Minggu, 14 Juli 2013

Kegi(a)la(u)an Nomor Sekian



Sejenak perasaan dingin ini mengingatkanku tentangmu.

Melihatmu tumbuh, menghabiskan masa tanpa mengingatku sebagai bagian dari masa lalumu, lantas, melihatmu kini berdiri di depan papan stasiun. Hai, apa kabar? Entah kalimat singkat ini terlintas di benakku setiap saat aku teringat padamu tetapi mengapa tak pernah dapat terucapkan? Sejak aku mengirimu pesan itu, sejak kau membalasnya dengan tanda tanya dan amnesia, aku telah berusaha sampai saat ini, untuk menemukan orang lain di luar sana, untuk berbagi rasa dan menghabiskan masa tua suatu hari nanti.

Seperti yang pernah aku katakan padamu, Sora, bahwa mungkin aku telah menyerah untuk melupakanmu. Karena tiap kali aku memandang langit biru, selalu saja aku terkenang pada langit biru hari itu, hari dimana aku tahu siapa namamu. Lalu, ketika aku tenggelam dalam lamunan kisah tak sampai sepihak dari sudut pandangku ini, aku menyesali, mengapa aku tak bisa beranjak darimu semudah itu. Lalu aku sampai pada pemikiran, mungkin kau memang tak akan pernah bisa terhapuskan dari sejarah masa mudaku.

Lantas, ketika untuk kedua kalinya aku mengambil jalan yang salah, entah mengapa yang teringat pertama kali adalah kau. Selalu mengutuki mengapa aku dan kau tak berjalan semudah yang aku bayangkan. Atau aku hanya terlalu berharap tinggi, bahwa suatu ketika ada seseorang sepertimu yang bisa benar-benar mengisi hariku siang malam, pagi petang, cerah berawan, terik berbintang.

Ah, betapa menyedihkannya aku ini. Menulis kepadamu di tempat ini bukankah semakin menandakanku bahwa aku tak bisa beranjak darimu? Bahwa duniaku sepenuhnya milikmu? Bahwa aku amsih berkutat pada masa lalu yang telah lama berakhir tidak bahagia?

Sudah lah, mungkin memang kamu, satu-satunya langitku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar