Senin, 11 November 2013

Parodi Malam Sirkus

Sekejap, aku tergagap mencari sosokmu yang timbul tenggelam dalam riuh karavan sirkus malam ini.


Malam naas, berandai-andai bertemu temanmu itu, tapi tak ketemu juga. Parade musik hingar bingar dalam lautan manusia. Musik-musik asing dari kawanan gipsy membawakan aroma sirkus jalanan. Gila, mereka asyik sekali dalam kenikmatan musik yang tak kupahami itu. Lalu Tuhan sepertinya bercanda padaku, ya, melemparkan guyonan tak lucu tapi berhasil membuatku senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini. Ah, ini semua tak benar, hanya pikiranku saja yang membenarkannya.

Jadi, melihatmu dikerumunan itu bak anak kecil tersesat mencari induk. Lalu kau menghilang di kegelapan ketika kawanan gipsy itu pergi. Ah, aku tak peduli. Kupikir yang barusan itu hanya khayalanku saja berharap kau ada dan tiba-tiba muncul dihadapanku. Ya, yang barusan pasti aku sudah mabuk. Itu bukan benar-benar kau. Tapi ketika malam mendekati puncaknya dan Cinderella harus bergegas pulag, alih-alih aku mendapatimu berjalan di sampingku tanpa sepatah kata sapa yang kusesali mengapa tak kuucapkan saja barang membuka sebuah percakapan singkat sebelum hari sialan ini berganti. Tapi tetap saja, aku terlalu kikuk untuk semua hal ini dan memilih mendiamkanmu membuatku menyesal seumur hidupku dan tak berani menyapamu. Ah, sudahlah!


Hei, kalau boleh tahu, mengapa kau muncul seorang diri malam ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar