Senin, 27 Agustus 2012

Rumahmu (Medan Perang)


Berkali-kali, sudah tahu ranjau tapi diinjak pula.

Rumahmu adalah ladang ranjau bagiku. Meleset satu senti saja, ranjau yang kau tanam itu akan menghancurkanku. Selalu kutanyakan kepadamu mengapa kau pasang ranjau-ranjau itu di halaman rumahmu, ruang tamu, dan kamarmu. Kau bilang supaya suasana jadi meriah akibat letusan-letusan ranjau. Sepertinya kau memang sudah gila. Tapi mungkin aku lah yang lebih gila, nekad datang kerumahmu meski tahu di mejamu terhidang ranjau untukku. Aku hanya bisa berbekal apa? Stategi mungkin. Tapi kau selalu bisa menghancurkanku dengan kata-kata yang terucap dari mulutku. Ah, apa mungkin kau telah menanam ranjau di mulutku.

Lalu apa maumu sebenarnya? Menghancurkanku hingga jadi debu? Lantas apa yang kau terima? Medali kebesaran sebagai pahlawan perang? Bah, katakan saja kau tak sudi membiarkanku sedikit tenang bertandang ke rumahmu.

Minggu, 26 Agustus 2012

Muka


Kupuji dirimu yang pandai betul melipat muka. Ada belasan ekspresi yang kau ungah dalam sebuah topeng. Hendak kau apakan semua itu? Kau jual katamu. Aku masih menatapi punggungmu yang mengucurkan peluh diantara usahamu menata topeng-topeng itu. Aku akan beli satu buatku bulan depan.

Ambilah satu yang kau mau.

Aku mengeleng. Aku mau yang baru, yang tak ada jejak tangis di sudut matanya, yang tak ada kerut duka di setiap lekuknya, yang tak ada derita di ujung permukaannya.

Kau gila!

Aku tertawa. Ah, bilang saja kau tak bisa membuatnya.

Jumat, 24 Agustus 2012

Mudik


Senja tadi, aku baru sadar, kau telah kembali pulang kepadaku, kawan. Salamku padamu, semoga sejahtera menyertaimu. Amin.

Tikar hanya sejengkal, bulan belum bulat karena ini bukan tanggal dengan angka sakral itu.
Lalu bagaimana kabarmu?
Baik. Sebaik minggu-minggu lalu.
Ah, kau benar, kita memang sudah sering berjumpa. Tapi mengapa kali ini seperti selama sebelumnya?

Ada yang berbeda dari wajahmu yang sudah menua itu, rambutmu yang tak lagi sama dengan dulu, terutama pikiranmu yang kacau saat terakhir kali kita bertemu. Tapi aneh, aku  merasa, melihat dirimu yang bertahun-tahun lalu?

Ah, kawan, aku rindu kepada dirimu yang itu! Mari bersulang, perjamuan baru akan diadakan.

Senin, 20 Agustus 2012

Tentang Rasa


(sebuah tulisan lama, di sambung di ujung pagi)

Tentang proses, tentang kata kerja, tentang kata sifat, tentang kata benda.

Sejauh mana rasa yang kau pendam, sejauh proses kata itu bekerja kepada hatimu, sejauh kata benda itu menghantuimu tiap malam.

‘Lupakan, hapus, hilangkan, pupus, bersihkan!’ kataku. Tapi kau memilih bungkam menyimpannya dalam diam. Memilih jadi orang gila yang tertawa bahagia dan lalu menangis lara di saat bersamaan.

Ah, coba katakan kepadaku, apa hebatnya satu kata itu? Mengapa begitu kau agungkan ia layaknya Tuhan-mu?

Minggu, 12 Agustus 2012

Main Drama


Peran apa di sandiwara mana yang sedang kau mainkan?

Ps: Tiap tahun ada-ada saja pertunjukan. Aku heran, apakah ini salah satu  cara Tuhan membuat satu sama lain terhibur dengan tontonan segar?

Hidangan malam ini, full course. Hors d’oeuvre-nya adalah satu parsel manna, pesanan dari sang putri. Hidangan utamanya didatangkan dari Timur jauh, dibakar oleh koki yang saking ahlinya, jadi sangat berlimpah. Ada tempe tahu dan kecap manis, yang konon kedelainya didatangkan dari luar negeri. Ada sambal manis dan pedas yang saking bersemangat dalam pembuatannya, semuanya jadi rasa pedas. Dessert-nya, lagi-lagi salah satu rangkaian buah manna. Tidak ada yang meragukan, bahwa pertemuan besar-besaran itu memang hanya bisa diadakan jikalau semua anggotanya membayar pajak. Apakah selamanya pertemuan seperti ini hanya akan ada jikalau uang terkumpul?

Jamuan sudah habis, karpet digelar,  layar terangkat. Lalu kau muncul dengan topengmu itu, bak seorang pahlawan kesiangan. Lalu kau mulai bersandiwara. Apakah lucu? Apakah menarik? Apakah mengharukan? Aku tak peduli! Sungguh, baik padamu, pada topengmu, atau pada sandiwaramu itu. Lalu, sejak kapan kau jadi pandai betul bersandiwara seperti ini, kawan? Sudah kesenangan main drama rupanya ya. Tapi sepertinya orang-orang kurang tontonan dan jadi terbawa suasana, tertawa bahak, lalu haru biru.

Lalu kau menarikku naik ke panggung dan semua orang bersorak senang. Kau menatapku dengan pandangan menantang. Kugulung kemejaku. Oke, kuterima tantanganmu. Kupasang topengku, kubungkam mulutku, kugerakkan tangan dan kakiku, memasang kuda-kuda. Yak! Ayo kita main pantomim.

Senin, 06 Agustus 2012

Dalam Sabar


kepada Caci, semoga mimpi indah malam ini


Akan kunanti dalam diam, sampai mulutmu redam.
Akan kutunggu dalam mangu, hingga kata-katamu bisu.
hingga merah jadi pudar,
hingga amarah jadi pendar

Lalu, hanya tinggal aku, kau, Caci
dan kata-kataku yan belum sempat kumaki padamu