Minggu, 12 Agustus 2012

Main Drama


Peran apa di sandiwara mana yang sedang kau mainkan?

Ps: Tiap tahun ada-ada saja pertunjukan. Aku heran, apakah ini salah satu  cara Tuhan membuat satu sama lain terhibur dengan tontonan segar?

Hidangan malam ini, full course. Hors d’oeuvre-nya adalah satu parsel manna, pesanan dari sang putri. Hidangan utamanya didatangkan dari Timur jauh, dibakar oleh koki yang saking ahlinya, jadi sangat berlimpah. Ada tempe tahu dan kecap manis, yang konon kedelainya didatangkan dari luar negeri. Ada sambal manis dan pedas yang saking bersemangat dalam pembuatannya, semuanya jadi rasa pedas. Dessert-nya, lagi-lagi salah satu rangkaian buah manna. Tidak ada yang meragukan, bahwa pertemuan besar-besaran itu memang hanya bisa diadakan jikalau semua anggotanya membayar pajak. Apakah selamanya pertemuan seperti ini hanya akan ada jikalau uang terkumpul?

Jamuan sudah habis, karpet digelar,  layar terangkat. Lalu kau muncul dengan topengmu itu, bak seorang pahlawan kesiangan. Lalu kau mulai bersandiwara. Apakah lucu? Apakah menarik? Apakah mengharukan? Aku tak peduli! Sungguh, baik padamu, pada topengmu, atau pada sandiwaramu itu. Lalu, sejak kapan kau jadi pandai betul bersandiwara seperti ini, kawan? Sudah kesenangan main drama rupanya ya. Tapi sepertinya orang-orang kurang tontonan dan jadi terbawa suasana, tertawa bahak, lalu haru biru.

Lalu kau menarikku naik ke panggung dan semua orang bersorak senang. Kau menatapku dengan pandangan menantang. Kugulung kemejaku. Oke, kuterima tantanganmu. Kupasang topengku, kubungkam mulutku, kugerakkan tangan dan kakiku, memasang kuda-kuda. Yak! Ayo kita main pantomim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar