Jumat, 13 September 2013

Yang Kasat Yang Tak Terkecap

Tuhan, berikan sedikit saja kesempatan dan keberanian, untuk memperjuangkan yang kasat mata.


Lagi-lagi Tuhan bercanda kepadaku, tentang alur-alur cerita yang berliku bagai menyusuri perengan perbukitan seribu. Ada celah, yang bisa kususupi untuk mencoba lagi, mencoba mengeja yang tak sempat terasa lama, mengejap yang kasat mata. Hari-hari terakhir terbayangi gurat-gurat yang dulu familiar, bau yang menggairahkan otak -memabukkan, candu malah sendu haru biru, kopi bubuk gilingan sendiri- dan sosok yang lebih seperti bayangan dengan latar belakang sumber cahaya.

Mungkin dulu ada yang tak sempat aku serapi,sesapi, yang kini menggila di kepala seperti objek yang mengambang di ruang hampa. Aku ingin menyapa, tapi kata selalu menemukan jalannya untuk tersendat tercekat pada ruang yang tak muat didesaki.

Jikalau aku tahu, bahwa waktu menggerakkan kita ke suatu tempat yang berbeda, maka mungkin memang aku tak sempat mengucap yang dulu terejawantahkan pada mata, yang dulu mulut ini khianati dan ingkari. Jikalau kini sekali lagi kita tergerakkan menuju ujung yang sama, maka aku akan mulai menelusur masa lalu, menafsirkan yang salah dan mencari keberanian kesempatan untuk menggerakkan hati.

Kau, semoga kini berani, membalas kasat rasa yang akan aku beri kesempatan untuk kau nikmati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar