Jumat, 23 Agustus 2013

Semesta Berbicara

Semesta bergerak dalam sebuah rangkaian seri pararel, menggerakkan masing-masing dari kita seperti antariksa yang mengerucut memuai, seperti jejaring benang yang berkaitan satu sama lain, seperti kepak kupu-kupu yang membikin tornado di seberang lautan.

Kita adalah manusia yang tersesat diantara ruang dan waktu yang orang lain definisikan, terus tumbuh bergerak liat diantara keajaiban, mencari makna diantara penciptaan-penciptaan Tuhan. Ada kalanya kita tahu dimana jalan yang panjang ini mengarah, meski sering sekali kita tersesat pada liku lekuk pejalanan, malah, seringnya makin terperosok saja tanpa tahu jalan untuk pulang. Namun, ketersesatan 'sesaat' itu bukannya menjauhkan kita pada pencapaian yang dicita-citakan, tapi mungkin saja malah jadi jalan pintas. Meski aku tak dapat menjamin apakah benar, jalan singkat itu akan jadi hal yang menggembirakan atau tidak.


Lalu, seperti halnya perjalanan mengelilingi bola bulat dunia, kita akan kembali ke sebuah titik akhir yang menjadi mula. Ah, mungkin Tuhan sedang iseng dan senggang saat menciptakan manusia, yang ia ciptakan sebanyak-banyaknya, yang ia tulis kisahnya mulai dari yang paling tragis sedih sederhana teraniaya kaya raya bahagia merana hingga sekelas iklan murahan FTV sinetron panjang tegak bersambung film holly-bolly-wood, yang mana saja, sama-sama menghibur.

Dan kita, manusia, hanya satu diantara titik-titik yang membentuk garis tegak lurus melengkung berubah beraturan.

Senin, 12 Agustus 2013

Secercah Jalan Pulang

Gila, ini pencerahan atau apa, sih? Kenapa ketika kuputuskan untuk kembali ke jalan yang benar, setelah semua ketersesaatan bertahun-tahun, godaan di garis start muncul lagi?


Ketika membuka dokumen lama, mengenai matahari, awan, kisah-kisah Sabrina, dan juga si penjejak, aku kembali terpekur merenungi abu sisa-sisa upacara ngaben beberapa tahun lalu, yang membakar habis tubuh perasaanku padamu yang kubunuh suatu malam. Iseng, aku berlarian seperti setan menuju stasiun, lewat depan rumahmu dan terkejut. Ada gerangan apa yang menjadikan rumahmu begitu senyap dan pendar cahaya hangat perapian istrimu itu tak nampak pula malam ini?

Lalu aku bergosip pada angin dan mendengar kabar, istrimu (lagi-lagi) meninggalkanmu, minggat dari rumah. Mungkin terpincut episode sinetron yang lain, dan kini meninggalkanmu sendiri dalam kemalangan yang kau coba untuk perjuangkan? Aku termangu nyengir gila, entah harus ikut sedih mengasihanimu atau berteriak sujud syukur kau kembali sendiri meski aku tahu, aku tak ada kesempatan lagi karena semua itu telah terlewat hampir satu dekade lalu!

Well, lihat, kali ini kita sama-sama sendiri, berdiri dalam sebuah jalur lari, yang aku tak tahu bagaimana masing-masing jalur ini memposisikan diri, hingga suatu ketika akan berpotongan lagi atau hanya sekedar sejajar berubah beraturan hingga melebar dan menghilang di suatu sudut jalan. Entah, yang mana saja kupikir adalah hal-hal terbaik yang pernah Tuhan bikin untuk diri kita kini atau nanti. Tapi ide, untuk memperbaiki atau memulai kembali apa yang belum sempat kuawali pada awal masa mudaku, entah mengapa membuatku nyengir sinting dan diam-diam berharap juga, Tuhan memang usil dan pada akhirnya kita akan bersama.

Lalu, mungkin saja, suatu ketika, jalur lari kita yang panjang ini, akan berhenti pada sebuah kedai kopi yang memang terkenal di seluruh pelari semua negeri. Kita akan tanpa sengaja bertemu di sana dan melemparkan tatap-tatap mata ala sepenggal sinetron, bertukar chemistry. Lalu kita akan saling tersenyum satu sama lain, saling mendekat dan bersalaman, mengenang masa lalu yang konyol. Lantas seperti adegan-adegan picisan lain, kita akan bercerita mengenai kehidupan, dan Tuhan memang jenaka karena telah membuat kita menunggu bertahun-tahun lamanya dalam genangan sinetron berkepanjangan yang ketinggalan jaman, hingga roman picisan ini terlihat begitu nyata di mataku. Dan seperti film-film picisan lain, kita akan berakhir dalam tawa suka duka bersama hingga hari tua.


Hei Sora, ingat kata-kataku bertahun-tahun lalu? Selalu ada tempat untukmu kembali kepadaku, aku pastikan itu.

Jumat, 09 Agustus 2013

Episode Sinetron (yang lain)

Setelah paling tidak berhenti dari dunia persinetronan, aku sebagai sutradara, selama kurang lebih satu tahun ini tercengan sendiri mengapa sebuah episode sinetron menghampiri aku dua hari terakhir ini. Aku tak ingin berkilah, hanya tercengang, bahwa dunia sinetron dekat sekali dengan kehidupanku. Dan jujur, cerita lebay bombai berurai air mata kesedihan yang mendamba kebahagiaan ini membuatku ingin menyingkir dari para pemainnya dan memilih untuk merenung duduk bersama keponakan Bo Bo Ho-ku.

Mari kita namai episode sinetron ini sebagai episode, 'Ayah yang Mendzolimi Ibu Mertua, Istri, Anak, Menantu, dan Cucu Tercinta.' 

Nah, tak perlu kuceritakan lagi kan kira-kira kisahnya dapat kau tebak sendiri. Seorang ayah yang lari bersama janda tetangga depan rumah meninggalkan istrinya tercinta bersama ketiga anak dan 2 orang cucu, mengkhianati kepercayaan istri dan para mertua, sekaligus menghancurkan hari anak-anaknya yang meski sudah dewasa, tetap menghadang mobilnya sambil membawa kapak, clurit, linggis, dan perkakas tukang kayu lainnya, berniat membunuh sang ayah yang dzalim. Dan cucunya yang masih 6 tahun itu, dibuatnya terdiam meski ia sebenarnya tahu tapi kurang paham apa yang terjadi, ada trauma besar dalam benaknya, pada sepenggal episode sinetron ini.

Dan aku, yang mendengar kisah pilu saudara sepupu yang besar bersamaku, melihat tangis yang ditahan sambil meringis kesakitan dalam hati jiwa dan pikiran, hanya bisa diam dan memilik untuk mlipir mencari tempat yang tepat untuk berkontemplasi menarik napas dalam-dalam, sambil mengumpat kepada Gusti. Ya Allah, sampai kapan episode sinetron ini akan terus bermunculan silih berganti?

Lalu aku celingukan sendiri di tempatku berdiri karena takut, di suatu tempat, entah dipojok pintu, di jendela, digorden atau dipucuk pohon, ada mata kamera yang mengawasi semua episode ini dan disiarkan pada stasiun tivi swasta sebagai hiburan para ibu-ibu yang bosan merumpi di suatu planet lain di jagad semesta ini.

Rabu, 07 Agustus 2013

Sebuah Salam

Sebuah salam dari Sabrina,
kepada Justin dan Francis yang tak dapat hadir

Apa kabar kawan? Lama sejak terakhir kali mendengar kabarmu dari papan depan stasiun itu, aku tak tahu kemana pergimu, kawan berbagi pra-remaja. Lantas ketika dipenghujung suatu hari kita bertemu lagi, kekikukan yang tersisa ketika masa kelulusan pra-remaja itu, entah mengapa sirna begitu saja. Kita begitu lugas mengatakan apa yang hendak kita utarakan. Pertanyaan-pertanyaan seputar kabar, kau sekarang dimana, bagaimana, bersama siapa mengalir satu-satu lewat mulutku mulutmu mulut mereka. Aku senang tak menghindar dan aku serasa kembali ke masa dimana kita masih anak-anak betul, sebelum kita mengenal apa itu laki-laki perempuan dan apa yang bisa terjadi diantaranya. Kita ibarat anak SD yang menemukan teman sepermainannya yang telah lama menghilang. Ya, aku senang.

Kudengar, Carissa sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, dalam waktu dekat. Lalu aku mulai mendengar cerita-cerita mengenai teman se-geng yang juga telah dijodohkan seperti Carissa yang telah bercincin. Aku hendak mengolok-olokmu, Justin dan Francis kawanku, bahwa kesempatan kalian telah lama terlewat. Dan cerita masa kanak-kanak itu hanya akan jadi bahan olok-olokan kita di masa tua. Ya, aku senang sekali.

Kapan lagi, ya, kita akan bertemu selengkap dulu?

PS : kabari aku segera ya, aku takut aku telah berada di tempat yang membuatku tak dapat kembali kepadamu.

Selasa, 06 Agustus 2013

Badai Laut

Di antara gelegar dan bau mesiu yang mewarnai langit, dan tikar yang digelar sejengkal tak muat kita semua duduki, di antara asap-asap tembakau yang kau hisap kuhirup, dan diantara kehiruk pikuk kikukan semua ini, mengapa kau sendiri yang terlihat nelangsa diantara semua suka cita yang kita hidangkan malam ini?

Sudah kelima kalinya, dalam tahun-tahun belakangan ini, ritual pertemuan besar-besaran diselenggarakan, secara lengkap maupun tidak. Dan sekali ini dalam tahun-tahunku, aku melihatmu menahan perih yang diam-diam kau pendam dalam-dalam, yang kau simpan rapat-rapat, yang kau tak mau bagi bersamaku atau orang-orang itu, yang membuatmu berlari meski tanpa alas kaki, yang membuatmu gentar pada geletar perasaanmu yang terus mengakar. Hei, bang, mengapa kau begitu seperti ini, tega menyeretku dalam kecamuk perasaan sedih dan kalut kemelut badai laut dalam hatimu?

Tak Lengkap

Kuhitung, sudah kali kelima kita memutuskan untuk bertemu bersama tiap tahunnya.

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ada-ada saja yang tak mau dan tak bisa hadir kali ini. Aku pikr tak masalah, karena meski kita dianggap suatu keluarga paling rukun sedunia, ada saat dimana diri kita saat ini akan menghalangi pertemuan semacam ini. Hari ini adalah buktinya.

Sudah berapa tahun bersama kita pergi dari rumah kita itu?
Bertahun-tahun, hingga membuatmu jadi seseorang seperti ini. Berubah? Tidak, kurasa kau memang berubah tetapi sebagian dari dirimu masih tetap kau beberapa tahun lalu. Tapi aku merasa tak lengkap bersama kau semuanya, semacam puzzle yang belum tuntas dimainkan. Ah, biarlah, toh beberapa orang diantaramu dapat menghapuskan rinduku, atau malah makin membuatku merindukanmu.

Diantara 2 kubu yang ada malam itu, kubuku dan dirimu yang bercerita mengenang masa lalu untuk membangkitkan suasana meski ada satu orang yang dikorbankan untuk jadi bahan olok-olokan, aku sendiri, atau kau yang cari mati dengan menyapanya. Sedang, ada kau yang satunya, yang sibuk menyesapi tembakau, yang asapnya memenuhi udara, membautku sesak akan perasaanmu yang berat malam ini. Ah, ada dia yang tak datang malam ini. Dan ada kau yang satunya lagi, yang diam menunggu mendengarkan seolah akan tahu aku dan kau coba bicarakan meski saling melempar tombak, mata panah, pisau, dan juga batu, yang kita lakukan sambil menyembunyikan tangan masing-masing.Tapi malam ini aku kehilangan dirimu yang satunya lagi, yang ceria, yang selalu membangkitkan gelak tawa, yang rela dilempari berbagai macam rajah senjata tanpa mengeluh peluh luh. Kemana KAU? Apakah terjadi sesuatu dalam perjalananmu ke tempat ini? Apakah anjing tetangga menggigit habis lidahmu hingga kau membisu tak mau memperlihatkan lidahmu?

Hei, aku juga rindu kau-kau-kau yang lain yang satunya yang ini yang itu yang disana yang disini. Ya kau. Tak lengkap malam ini tanpamu. Kau sekalian janji akan bertemu denganku dalam waktu dekat, kan?