Jumat, 09 Agustus 2013

Episode Sinetron (yang lain)

Setelah paling tidak berhenti dari dunia persinetronan, aku sebagai sutradara, selama kurang lebih satu tahun ini tercengan sendiri mengapa sebuah episode sinetron menghampiri aku dua hari terakhir ini. Aku tak ingin berkilah, hanya tercengang, bahwa dunia sinetron dekat sekali dengan kehidupanku. Dan jujur, cerita lebay bombai berurai air mata kesedihan yang mendamba kebahagiaan ini membuatku ingin menyingkir dari para pemainnya dan memilih untuk merenung duduk bersama keponakan Bo Bo Ho-ku.

Mari kita namai episode sinetron ini sebagai episode, 'Ayah yang Mendzolimi Ibu Mertua, Istri, Anak, Menantu, dan Cucu Tercinta.' 

Nah, tak perlu kuceritakan lagi kan kira-kira kisahnya dapat kau tebak sendiri. Seorang ayah yang lari bersama janda tetangga depan rumah meninggalkan istrinya tercinta bersama ketiga anak dan 2 orang cucu, mengkhianati kepercayaan istri dan para mertua, sekaligus menghancurkan hari anak-anaknya yang meski sudah dewasa, tetap menghadang mobilnya sambil membawa kapak, clurit, linggis, dan perkakas tukang kayu lainnya, berniat membunuh sang ayah yang dzalim. Dan cucunya yang masih 6 tahun itu, dibuatnya terdiam meski ia sebenarnya tahu tapi kurang paham apa yang terjadi, ada trauma besar dalam benaknya, pada sepenggal episode sinetron ini.

Dan aku, yang mendengar kisah pilu saudara sepupu yang besar bersamaku, melihat tangis yang ditahan sambil meringis kesakitan dalam hati jiwa dan pikiran, hanya bisa diam dan memilik untuk mlipir mencari tempat yang tepat untuk berkontemplasi menarik napas dalam-dalam, sambil mengumpat kepada Gusti. Ya Allah, sampai kapan episode sinetron ini akan terus bermunculan silih berganti?

Lalu aku celingukan sendiri di tempatku berdiri karena takut, di suatu tempat, entah dipojok pintu, di jendela, digorden atau dipucuk pohon, ada mata kamera yang mengawasi semua episode ini dan disiarkan pada stasiun tivi swasta sebagai hiburan para ibu-ibu yang bosan merumpi di suatu planet lain di jagad semesta ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar