Jumat, 25 Oktober 2013

Berkompromi dengan Semesta

Ex nihilo nihil fit : Tak ada sesuatupun yang muncul dari ketiadaan. Tapi ujung dari perjalan ini adalah ketiadaan itu sendiri.

Kadang Tuhan memang berbicara dengan cara yang lain, yang tak dapat manusia pahami, meski manusia berusaha untuk memahaminya. Tuhan berbicara lewat semesta. Semesta bertindak, menggerakkan manusia.

Ada saat dimana aku merasa semesta berkhianat padaku, bukan, bukan Tuhan yang mengkhianatiku. Ia selalu ada dan mendengarkan doaku, yah, sesekali mengusiliku dengan tak mengabulkan doaku. Tapi semesta lebih kejam, ia telah lama berkhianat padaku. Aku tak tahu apa motifnya berkhianat padaku. Berulang kali sejak kuhitung 9 tahun lalu.

Aku tak pernah membenci seseorang teramat dalam, pun juga kepada semesta yang telah lama berkhianat padaku. Tapi aku tak membenci semesta, pun juga aku tak pernah memaafkan apa yang telah terjadi. Yang terjadi biarlah terjadi, pun yang tak terjadi biarkan tetap tak terjadi. Seperti kata Parang Jati, aku hanya bisa mencoba berkompromi dengan apa yang telah terjadi, sambil memikirkan cara lain untuk menggugat semesta.

Ah, mungkin menggugat terlalu muluk. Mungkin aku hanya bisa mengusahakan cara lain yang jauh dari campur tangan semesta. Doa.

2 komentar:

  1. Yohanes Surya mangarkan Mestakung : Semesta Mendukung

    yen koe, Semesta Berkhianat

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahaha, apik to bang. Iku disingkat dadi Mestanat (?)

      Hapus