Senin, 12 Agustus 2013

Secercah Jalan Pulang

Gila, ini pencerahan atau apa, sih? Kenapa ketika kuputuskan untuk kembali ke jalan yang benar, setelah semua ketersesaatan bertahun-tahun, godaan di garis start muncul lagi?


Ketika membuka dokumen lama, mengenai matahari, awan, kisah-kisah Sabrina, dan juga si penjejak, aku kembali terpekur merenungi abu sisa-sisa upacara ngaben beberapa tahun lalu, yang membakar habis tubuh perasaanku padamu yang kubunuh suatu malam. Iseng, aku berlarian seperti setan menuju stasiun, lewat depan rumahmu dan terkejut. Ada gerangan apa yang menjadikan rumahmu begitu senyap dan pendar cahaya hangat perapian istrimu itu tak nampak pula malam ini?

Lalu aku bergosip pada angin dan mendengar kabar, istrimu (lagi-lagi) meninggalkanmu, minggat dari rumah. Mungkin terpincut episode sinetron yang lain, dan kini meninggalkanmu sendiri dalam kemalangan yang kau coba untuk perjuangkan? Aku termangu nyengir gila, entah harus ikut sedih mengasihanimu atau berteriak sujud syukur kau kembali sendiri meski aku tahu, aku tak ada kesempatan lagi karena semua itu telah terlewat hampir satu dekade lalu!

Well, lihat, kali ini kita sama-sama sendiri, berdiri dalam sebuah jalur lari, yang aku tak tahu bagaimana masing-masing jalur ini memposisikan diri, hingga suatu ketika akan berpotongan lagi atau hanya sekedar sejajar berubah beraturan hingga melebar dan menghilang di suatu sudut jalan. Entah, yang mana saja kupikir adalah hal-hal terbaik yang pernah Tuhan bikin untuk diri kita kini atau nanti. Tapi ide, untuk memperbaiki atau memulai kembali apa yang belum sempat kuawali pada awal masa mudaku, entah mengapa membuatku nyengir sinting dan diam-diam berharap juga, Tuhan memang usil dan pada akhirnya kita akan bersama.

Lalu, mungkin saja, suatu ketika, jalur lari kita yang panjang ini, akan berhenti pada sebuah kedai kopi yang memang terkenal di seluruh pelari semua negeri. Kita akan tanpa sengaja bertemu di sana dan melemparkan tatap-tatap mata ala sepenggal sinetron, bertukar chemistry. Lalu kita akan saling tersenyum satu sama lain, saling mendekat dan bersalaman, mengenang masa lalu yang konyol. Lantas seperti adegan-adegan picisan lain, kita akan bercerita mengenai kehidupan, dan Tuhan memang jenaka karena telah membuat kita menunggu bertahun-tahun lamanya dalam genangan sinetron berkepanjangan yang ketinggalan jaman, hingga roman picisan ini terlihat begitu nyata di mataku. Dan seperti film-film picisan lain, kita akan berakhir dalam tawa suka duka bersama hingga hari tua.


Hei Sora, ingat kata-kataku bertahun-tahun lalu? Selalu ada tempat untukmu kembali kepadaku, aku pastikan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar