Selasa, 19 November 2013

Bertemu (Rindu)

Tiga jam saja, terasa selama-lamanya. Tumben, mau kumpul juga. Biasanya cuman jadi wacana saja.  Ngelengke lan diselak'ke.

Lama tak bertemu ada banyak yang terjadi dan diceritakan. Termasuk nggathuk'ke memori kolektik mengenai keluarga kertas yang tercerai berai entah berantah di dalam memori masing-masing. Cukup menyenangkan juga, menggali masa lalu dan ternyata kusadar banyak hal lucu dan tak masuk akal terjadi. Termasuk yang nggak jelas. Ah, lupakan. Toh dulu kita masih muda sekali, sekarang yang terasa hanya bertapa konyolnya kita di masa lalu yang hanya bisa kita kenang saat kita bertemu seperti malam ini. Tapi hari aneh. Sepertinya semesta mendukung pertemuan. Tiada hujan atau badai, langit cerah, awan berarakan khidmat membawa suasana nyaman, bulan juga bersinar terang. Ah, lagi-lagi bertemu saat purnama. Apa memang sudah hakikatnya pertemuan itu selalu bertepatan saat purnama? Pertemuan itu lancar. Kau kau kau yang jarang datang juga datang meramaikan suasana meski aku sedang payah-payahnya menahan kantuk karena hari ini baru tidur jam 8 pagi!

Aduh, rasanya aku masih ingin bersama kalian satu dekade lagi! Melewati hari, dan bertingkah bebas layaknya anak yang tak punya tanggungan masa depan yang hampir diujung kaki.

Jumat, 15 November 2013

Penyu-penyu

Aneh, tapi mimpi malam ini terasa nyata dan seolah membenarkan semua perasaan yang kupendam dan kututupi dan kutak acuhkan selama ini dan kuingkari padamu.

Kau, seperti biasa, menyebalkan. Seenaknya saja orang bilang kau mencariku dan berkata aku ingin bersamamu dalam sebuah tim kerja yang entah aku tak tahu untuk tugas apa. Dan seperti biasa aku hanya melongo dengan permintaanmu itu sambil bertanya-tanya darimana kau dapatkan sebendel formulir berisi namaku dan (shit) orang itu? Lalu sambil memasang tampang memelas yang tak dapat kutampikkan, aku mengiyakan saja. Sial, aku terjebak dalam semua ini.

Tahu-tahu aku sudah mengobrol denganmu mengenai buku-buku dan temanku itu. Lalu kau mengambil buku-buku yang berisi gambar tanganku dan aku baru sadar bahwa di sana ada secuplik gambar dirimu. Ah, sial, Tuhan menjebakku walau di mimpi sekalian! Lalu aku hanya bisa memalingkan muka dan kau yang terus menggodaku membuatku ingin melemparimu sesuatu.

Tau-tau aku menghindar dengan melihat aquarium di atas meja. Hei, tunggu, sejak kapan aku punya aquarium? Ah, sudahlah, ini mimpi! Lalu aku berniat mengurasnya ketika penyu-penyu itu muncul begitu saja dan kuputuskan untuk melepaskannya di luar jendela. Lalu penyu-penyu itu seolah keluar dari tanah, muncul begitu saja, begitu banyak. Lalu aku bangun tiba-tiba, menyadari bahwa mimpi-mimpi ini hanya membenarkan semua yang aku pikirkan dan rasakan terhadapmu. Sial, aku tak mau mengakui ini semua, tapi aku memang benar. Dan ketika aku membuka kitab ramalan, terhenyak menyadari makna penyu-penyu itu. Akan mendapatkan keberuntungan yang banyak. Akan bertemu seseorang yang cocok, yang akan menjadi jodohmu.



Sial, dalam satu fragmen yang sama aku memimpikanmu dan bertemu penyu-penyu itu!

Senin, 11 November 2013

Parodi Malam Sirkus

Sekejap, aku tergagap mencari sosokmu yang timbul tenggelam dalam riuh karavan sirkus malam ini.


Malam naas, berandai-andai bertemu temanmu itu, tapi tak ketemu juga. Parade musik hingar bingar dalam lautan manusia. Musik-musik asing dari kawanan gipsy membawakan aroma sirkus jalanan. Gila, mereka asyik sekali dalam kenikmatan musik yang tak kupahami itu. Lalu Tuhan sepertinya bercanda padaku, ya, melemparkan guyonan tak lucu tapi berhasil membuatku senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini. Ah, ini semua tak benar, hanya pikiranku saja yang membenarkannya.

Jadi, melihatmu dikerumunan itu bak anak kecil tersesat mencari induk. Lalu kau menghilang di kegelapan ketika kawanan gipsy itu pergi. Ah, aku tak peduli. Kupikir yang barusan itu hanya khayalanku saja berharap kau ada dan tiba-tiba muncul dihadapanku. Ya, yang barusan pasti aku sudah mabuk. Itu bukan benar-benar kau. Tapi ketika malam mendekati puncaknya dan Cinderella harus bergegas pulag, alih-alih aku mendapatimu berjalan di sampingku tanpa sepatah kata sapa yang kusesali mengapa tak kuucapkan saja barang membuka sebuah percakapan singkat sebelum hari sialan ini berganti. Tapi tetap saja, aku terlalu kikuk untuk semua hal ini dan memilih mendiamkanmu membuatku menyesal seumur hidupku dan tak berani menyapamu. Ah, sudahlah!


Hei, kalau boleh tahu, mengapa kau muncul seorang diri malam ini?

Senin, 04 November 2013

Surat yang Tak Pernah Terkirim

Puncak Trianggulasi (3.142 mdpl)


Sepertinya suratku tak sampai kepadamu karena memang tak pernah kuterbangkan.
: : Aku masih berharap surat itu sampai padamu dengan selamat
   Dan aku masih berharap kita ada di puncak ini sambil menikmati kabut pagi