Selasa, 19 November 2013

Bertemu (Rindu)

Tiga jam saja, terasa selama-lamanya. Tumben, mau kumpul juga. Biasanya cuman jadi wacana saja.  Ngelengke lan diselak'ke.

Lama tak bertemu ada banyak yang terjadi dan diceritakan. Termasuk nggathuk'ke memori kolektik mengenai keluarga kertas yang tercerai berai entah berantah di dalam memori masing-masing. Cukup menyenangkan juga, menggali masa lalu dan ternyata kusadar banyak hal lucu dan tak masuk akal terjadi. Termasuk yang nggak jelas. Ah, lupakan. Toh dulu kita masih muda sekali, sekarang yang terasa hanya bertapa konyolnya kita di masa lalu yang hanya bisa kita kenang saat kita bertemu seperti malam ini. Tapi hari aneh. Sepertinya semesta mendukung pertemuan. Tiada hujan atau badai, langit cerah, awan berarakan khidmat membawa suasana nyaman, bulan juga bersinar terang. Ah, lagi-lagi bertemu saat purnama. Apa memang sudah hakikatnya pertemuan itu selalu bertepatan saat purnama? Pertemuan itu lancar. Kau kau kau yang jarang datang juga datang meramaikan suasana meski aku sedang payah-payahnya menahan kantuk karena hari ini baru tidur jam 8 pagi!

Aduh, rasanya aku masih ingin bersama kalian satu dekade lagi! Melewati hari, dan bertingkah bebas layaknya anak yang tak punya tanggungan masa depan yang hampir diujung kaki.

Jumat, 15 November 2013

Penyu-penyu

Aneh, tapi mimpi malam ini terasa nyata dan seolah membenarkan semua perasaan yang kupendam dan kututupi dan kutak acuhkan selama ini dan kuingkari padamu.

Kau, seperti biasa, menyebalkan. Seenaknya saja orang bilang kau mencariku dan berkata aku ingin bersamamu dalam sebuah tim kerja yang entah aku tak tahu untuk tugas apa. Dan seperti biasa aku hanya melongo dengan permintaanmu itu sambil bertanya-tanya darimana kau dapatkan sebendel formulir berisi namaku dan (shit) orang itu? Lalu sambil memasang tampang memelas yang tak dapat kutampikkan, aku mengiyakan saja. Sial, aku terjebak dalam semua ini.

Tahu-tahu aku sudah mengobrol denganmu mengenai buku-buku dan temanku itu. Lalu kau mengambil buku-buku yang berisi gambar tanganku dan aku baru sadar bahwa di sana ada secuplik gambar dirimu. Ah, sial, Tuhan menjebakku walau di mimpi sekalian! Lalu aku hanya bisa memalingkan muka dan kau yang terus menggodaku membuatku ingin melemparimu sesuatu.

Tau-tau aku menghindar dengan melihat aquarium di atas meja. Hei, tunggu, sejak kapan aku punya aquarium? Ah, sudahlah, ini mimpi! Lalu aku berniat mengurasnya ketika penyu-penyu itu muncul begitu saja dan kuputuskan untuk melepaskannya di luar jendela. Lalu penyu-penyu itu seolah keluar dari tanah, muncul begitu saja, begitu banyak. Lalu aku bangun tiba-tiba, menyadari bahwa mimpi-mimpi ini hanya membenarkan semua yang aku pikirkan dan rasakan terhadapmu. Sial, aku tak mau mengakui ini semua, tapi aku memang benar. Dan ketika aku membuka kitab ramalan, terhenyak menyadari makna penyu-penyu itu. Akan mendapatkan keberuntungan yang banyak. Akan bertemu seseorang yang cocok, yang akan menjadi jodohmu.



Sial, dalam satu fragmen yang sama aku memimpikanmu dan bertemu penyu-penyu itu!

Senin, 11 November 2013

Parodi Malam Sirkus

Sekejap, aku tergagap mencari sosokmu yang timbul tenggelam dalam riuh karavan sirkus malam ini.


Malam naas, berandai-andai bertemu temanmu itu, tapi tak ketemu juga. Parade musik hingar bingar dalam lautan manusia. Musik-musik asing dari kawanan gipsy membawakan aroma sirkus jalanan. Gila, mereka asyik sekali dalam kenikmatan musik yang tak kupahami itu. Lalu Tuhan sepertinya bercanda padaku, ya, melemparkan guyonan tak lucu tapi berhasil membuatku senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini. Ah, ini semua tak benar, hanya pikiranku saja yang membenarkannya.

Jadi, melihatmu dikerumunan itu bak anak kecil tersesat mencari induk. Lalu kau menghilang di kegelapan ketika kawanan gipsy itu pergi. Ah, aku tak peduli. Kupikir yang barusan itu hanya khayalanku saja berharap kau ada dan tiba-tiba muncul dihadapanku. Ya, yang barusan pasti aku sudah mabuk. Itu bukan benar-benar kau. Tapi ketika malam mendekati puncaknya dan Cinderella harus bergegas pulag, alih-alih aku mendapatimu berjalan di sampingku tanpa sepatah kata sapa yang kusesali mengapa tak kuucapkan saja barang membuka sebuah percakapan singkat sebelum hari sialan ini berganti. Tapi tetap saja, aku terlalu kikuk untuk semua hal ini dan memilih mendiamkanmu membuatku menyesal seumur hidupku dan tak berani menyapamu. Ah, sudahlah!


Hei, kalau boleh tahu, mengapa kau muncul seorang diri malam ini?

Senin, 04 November 2013

Surat yang Tak Pernah Terkirim

Puncak Trianggulasi (3.142 mdpl)


Sepertinya suratku tak sampai kepadamu karena memang tak pernah kuterbangkan.
: : Aku masih berharap surat itu sampai padamu dengan selamat
   Dan aku masih berharap kita ada di puncak ini sambil menikmati kabut pagi

Jumat, 25 Oktober 2013

Berkompromi dengan Semesta

Ex nihilo nihil fit : Tak ada sesuatupun yang muncul dari ketiadaan. Tapi ujung dari perjalan ini adalah ketiadaan itu sendiri.

Kadang Tuhan memang berbicara dengan cara yang lain, yang tak dapat manusia pahami, meski manusia berusaha untuk memahaminya. Tuhan berbicara lewat semesta. Semesta bertindak, menggerakkan manusia.

Ada saat dimana aku merasa semesta berkhianat padaku, bukan, bukan Tuhan yang mengkhianatiku. Ia selalu ada dan mendengarkan doaku, yah, sesekali mengusiliku dengan tak mengabulkan doaku. Tapi semesta lebih kejam, ia telah lama berkhianat padaku. Aku tak tahu apa motifnya berkhianat padaku. Berulang kali sejak kuhitung 9 tahun lalu.

Aku tak pernah membenci seseorang teramat dalam, pun juga kepada semesta yang telah lama berkhianat padaku. Tapi aku tak membenci semesta, pun juga aku tak pernah memaafkan apa yang telah terjadi. Yang terjadi biarlah terjadi, pun yang tak terjadi biarkan tetap tak terjadi. Seperti kata Parang Jati, aku hanya bisa mencoba berkompromi dengan apa yang telah terjadi, sambil memikirkan cara lain untuk menggugat semesta.

Ah, mungkin menggugat terlalu muluk. Mungkin aku hanya bisa mengusahakan cara lain yang jauh dari campur tangan semesta. Doa.

Senin, 30 September 2013

Catatan Udara (Sebuah Doa)

yang seharusnya diterbangkan dari atas merbabu, di landasan kenteng sanga, yang gagal sampai di tanganmu



Tuhan, aku ingin jatuh cinta. Tapi ingatkan aku, karena aku mungkin telah lupa, mengejanya, membacanya, merasakannya terhadapmu. Berikan aku besempatan berkali lipat, tak hanya sekali. Karena kadang aku tak bisa membedakan yang mana kesempatan yang mana ketaksengajaan. Lalu beri aku keberanian, untuk mengenalinya selagi sempat, sebelum semua terlambat, sebelum kesempatan itu menyempit.

Ya, biarkan aku terakhir kali ini jatuh cinta kepadamu.

Jumat, 27 September 2013

Catatan di Atas Tanah

(yang tertunda untuk diterbangkan)



Ini bukan doa, hanya gumaman saja.
Kelak ketika ada sebuah kesempatan dalam kesempitan, aku akan memanfaatkannya, berusaha mengenalimu diantara jutaan orang-orang ini. Sekali, ya sekali, ketika sempat, akan aku utarakan, mengapa tak kau lihat saja aku yang ada di sini yang sejelas ini?

Jumat, 13 September 2013

Kesempatan Gelap

Dalam keremangan, diam-diam kau menjelma gelap yang menyilaukan mata.


Sedetik saja, baru kemarin aku merindu, keketusan suaramu dan kata-katamu padaku, keacuhanmu akan keberadaanku, dan tatapan yang kau buang selalu. Kali ini, ada kesempatan langka, bertemu kau dalam temaram yang ramai oleh suara-suara semu yang aku kau acuhkan dalam kelindan diam. Aku dan kau sama-sama menyesapi, keheningan yang tak terbantahkan, kata saling sapa yang tak ada sejarahnya kita bersuara, sekejap menatap pun tak pernah. Ibarat kita sama-sama saling tahu, ada yang tak sempat terucap karena memang tak ada. Asap pembakaran mengepul ke udara dibawah seperempat bulan yang ranum, melankoli masa lalu menghinggapi hatiku, sedikit gundah atas keberadaanmu. Lagi-lagi, meski telah berdoa suatu ketika akan ada keberanian dalam kesempatan sempit yang Tuhan sempat berikan, tetap saja, aku mengkaku bisu gagu tak berani bersitegap terhadapmu.

Tapi, diakhir malam itu, ada sedikit saja, ya sedikit saja, keberanian untuk menyapa basa basi rapi, sekelebat saja, diantara deru huru hara kendara.

Yang Kasat Yang Tak Terkecap

Tuhan, berikan sedikit saja kesempatan dan keberanian, untuk memperjuangkan yang kasat mata.


Lagi-lagi Tuhan bercanda kepadaku, tentang alur-alur cerita yang berliku bagai menyusuri perengan perbukitan seribu. Ada celah, yang bisa kususupi untuk mencoba lagi, mencoba mengeja yang tak sempat terasa lama, mengejap yang kasat mata. Hari-hari terakhir terbayangi gurat-gurat yang dulu familiar, bau yang menggairahkan otak -memabukkan, candu malah sendu haru biru, kopi bubuk gilingan sendiri- dan sosok yang lebih seperti bayangan dengan latar belakang sumber cahaya.

Mungkin dulu ada yang tak sempat aku serapi,sesapi, yang kini menggila di kepala seperti objek yang mengambang di ruang hampa. Aku ingin menyapa, tapi kata selalu menemukan jalannya untuk tersendat tercekat pada ruang yang tak muat didesaki.

Jikalau aku tahu, bahwa waktu menggerakkan kita ke suatu tempat yang berbeda, maka mungkin memang aku tak sempat mengucap yang dulu terejawantahkan pada mata, yang dulu mulut ini khianati dan ingkari. Jikalau kini sekali lagi kita tergerakkan menuju ujung yang sama, maka aku akan mulai menelusur masa lalu, menafsirkan yang salah dan mencari keberanian kesempatan untuk menggerakkan hati.

Kau, semoga kini berani, membalas kasat rasa yang akan aku beri kesempatan untuk kau nikmati.

Minggu, 01 September 2013

Surat Panjang

Untuk Cahaya,

Terjadi lagi, untuk yang kesekian kalinya, aku tak tahu alasanmu, tapi sepertinya aku tahu sesuatu.



Diam tak akan membuatku tahu apa yang kau pendam, yang kau sembunyikan. Hanya akan membuatku semakin bertanya-tanya kepadamu, dan dengan tak tahu malu, membombardirmu bahwa aku merinduka pertemuan kita bertika pada suatu senja di sebuah tanah lapang dengan ujung keranjang bola. Masih ingatkah kau ketika kita bertiga bersama-sama mengecak kamarmu, mengecatnya dengan janji-janji kenaifan kita, yang lalu kau tutupi dengan lemari baju karena rasa kehilanganmu pada akhir suatu september. Masih inagtkah kau ketika kita bertiga bersama-sama beradu akurasi, meski kita berdua selalu kalah darinya, ya si jenius yang menyebalkan itu. Masih ingatkah kau ketika kita bertiga, duduk-duduk di pinggir jalan sambil menanti tenggelamnya matahari, nyemil gorengan berbekal selembar tikar dan penerangan ala kadarnya dari iklan besar di depan sekolah kita.

Aku masih ingat betul, semua fragmen-fragmen yang kita susun bersama-sama. Ikrar kita untuk tak meninggalkanku, kau, dan dia. Karena kita adalah trio orang bodoh yang tak terkalahkan, aku masih ingat itu. Karena ketika kita pentas di lapangan, tak ada satupun kombinasi dari mereka yang mampu mengalahkan kekompakan dan kekocakan kita. Aku masih menyimpan dengan baik, sebuah kalimat yang kau katakan kepadaku. Kusimpan betul dalam kotak ajaib yang bisa melakukan apa saja.

Jika dewasa itu berarti harus meninggalkan-mu, maka saya memilih untuk tidak pernah menjadi dewasa.

Tapi kita semua tak bisa mengelaknya, bukan? Meski kita bertiga mati-matian mengelak dan mengatakan dan berteriak pada dunia kita tak akan pernah menjadi dewasa, biar tetap jadi kanak-kanak saja, bukankan malah kita melakukannya? Kita telah lama berhenti saling menyapa di dunia maya. Yah, meski aku yakin tanpa percakapan hampa itu kita tetap akan kompak dan tak terkalahkan ketika kita bertiga berkumpul. Lalu dia sedikit menyinggung perasaanmu meski kau tahu ia hanya bercanda. Hei, kau malah lebih lama mengenalnya daripadaku kan? Lalu kau mulai menghindari kami berdua, mengelak dari setiap perjumpaan yang diaransemen. Lalu dia yang begitu cuek tak peduli kau mau datang atau tidak karena dia memang seperti itu dari dulu, egois seperti anak-anak. Ya, anak-anak, seperti maumu. Lalu kau bilang aku berubah menjadi lebih dewasa daripada sebelumnya meski kau bilang aku masih begitu menyenangkan seperti dulu. Lalu pertemuan-pertemuan kita di lapangan sambil menunggu senja itu lama-lama semakin jarang, lalu tidak sama sekali. Kau menolak, dan memilih bersama keluargamu ketika sekali setahun kita berkumpul Oke, aku paham kau mengutamakan mereka sekarang. Lalu dia mulai mendiamkanmu, tak peduli kepadamu, meski ia masih peduli kepadaku, pada kita sebenarnya. Lalu kau mulai mendiamkanku tanpa aku tahu penyebabnya, atau mungkin aku sebenarnya tahu tetapi hanya tak mau mengakuinya?

Beberapa hari lalu aku bermimpi, tentang kita bertiga, dan 3 pasangan tanding kita yang senantiasa berubah beraturan. Aku serasa terlempar di masa kejayaan kita, ketika kita selalu meluangkan waktu setiap sore untu kberkumpul memperebutkan bola hingga memasukannya, hingga gemerincing rantai itu terdengar ketika kita menyentuhnya. Ah, aku rindu suara bola yang memantul pada lantai plesteran yang tak rata, dan juga pada angin yang terbawa ketika bola itu memasuki keranjangnya. Di mimpi itu, kau dan dia, dan 3 orang lainnya tengah menungguku yang terlambat datang. Lalu kalian semua tersenyum kepadaku yang meminta maaf karena telat. Kau dan dia nyengir lebar, memperlihatkan gigi-gigi kalian yang satu tak rata yang satu kekuningan karena kipi dan nikotin. Lalu aku bangun dan ingat kau dan dia. Seketika itu aku kirimkan kerinduanku kepadamu dan dia, berharap kau merasakan hal yang sama. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, hanya dia yang mau membalas pesanku itu, kau tidak.

Hei, aku paham betul, jarak dan waktu telah membelokkan keinginan kita bertiga untuk terus menjadi kanak-kanak selama mungkin. Tapi jarak dan waktu telah membatasi kekanak-kanakan kita, telah memaksa kita untuk menjadi dewasa. Apa kau kecewa dengan perkembangan cerita kita bertiga yang semakin memuai kedekatannya? Apa kau marah padaku dan padanya yang telah meninggalkan kita bertiga? Atau jangan-jangan kau marah pada dirimu sendiri karena kaupun juga sama dengan kita bertiga meski kau sendiri yang bilang kau tak mau jadi dewasa? Ah, aku bingung padamu, sungguh. Dan lagi kau memilih untuk diam meski aku selalu mencoba menyapamu dengan berbagai cara. Ayolah, katakan sesuatu, aku tak mengerti diam-mu.


Hei, suatu hari nanti kita akan bertemu, kau janji tak akan mendiamkanku dan kembali kepada kita bertiga yang dulu kan, kawan?

Jumat, 23 Agustus 2013

Semesta Berbicara

Semesta bergerak dalam sebuah rangkaian seri pararel, menggerakkan masing-masing dari kita seperti antariksa yang mengerucut memuai, seperti jejaring benang yang berkaitan satu sama lain, seperti kepak kupu-kupu yang membikin tornado di seberang lautan.

Kita adalah manusia yang tersesat diantara ruang dan waktu yang orang lain definisikan, terus tumbuh bergerak liat diantara keajaiban, mencari makna diantara penciptaan-penciptaan Tuhan. Ada kalanya kita tahu dimana jalan yang panjang ini mengarah, meski sering sekali kita tersesat pada liku lekuk pejalanan, malah, seringnya makin terperosok saja tanpa tahu jalan untuk pulang. Namun, ketersesatan 'sesaat' itu bukannya menjauhkan kita pada pencapaian yang dicita-citakan, tapi mungkin saja malah jadi jalan pintas. Meski aku tak dapat menjamin apakah benar, jalan singkat itu akan jadi hal yang menggembirakan atau tidak.


Lalu, seperti halnya perjalanan mengelilingi bola bulat dunia, kita akan kembali ke sebuah titik akhir yang menjadi mula. Ah, mungkin Tuhan sedang iseng dan senggang saat menciptakan manusia, yang ia ciptakan sebanyak-banyaknya, yang ia tulis kisahnya mulai dari yang paling tragis sedih sederhana teraniaya kaya raya bahagia merana hingga sekelas iklan murahan FTV sinetron panjang tegak bersambung film holly-bolly-wood, yang mana saja, sama-sama menghibur.

Dan kita, manusia, hanya satu diantara titik-titik yang membentuk garis tegak lurus melengkung berubah beraturan.

Senin, 12 Agustus 2013

Secercah Jalan Pulang

Gila, ini pencerahan atau apa, sih? Kenapa ketika kuputuskan untuk kembali ke jalan yang benar, setelah semua ketersesaatan bertahun-tahun, godaan di garis start muncul lagi?


Ketika membuka dokumen lama, mengenai matahari, awan, kisah-kisah Sabrina, dan juga si penjejak, aku kembali terpekur merenungi abu sisa-sisa upacara ngaben beberapa tahun lalu, yang membakar habis tubuh perasaanku padamu yang kubunuh suatu malam. Iseng, aku berlarian seperti setan menuju stasiun, lewat depan rumahmu dan terkejut. Ada gerangan apa yang menjadikan rumahmu begitu senyap dan pendar cahaya hangat perapian istrimu itu tak nampak pula malam ini?

Lalu aku bergosip pada angin dan mendengar kabar, istrimu (lagi-lagi) meninggalkanmu, minggat dari rumah. Mungkin terpincut episode sinetron yang lain, dan kini meninggalkanmu sendiri dalam kemalangan yang kau coba untuk perjuangkan? Aku termangu nyengir gila, entah harus ikut sedih mengasihanimu atau berteriak sujud syukur kau kembali sendiri meski aku tahu, aku tak ada kesempatan lagi karena semua itu telah terlewat hampir satu dekade lalu!

Well, lihat, kali ini kita sama-sama sendiri, berdiri dalam sebuah jalur lari, yang aku tak tahu bagaimana masing-masing jalur ini memposisikan diri, hingga suatu ketika akan berpotongan lagi atau hanya sekedar sejajar berubah beraturan hingga melebar dan menghilang di suatu sudut jalan. Entah, yang mana saja kupikir adalah hal-hal terbaik yang pernah Tuhan bikin untuk diri kita kini atau nanti. Tapi ide, untuk memperbaiki atau memulai kembali apa yang belum sempat kuawali pada awal masa mudaku, entah mengapa membuatku nyengir sinting dan diam-diam berharap juga, Tuhan memang usil dan pada akhirnya kita akan bersama.

Lalu, mungkin saja, suatu ketika, jalur lari kita yang panjang ini, akan berhenti pada sebuah kedai kopi yang memang terkenal di seluruh pelari semua negeri. Kita akan tanpa sengaja bertemu di sana dan melemparkan tatap-tatap mata ala sepenggal sinetron, bertukar chemistry. Lalu kita akan saling tersenyum satu sama lain, saling mendekat dan bersalaman, mengenang masa lalu yang konyol. Lantas seperti adegan-adegan picisan lain, kita akan bercerita mengenai kehidupan, dan Tuhan memang jenaka karena telah membuat kita menunggu bertahun-tahun lamanya dalam genangan sinetron berkepanjangan yang ketinggalan jaman, hingga roman picisan ini terlihat begitu nyata di mataku. Dan seperti film-film picisan lain, kita akan berakhir dalam tawa suka duka bersama hingga hari tua.


Hei Sora, ingat kata-kataku bertahun-tahun lalu? Selalu ada tempat untukmu kembali kepadaku, aku pastikan itu.

Jumat, 09 Agustus 2013

Episode Sinetron (yang lain)

Setelah paling tidak berhenti dari dunia persinetronan, aku sebagai sutradara, selama kurang lebih satu tahun ini tercengan sendiri mengapa sebuah episode sinetron menghampiri aku dua hari terakhir ini. Aku tak ingin berkilah, hanya tercengang, bahwa dunia sinetron dekat sekali dengan kehidupanku. Dan jujur, cerita lebay bombai berurai air mata kesedihan yang mendamba kebahagiaan ini membuatku ingin menyingkir dari para pemainnya dan memilih untuk merenung duduk bersama keponakan Bo Bo Ho-ku.

Mari kita namai episode sinetron ini sebagai episode, 'Ayah yang Mendzolimi Ibu Mertua, Istri, Anak, Menantu, dan Cucu Tercinta.' 

Nah, tak perlu kuceritakan lagi kan kira-kira kisahnya dapat kau tebak sendiri. Seorang ayah yang lari bersama janda tetangga depan rumah meninggalkan istrinya tercinta bersama ketiga anak dan 2 orang cucu, mengkhianati kepercayaan istri dan para mertua, sekaligus menghancurkan hari anak-anaknya yang meski sudah dewasa, tetap menghadang mobilnya sambil membawa kapak, clurit, linggis, dan perkakas tukang kayu lainnya, berniat membunuh sang ayah yang dzalim. Dan cucunya yang masih 6 tahun itu, dibuatnya terdiam meski ia sebenarnya tahu tapi kurang paham apa yang terjadi, ada trauma besar dalam benaknya, pada sepenggal episode sinetron ini.

Dan aku, yang mendengar kisah pilu saudara sepupu yang besar bersamaku, melihat tangis yang ditahan sambil meringis kesakitan dalam hati jiwa dan pikiran, hanya bisa diam dan memilik untuk mlipir mencari tempat yang tepat untuk berkontemplasi menarik napas dalam-dalam, sambil mengumpat kepada Gusti. Ya Allah, sampai kapan episode sinetron ini akan terus bermunculan silih berganti?

Lalu aku celingukan sendiri di tempatku berdiri karena takut, di suatu tempat, entah dipojok pintu, di jendela, digorden atau dipucuk pohon, ada mata kamera yang mengawasi semua episode ini dan disiarkan pada stasiun tivi swasta sebagai hiburan para ibu-ibu yang bosan merumpi di suatu planet lain di jagad semesta ini.

Rabu, 07 Agustus 2013

Sebuah Salam

Sebuah salam dari Sabrina,
kepada Justin dan Francis yang tak dapat hadir

Apa kabar kawan? Lama sejak terakhir kali mendengar kabarmu dari papan depan stasiun itu, aku tak tahu kemana pergimu, kawan berbagi pra-remaja. Lantas ketika dipenghujung suatu hari kita bertemu lagi, kekikukan yang tersisa ketika masa kelulusan pra-remaja itu, entah mengapa sirna begitu saja. Kita begitu lugas mengatakan apa yang hendak kita utarakan. Pertanyaan-pertanyaan seputar kabar, kau sekarang dimana, bagaimana, bersama siapa mengalir satu-satu lewat mulutku mulutmu mulut mereka. Aku senang tak menghindar dan aku serasa kembali ke masa dimana kita masih anak-anak betul, sebelum kita mengenal apa itu laki-laki perempuan dan apa yang bisa terjadi diantaranya. Kita ibarat anak SD yang menemukan teman sepermainannya yang telah lama menghilang. Ya, aku senang.

Kudengar, Carissa sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, dalam waktu dekat. Lalu aku mulai mendengar cerita-cerita mengenai teman se-geng yang juga telah dijodohkan seperti Carissa yang telah bercincin. Aku hendak mengolok-olokmu, Justin dan Francis kawanku, bahwa kesempatan kalian telah lama terlewat. Dan cerita masa kanak-kanak itu hanya akan jadi bahan olok-olokan kita di masa tua. Ya, aku senang sekali.

Kapan lagi, ya, kita akan bertemu selengkap dulu?

PS : kabari aku segera ya, aku takut aku telah berada di tempat yang membuatku tak dapat kembali kepadamu.

Selasa, 06 Agustus 2013

Badai Laut

Di antara gelegar dan bau mesiu yang mewarnai langit, dan tikar yang digelar sejengkal tak muat kita semua duduki, di antara asap-asap tembakau yang kau hisap kuhirup, dan diantara kehiruk pikuk kikukan semua ini, mengapa kau sendiri yang terlihat nelangsa diantara semua suka cita yang kita hidangkan malam ini?

Sudah kelima kalinya, dalam tahun-tahun belakangan ini, ritual pertemuan besar-besaran diselenggarakan, secara lengkap maupun tidak. Dan sekali ini dalam tahun-tahunku, aku melihatmu menahan perih yang diam-diam kau pendam dalam-dalam, yang kau simpan rapat-rapat, yang kau tak mau bagi bersamaku atau orang-orang itu, yang membuatmu berlari meski tanpa alas kaki, yang membuatmu gentar pada geletar perasaanmu yang terus mengakar. Hei, bang, mengapa kau begitu seperti ini, tega menyeretku dalam kecamuk perasaan sedih dan kalut kemelut badai laut dalam hatimu?

Tak Lengkap

Kuhitung, sudah kali kelima kita memutuskan untuk bertemu bersama tiap tahunnya.

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ada-ada saja yang tak mau dan tak bisa hadir kali ini. Aku pikr tak masalah, karena meski kita dianggap suatu keluarga paling rukun sedunia, ada saat dimana diri kita saat ini akan menghalangi pertemuan semacam ini. Hari ini adalah buktinya.

Sudah berapa tahun bersama kita pergi dari rumah kita itu?
Bertahun-tahun, hingga membuatmu jadi seseorang seperti ini. Berubah? Tidak, kurasa kau memang berubah tetapi sebagian dari dirimu masih tetap kau beberapa tahun lalu. Tapi aku merasa tak lengkap bersama kau semuanya, semacam puzzle yang belum tuntas dimainkan. Ah, biarlah, toh beberapa orang diantaramu dapat menghapuskan rinduku, atau malah makin membuatku merindukanmu.

Diantara 2 kubu yang ada malam itu, kubuku dan dirimu yang bercerita mengenang masa lalu untuk membangkitkan suasana meski ada satu orang yang dikorbankan untuk jadi bahan olok-olokan, aku sendiri, atau kau yang cari mati dengan menyapanya. Sedang, ada kau yang satunya, yang sibuk menyesapi tembakau, yang asapnya memenuhi udara, membautku sesak akan perasaanmu yang berat malam ini. Ah, ada dia yang tak datang malam ini. Dan ada kau yang satunya lagi, yang diam menunggu mendengarkan seolah akan tahu aku dan kau coba bicarakan meski saling melempar tombak, mata panah, pisau, dan juga batu, yang kita lakukan sambil menyembunyikan tangan masing-masing.Tapi malam ini aku kehilangan dirimu yang satunya lagi, yang ceria, yang selalu membangkitkan gelak tawa, yang rela dilempari berbagai macam rajah senjata tanpa mengeluh peluh luh. Kemana KAU? Apakah terjadi sesuatu dalam perjalananmu ke tempat ini? Apakah anjing tetangga menggigit habis lidahmu hingga kau membisu tak mau memperlihatkan lidahmu?

Hei, aku juga rindu kau-kau-kau yang lain yang satunya yang ini yang itu yang disana yang disini. Ya kau. Tak lengkap malam ini tanpamu. Kau sekalian janji akan bertemu denganku dalam waktu dekat, kan?

Minggu, 14 Juli 2013

Kegi(a)la(u)an Nomor Sekian



Sejenak perasaan dingin ini mengingatkanku tentangmu.

Melihatmu tumbuh, menghabiskan masa tanpa mengingatku sebagai bagian dari masa lalumu, lantas, melihatmu kini berdiri di depan papan stasiun. Hai, apa kabar? Entah kalimat singkat ini terlintas di benakku setiap saat aku teringat padamu tetapi mengapa tak pernah dapat terucapkan? Sejak aku mengirimu pesan itu, sejak kau membalasnya dengan tanda tanya dan amnesia, aku telah berusaha sampai saat ini, untuk menemukan orang lain di luar sana, untuk berbagi rasa dan menghabiskan masa tua suatu hari nanti.

Seperti yang pernah aku katakan padamu, Sora, bahwa mungkin aku telah menyerah untuk melupakanmu. Karena tiap kali aku memandang langit biru, selalu saja aku terkenang pada langit biru hari itu, hari dimana aku tahu siapa namamu. Lalu, ketika aku tenggelam dalam lamunan kisah tak sampai sepihak dari sudut pandangku ini, aku menyesali, mengapa aku tak bisa beranjak darimu semudah itu. Lalu aku sampai pada pemikiran, mungkin kau memang tak akan pernah bisa terhapuskan dari sejarah masa mudaku.

Lantas, ketika untuk kedua kalinya aku mengambil jalan yang salah, entah mengapa yang teringat pertama kali adalah kau. Selalu mengutuki mengapa aku dan kau tak berjalan semudah yang aku bayangkan. Atau aku hanya terlalu berharap tinggi, bahwa suatu ketika ada seseorang sepertimu yang bisa benar-benar mengisi hariku siang malam, pagi petang, cerah berawan, terik berbintang.

Ah, betapa menyedihkannya aku ini. Menulis kepadamu di tempat ini bukankah semakin menandakanku bahwa aku tak bisa beranjak darimu? Bahwa duniaku sepenuhnya milikmu? Bahwa aku amsih berkutat pada masa lalu yang telah lama berakhir tidak bahagia?

Sudah lah, mungkin memang kamu, satu-satunya langitku.

Minggu, 09 Juni 2013

Gantung Rancah Rindu



Pada bulan juni, lajur-lajur alur yang mengular bertutur pada muara, bekasnya samar diantara sedu sedan diam dan tatap mata. Hulu-hulu kata ngilu, hilir mudik rasa udik teraduk berantukan jatuh ke angkasa. Hingar bingar bianglala sangka kala kembali ke per-aku-annya. Diantara bulan yang mengambang di celah jendelamu ranum rasa siap panen tuai reda hujan pingitan. Kau patung mematung gantung. Aku batu meng-abu.

Kamis, 16 Mei 2013

Hallo, Apa Kabar?



Berjalan sudah sejauh apa? Semakin meninggalkan masa muda, tapi raut keremajaanmu masih sedikit tersisa pada canda dan tawamu. Bercerita tentangmu pada orang lalu lalang di pasar. Aku jadi ingin bertemu, kau.

Entah aku sudah tak tahu lagi, bagaimana aku bisa menjangkaumu. Kini jarak dan waktu seakan pasifik yang diterjang badai, berlayar aku tak berani. Menghubungimu lewat surat, pesan singkat, titip burung biru, dan jaring-jaring lain tapi kau tak menjawabnya. Tak sampai atau kau tak mau peduli lagi. Sebegitu hebatkah hidupmu kini membawamu jauh dari jangkauan kaki dan telingaku?

Mengobrak-abrik kenangan tentangmu suatu malam, aku sendiri. Meratapi foto-foto, video, dan lagu kenangan tentangmu. Lagi-lagi membuatku tak ingin beranjak menjadi tua dan menyebalkan, menginginkan kembali keharibaanmu dan semua celoteh keluguan kita di masa lalu. Aku ingin kau, tumbuh di sampingku, tak meninggalkanku semudah itu, canda tawa masa muda.

Hallo, konco lawas. Apa kabar? Lama kita tak saling menjamu. Kapan aku akan bertemu padamu dan mengatakan bahwa aku sungguh merindukan masa lalu? Saat kepolosan itu masih satu, saat masa depan masih panjang dan jauh, saat kau masih dirimu yang aku kenal 3 tahun lalu. Ah, mungkin aku terlalu penakut untuk bilang satu lawan satu.

Karena, aku ingin bertemu, kau. Ya, kau.


Rabu, 01 Mei 2013

100% Bobrok



Daerah kecil itu memang sudah bobrok dari akarnya. Tak ada apa-apa di sana, Cuma ada segenggam tanah gersang dan sisanya cadas. Orang-orang di sana hidup dari membanting tulang diatas tanah dan jalanan. Anehnya, tetap saja miskin dan bobrok. Hujan saja enggan mampir, padahal daerah itu dikelilingi hutan jati yang meranggas tiap kemarau dan pohon-pohon kayu putih yang belum besar saja sudah dipangkas.
Orang-orang yang tinggal di daerah itu ngaku-ngaku orang sekolahan, tapi perilakunya seperti anak-anak yang nunggak kelas 1 SD selama bertahun-tahun. Jelas-jelas sudah akut dan tak bisa ditolong lagi. Apalagi kalau dapat BLT, langsung saja rebutan sibuk palsu sana sini mendekati petugas biar dapat. Raskin tiap bulan juga diembat, meski pada akhirnya dijual juga beras musah itu di pasaran hari Pon.
Pemerintah yang akarnya sudah bobrok itu angkat tangan, tak mau membangun daerah itu, malah sibuk main ‘Maaf anak-anak, ujiannya diundur karena soal ujian belum datang’ sama murid SMA. Toh, apa juga yang mau dibangun di daerah itu, ‘Ah, cumin satu daerah kecil saja. Tidak ada untung, mending main sama anak SMA!’.

Di daerah itu, lagi-lagi hidup orang-orang yang iri dengki terhadap kesuksesan orang lain. Rebutan harta dan tahta, sampai bikin perang baratayudha sendiri yang dikompori Sengkuni. Alamak, orang-orang di sana isinya bedebah yang bobrok. Penguasanya juga sama-sama tidak beres. Apalagi si patih yang entah pakai cara apa untuk memperdaya semau orang hingga bias naik jabatan 2 periode.

Edan tenan, daerah itu memang sumber ‘goro-goro’ perwayangan. Mau tenar katanya, biar masuk Koran, masuk tivi, masuk radio, mending beli kardusnya saja trus biar masuk sepuasnya! Lalu orang-orang diluar sana bukannya memuji dan kagun kepada orang-orang yang masuk kora, masuk tiv, masuk radi itu tetapi malah semakin meyakinkan bahwa daerah itu isinya hanya orang-orang bobrok semua.

Lalu siapa yang perlu disalahkan atas kebobrokan mereka? Pemerintah bobrok yang dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang bobrok itu? Atau orang-orang bobrok yang tinggal di sana? Atau sekolah miskin hasil pembangunan orde baru yang tak kalah bobroknya dalam mencetak generasi bobrok itu? Atau pemerintah pusat yang mencanangkan program wajib belajar 9 tahun ples ples 3 tahun tapi tak kuat mengadakan sekolah gratis bagi orang-orang bobrok itu? Atau daerah gersang yang isinya cadas itu hingga para petani bobrok di daerah bobrok itu tidak dapat menghasilkan makanan bernutrisi bagi otak orang-orang bobrok itu? Atau salahkan para orang tua bobrok yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik orang-orang bobrok itu?

Bah! Sama saja, sekali bobrok akan tetap bobrok. Mau dibenerin seperti apa tetap saja bobrok!