Rabu, 01 Mei 2013

100% Bobrok



Daerah kecil itu memang sudah bobrok dari akarnya. Tak ada apa-apa di sana, Cuma ada segenggam tanah gersang dan sisanya cadas. Orang-orang di sana hidup dari membanting tulang diatas tanah dan jalanan. Anehnya, tetap saja miskin dan bobrok. Hujan saja enggan mampir, padahal daerah itu dikelilingi hutan jati yang meranggas tiap kemarau dan pohon-pohon kayu putih yang belum besar saja sudah dipangkas.
Orang-orang yang tinggal di daerah itu ngaku-ngaku orang sekolahan, tapi perilakunya seperti anak-anak yang nunggak kelas 1 SD selama bertahun-tahun. Jelas-jelas sudah akut dan tak bisa ditolong lagi. Apalagi kalau dapat BLT, langsung saja rebutan sibuk palsu sana sini mendekati petugas biar dapat. Raskin tiap bulan juga diembat, meski pada akhirnya dijual juga beras musah itu di pasaran hari Pon.
Pemerintah yang akarnya sudah bobrok itu angkat tangan, tak mau membangun daerah itu, malah sibuk main ‘Maaf anak-anak, ujiannya diundur karena soal ujian belum datang’ sama murid SMA. Toh, apa juga yang mau dibangun di daerah itu, ‘Ah, cumin satu daerah kecil saja. Tidak ada untung, mending main sama anak SMA!’.

Di daerah itu, lagi-lagi hidup orang-orang yang iri dengki terhadap kesuksesan orang lain. Rebutan harta dan tahta, sampai bikin perang baratayudha sendiri yang dikompori Sengkuni. Alamak, orang-orang di sana isinya bedebah yang bobrok. Penguasanya juga sama-sama tidak beres. Apalagi si patih yang entah pakai cara apa untuk memperdaya semau orang hingga bias naik jabatan 2 periode.

Edan tenan, daerah itu memang sumber ‘goro-goro’ perwayangan. Mau tenar katanya, biar masuk Koran, masuk tivi, masuk radio, mending beli kardusnya saja trus biar masuk sepuasnya! Lalu orang-orang diluar sana bukannya memuji dan kagun kepada orang-orang yang masuk kora, masuk tiv, masuk radi itu tetapi malah semakin meyakinkan bahwa daerah itu isinya hanya orang-orang bobrok semua.

Lalu siapa yang perlu disalahkan atas kebobrokan mereka? Pemerintah bobrok yang dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang bobrok itu? Atau orang-orang bobrok yang tinggal di sana? Atau sekolah miskin hasil pembangunan orde baru yang tak kalah bobroknya dalam mencetak generasi bobrok itu? Atau pemerintah pusat yang mencanangkan program wajib belajar 9 tahun ples ples 3 tahun tapi tak kuat mengadakan sekolah gratis bagi orang-orang bobrok itu? Atau daerah gersang yang isinya cadas itu hingga para petani bobrok di daerah bobrok itu tidak dapat menghasilkan makanan bernutrisi bagi otak orang-orang bobrok itu? Atau salahkan para orang tua bobrok yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik orang-orang bobrok itu?

Bah! Sama saja, sekali bobrok akan tetap bobrok. Mau dibenerin seperti apa tetap saja bobrok!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar