Senin, 30 September 2013

Catatan Udara (Sebuah Doa)

yang seharusnya diterbangkan dari atas merbabu, di landasan kenteng sanga, yang gagal sampai di tanganmu



Tuhan, aku ingin jatuh cinta. Tapi ingatkan aku, karena aku mungkin telah lupa, mengejanya, membacanya, merasakannya terhadapmu. Berikan aku besempatan berkali lipat, tak hanya sekali. Karena kadang aku tak bisa membedakan yang mana kesempatan yang mana ketaksengajaan. Lalu beri aku keberanian, untuk mengenalinya selagi sempat, sebelum semua terlambat, sebelum kesempatan itu menyempit.

Ya, biarkan aku terakhir kali ini jatuh cinta kepadamu.

Jumat, 27 September 2013

Catatan di Atas Tanah

(yang tertunda untuk diterbangkan)



Ini bukan doa, hanya gumaman saja.
Kelak ketika ada sebuah kesempatan dalam kesempitan, aku akan memanfaatkannya, berusaha mengenalimu diantara jutaan orang-orang ini. Sekali, ya sekali, ketika sempat, akan aku utarakan, mengapa tak kau lihat saja aku yang ada di sini yang sejelas ini?

Jumat, 13 September 2013

Kesempatan Gelap

Dalam keremangan, diam-diam kau menjelma gelap yang menyilaukan mata.


Sedetik saja, baru kemarin aku merindu, keketusan suaramu dan kata-katamu padaku, keacuhanmu akan keberadaanku, dan tatapan yang kau buang selalu. Kali ini, ada kesempatan langka, bertemu kau dalam temaram yang ramai oleh suara-suara semu yang aku kau acuhkan dalam kelindan diam. Aku dan kau sama-sama menyesapi, keheningan yang tak terbantahkan, kata saling sapa yang tak ada sejarahnya kita bersuara, sekejap menatap pun tak pernah. Ibarat kita sama-sama saling tahu, ada yang tak sempat terucap karena memang tak ada. Asap pembakaran mengepul ke udara dibawah seperempat bulan yang ranum, melankoli masa lalu menghinggapi hatiku, sedikit gundah atas keberadaanmu. Lagi-lagi, meski telah berdoa suatu ketika akan ada keberanian dalam kesempatan sempit yang Tuhan sempat berikan, tetap saja, aku mengkaku bisu gagu tak berani bersitegap terhadapmu.

Tapi, diakhir malam itu, ada sedikit saja, ya sedikit saja, keberanian untuk menyapa basa basi rapi, sekelebat saja, diantara deru huru hara kendara.

Yang Kasat Yang Tak Terkecap

Tuhan, berikan sedikit saja kesempatan dan keberanian, untuk memperjuangkan yang kasat mata.


Lagi-lagi Tuhan bercanda kepadaku, tentang alur-alur cerita yang berliku bagai menyusuri perengan perbukitan seribu. Ada celah, yang bisa kususupi untuk mencoba lagi, mencoba mengeja yang tak sempat terasa lama, mengejap yang kasat mata. Hari-hari terakhir terbayangi gurat-gurat yang dulu familiar, bau yang menggairahkan otak -memabukkan, candu malah sendu haru biru, kopi bubuk gilingan sendiri- dan sosok yang lebih seperti bayangan dengan latar belakang sumber cahaya.

Mungkin dulu ada yang tak sempat aku serapi,sesapi, yang kini menggila di kepala seperti objek yang mengambang di ruang hampa. Aku ingin menyapa, tapi kata selalu menemukan jalannya untuk tersendat tercekat pada ruang yang tak muat didesaki.

Jikalau aku tahu, bahwa waktu menggerakkan kita ke suatu tempat yang berbeda, maka mungkin memang aku tak sempat mengucap yang dulu terejawantahkan pada mata, yang dulu mulut ini khianati dan ingkari. Jikalau kini sekali lagi kita tergerakkan menuju ujung yang sama, maka aku akan mulai menelusur masa lalu, menafsirkan yang salah dan mencari keberanian kesempatan untuk menggerakkan hati.

Kau, semoga kini berani, membalas kasat rasa yang akan aku beri kesempatan untuk kau nikmati.

Minggu, 01 September 2013

Surat Panjang

Untuk Cahaya,

Terjadi lagi, untuk yang kesekian kalinya, aku tak tahu alasanmu, tapi sepertinya aku tahu sesuatu.



Diam tak akan membuatku tahu apa yang kau pendam, yang kau sembunyikan. Hanya akan membuatku semakin bertanya-tanya kepadamu, dan dengan tak tahu malu, membombardirmu bahwa aku merinduka pertemuan kita bertika pada suatu senja di sebuah tanah lapang dengan ujung keranjang bola. Masih ingatkah kau ketika kita bertiga bersama-sama mengecak kamarmu, mengecatnya dengan janji-janji kenaifan kita, yang lalu kau tutupi dengan lemari baju karena rasa kehilanganmu pada akhir suatu september. Masih inagtkah kau ketika kita bertiga bersama-sama beradu akurasi, meski kita berdua selalu kalah darinya, ya si jenius yang menyebalkan itu. Masih ingatkah kau ketika kita bertiga, duduk-duduk di pinggir jalan sambil menanti tenggelamnya matahari, nyemil gorengan berbekal selembar tikar dan penerangan ala kadarnya dari iklan besar di depan sekolah kita.

Aku masih ingat betul, semua fragmen-fragmen yang kita susun bersama-sama. Ikrar kita untuk tak meninggalkanku, kau, dan dia. Karena kita adalah trio orang bodoh yang tak terkalahkan, aku masih ingat itu. Karena ketika kita pentas di lapangan, tak ada satupun kombinasi dari mereka yang mampu mengalahkan kekompakan dan kekocakan kita. Aku masih menyimpan dengan baik, sebuah kalimat yang kau katakan kepadaku. Kusimpan betul dalam kotak ajaib yang bisa melakukan apa saja.

Jika dewasa itu berarti harus meninggalkan-mu, maka saya memilih untuk tidak pernah menjadi dewasa.

Tapi kita semua tak bisa mengelaknya, bukan? Meski kita bertiga mati-matian mengelak dan mengatakan dan berteriak pada dunia kita tak akan pernah menjadi dewasa, biar tetap jadi kanak-kanak saja, bukankan malah kita melakukannya? Kita telah lama berhenti saling menyapa di dunia maya. Yah, meski aku yakin tanpa percakapan hampa itu kita tetap akan kompak dan tak terkalahkan ketika kita bertiga berkumpul. Lalu dia sedikit menyinggung perasaanmu meski kau tahu ia hanya bercanda. Hei, kau malah lebih lama mengenalnya daripadaku kan? Lalu kau mulai menghindari kami berdua, mengelak dari setiap perjumpaan yang diaransemen. Lalu dia yang begitu cuek tak peduli kau mau datang atau tidak karena dia memang seperti itu dari dulu, egois seperti anak-anak. Ya, anak-anak, seperti maumu. Lalu kau bilang aku berubah menjadi lebih dewasa daripada sebelumnya meski kau bilang aku masih begitu menyenangkan seperti dulu. Lalu pertemuan-pertemuan kita di lapangan sambil menunggu senja itu lama-lama semakin jarang, lalu tidak sama sekali. Kau menolak, dan memilih bersama keluargamu ketika sekali setahun kita berkumpul Oke, aku paham kau mengutamakan mereka sekarang. Lalu dia mulai mendiamkanmu, tak peduli kepadamu, meski ia masih peduli kepadaku, pada kita sebenarnya. Lalu kau mulai mendiamkanku tanpa aku tahu penyebabnya, atau mungkin aku sebenarnya tahu tetapi hanya tak mau mengakuinya?

Beberapa hari lalu aku bermimpi, tentang kita bertiga, dan 3 pasangan tanding kita yang senantiasa berubah beraturan. Aku serasa terlempar di masa kejayaan kita, ketika kita selalu meluangkan waktu setiap sore untu kberkumpul memperebutkan bola hingga memasukannya, hingga gemerincing rantai itu terdengar ketika kita menyentuhnya. Ah, aku rindu suara bola yang memantul pada lantai plesteran yang tak rata, dan juga pada angin yang terbawa ketika bola itu memasuki keranjangnya. Di mimpi itu, kau dan dia, dan 3 orang lainnya tengah menungguku yang terlambat datang. Lalu kalian semua tersenyum kepadaku yang meminta maaf karena telat. Kau dan dia nyengir lebar, memperlihatkan gigi-gigi kalian yang satu tak rata yang satu kekuningan karena kipi dan nikotin. Lalu aku bangun dan ingat kau dan dia. Seketika itu aku kirimkan kerinduanku kepadamu dan dia, berharap kau merasakan hal yang sama. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, hanya dia yang mau membalas pesanku itu, kau tidak.

Hei, aku paham betul, jarak dan waktu telah membelokkan keinginan kita bertiga untuk terus menjadi kanak-kanak selama mungkin. Tapi jarak dan waktu telah membatasi kekanak-kanakan kita, telah memaksa kita untuk menjadi dewasa. Apa kau kecewa dengan perkembangan cerita kita bertiga yang semakin memuai kedekatannya? Apa kau marah padaku dan padanya yang telah meninggalkan kita bertiga? Atau jangan-jangan kau marah pada dirimu sendiri karena kaupun juga sama dengan kita bertiga meski kau sendiri yang bilang kau tak mau jadi dewasa? Ah, aku bingung padamu, sungguh. Dan lagi kau memilih untuk diam meski aku selalu mencoba menyapamu dengan berbagai cara. Ayolah, katakan sesuatu, aku tak mengerti diam-mu.


Hei, suatu hari nanti kita akan bertemu, kau janji tak akan mendiamkanku dan kembali kepada kita bertiga yang dulu kan, kawan?