujamkan diulu hatimu itu membuatku ngeri dengan dirimu, sekaligus iri dengan anak Maria yang kau cintai itu. Apakah ia tahu paku yang sudah berkarat di hatimu itu akan kau ajak berlari? Aku ingatkan kepadamu, cucu Adam dan Hawa, kau akan mati jika tetap nekat berlari dengan semua pecahan kaca dan paku yang tertancap dihatimu. Hatimu akan koyak, hancur berkeping-keping. Apakah ada yang mau menerima hatimu setelah kau dengan begitu keji melukai perasaanmu itu?

Bodoh kalau boleh kau kumaki. Kenapa tak kau terjang saja pagar depan rumah Maria itu? Jelas-jelas saja matamu merindu sendu haru biru apapun itu. Jendela kamar putrinya terbuka menunggumu, tapi kau bilang, hatimu ciut oleh luka merah mengucurkan darah.

Aduh, bodohnya kau, hei cucu Adam dan Hawa!


(2)
Menjadi tua bersama seorang yang dicintai dengan tulus dari awal mengenal percintaan adalah kenaifan manusia yang paling utama. Katakan saja, bagaimana kau bisa tahu orang yang benar-benar Ia takdirkan untukmu kalau kau tak berusaha mencari? Begitu kata orang, yang katanya, sudah berpengalaman dalah usaha pencarian the one and only and forever. Kau pun termakan ucapannya, benar begitu, hei anak perempuan Maria?

Katakan padaku, kenapa kau memendam perasaan yang kau tujukan kepada cucu Adan dan Hawa itu?

Aku cukup tahu dan pandai membaca kata-kata yang tersirat dalam setiap kalimat yang kau ucapkan, serta hafal betul isyarat tubuh dua orang manusia yang dimabuk perasaan, tapi sekuat tenaga membendungnya agar tak membanjiri wajah. Apakah merencanakan hidup bersama anak domba itu membuatmu bahagia? Tak usah kau jawab, biar aku saja yang mentranslatekan bahasa matamu. Kau tak bahagia dan senantiasa merindukan cucu Adam dan Hawa itu, sedang kau tahu sendiri bukan, ia sudah bukan seseorang yang kau kenal dulu. Ada tanggung jawab besar yang ia panggul. Dan kau takut karenanya.
Bodoh benar kau ini! Ah, banyak sekali aku mengatai orang bodoh, tapi sudahlah, kau memang bodoh. Kenapa tak kabur saja dari jendela itu? Hei lihat, cucu Adam dan Hawa itu sedang gentar di depan pagar rumahmu. Lepaskan pasungmu, lompat dari jendela itu lalu kabur bersamanya. Aku jamin, kebahagiaan yang tak terkira harganya menantimu. Tapi kau malah memilih diam, atau menunggu cucu Adan dan Hawa itu yang bergerak duluan?

HAHAHAHAHA! Aku tertawa. 

Kau bodoh betul, hei anak perempuan Maria!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar