Selasa, 06 Agustus 2013

Badai Laut

Di antara gelegar dan bau mesiu yang mewarnai langit, dan tikar yang digelar sejengkal tak muat kita semua duduki, di antara asap-asap tembakau yang kau hisap kuhirup, dan diantara kehiruk pikuk kikukan semua ini, mengapa kau sendiri yang terlihat nelangsa diantara semua suka cita yang kita hidangkan malam ini?

Sudah kelima kalinya, dalam tahun-tahun belakangan ini, ritual pertemuan besar-besaran diselenggarakan, secara lengkap maupun tidak. Dan sekali ini dalam tahun-tahunku, aku melihatmu menahan perih yang diam-diam kau pendam dalam-dalam, yang kau simpan rapat-rapat, yang kau tak mau bagi bersamaku atau orang-orang itu, yang membuatmu berlari meski tanpa alas kaki, yang membuatmu gentar pada geletar perasaanmu yang terus mengakar. Hei, bang, mengapa kau begitu seperti ini, tega menyeretku dalam kecamuk perasaan sedih dan kalut kemelut badai laut dalam hatimu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar