Rabu, 31 Desember 2014

Januari

Sora, pada jarak ini aku ingin kembali menemuimu.

Kita tak pernah menghitung waktu. Tahu-tahu, betapa jauh aku dari kenangan akanmu. Satu dekade dan aku hanya menghitung jari satu tangan saja tak sampai. Kamu, satu diantara jari-jari  yang kuhitung itu. Yang lainnya, ah, tak perlu kita bicarakan di sini.

Kalau boleh aku katakan, saat ini aku begitu putus asa. Mencari jari yang dapat kumasukkan dalam hitungan. Di negeri mimpi ini, aku bermimpi dapat bertemu seseorang. Tapi, ketika batas waktu untuk terjaga telah siaga, aku sadar, aku terjebak dalam sebuah romantika bacaan anak remaja.

Kalau boleh aku katakan padamu, tubuh kita menua. Semakin renta, pada rindu-rindu masa lalu, yang gempita juga pilu, romansa yang tak kunjung habis-habisnya. Adakah kita harus kembali pada masa-masa itu hanya karena aku begitu mendambakan ombak yang bergumul menghempas pantai dan menghalau kupu-kupu yang terbang menggelitiki dada kiriku? Atau adakah kita harus bertemu lagi pada waktu yang tepat tempat yang tepat dikesempatan yang kita buat? Jangan-jangan, sesungguhnya kita saling berdoa, agar jangan dipertemukan lagi, agar kau bertemu romansa yang lebih gampang tapi bukan gampangan, agar kau tak perlu susah payah gelisah tiap malam memikirkan jarak yang harus ditempuh agar benang-benang tak kusut.

Aku susah payah memperpanjang jarakku dan kau, tapi akhirnya lagi-lagi Januari mengingatkanku padamu, pada perpisahan diujung Desember, juga pada surat yang akhirnya aku kirimkan padamu di bulan Januari, juga pada yang aku ambil di bulan Desember, juga pada kerinduanku untuk dapat jatuh cinta di bulan Januari.

Kita sama-sama menua. Romansa itu, bagiku, begitu abadi.

Kamis, 20 November 2014

Sama Bersama

Jangan salahkan takdir, ketika pada akhirnya Ia mengirimmu padanya.

Entah kapan, saya baca sebuah teori fisika aneh, yang ada kaitannya denganmu. Teori itu berkaitan dengan proses nuklir saat penciptaanmu. Mungkin kamu dan dia saling tertarik satu sama lain karena saat terbentuknya semesta, atommu dan atomnya berdekatan. Meski ruang dan waktu mengembang mengempis, meski terlah melalui berbagai dimensi, pada akhirnya atom-atommu dan atom-atomnya akan kembali berdekatan.

Sekali lagi, jangan salahkan waktu, jika pada akhirnya Ia mempertemukanmu dengannya. Jangan salahkan jarak, jika pada ujungnya kau dekat (lagi) dengannya.

Kamis, 06 November 2014

Purnama Kelima

Sukra Kliwon


Kita tak akan pernah bisa beranjak. Selalu ada arus yang membawaku kembali kepadamu, ingatan tentangmu. Seperti ombak yang tiada habis-habisnya kembali ke dermaga, seperti matahari terbit tenggelam yang tak pernah berhitung waktu, seperti rembulan yang sabit kembali purnama. Aku tak membenci laut, matahari pun purnama. Hanya saja, kombinasinya mengingatkanku kepada dirimu.

Kemana saja aku selama ini? Rasanya, aku terdiam begitu lama. Apa yang aku lewatkan? Ah, iya, benar, aku mungkin telah melewatkanmu. Iya, betul-betul melewatkanmu. Dan mungkin, pun aku tak ingin kembali pada saat-saat itu di masa depan. Aku, mungkin tak ingin menemuimu lagi, dalam sebuah roman.

Aku, tak ingin bertemu denganmu dalam sebuah cerita roman. Itu saja.

Senin, 20 Oktober 2014

Hanya Sebuah Pesan Setelah Sekian Lama

Untuk sahabatku, saudara seperguruan, dan partner in crime saat remaja yang sedang berada di bumi Parahyangan. Ah, mungkin juga kuperuntukkan pada sahabat-sahabatku yang lain. Surat ini telat, karena aku kalah dari peperangan dengan kesibukan yang lain


Mari kita buka surat ini, monologku ini.

Sudah lama sejak aku bertatap muka denganmu. Kapan ya itu? Setahun lalu? Dua tahun lalu? Tapi itu tak penting, mengukur waktu itu tak penting. Bukankah waktu benar-benar telah memekarkan jarak kita saat itu hingga saat ini? Kita semakin jauh. Menjauh. Dan ingatan semakin samar. Saru dengan masa lalu, kenangan yang dahulu. Aku mulai susah mengingat kejahatan apa yang pernah kita lakukan bersama di masa lalu. Ah, bahkan, percakapan kita yang terakhir saja aku sudah lupa, atau kapan, aku sudah lupa. Otakku seenaknya saja mereduksi ingatan-ingatan tak penting yang penting. Daripada berusaha mengingat lagi, kita lebih sering mengenang, berusaha mengenang kepayahan. Kita lebih sering menyalahkan waktu, ketimbang berusaha mencari luang, meluang, padahal ya, bukan itu alasannya. Hanya aku kamu tahu, ada yang tak bisa kembali meski dikenang satu-satu

Mungkin kita hanyalah debu di antara udara, atau mungkin lebih kecil daripada itu. Semesta begitu luas, meluas. Dan kita saling menemukan satu sama lain, lalu berpisah dan dipertemukan kembali, lalu berpisah, lagiTapi waktu sepertihalnya air, dan jarak seperti halnya karet, mulur melar, pada setiap langkah yang kita tempuh. Mungkin kau juga tau, ada yang tak bisa aku sambung, meski jarak begitu jauh. Ada yang tak bisa aku seberangi, meski ada jeda begitu lama.


Maaf, mungkin aku memang kurang berusaha, mungkin aku memang malas berusaha, mungkin memang sudah waktunya kita berubah? Atau memang kita telah berubah. Atau memang aku berubah. Begitu pula kau telah sadar itu. Mungkin.


Tapi, aku pastikan satu hal ini. Akan selalu ada tempatmu untuk kembali kepadaku, meski aku bukan yang dulu, dan kamu juga bukan yang dulu. Kita sama-sama baru. Detik ini. Nanti.

Selasa, 08 Juli 2014

Percakapan (Saat) Mendaki

Dan bukankah, Tuhan tak memberikan cobaan yang tak dapat manusia lampaui?



Entah sudah berapa kali, berapa lama, tanjakan ini kutempuh. Kadang pelan-pelan karena memang susah, kadang pelan-pelan karena pemandangan yang menggugah, kadang pelan-pelan karena memang ingin beristirah, kadang pelan-pelan karena terpintas untuk menyerah. Kadang cepat-cepat karena bersemangat, kadang cepat-cepat karena ingin lekas sampai. Tapi, di balik puncak masih ada puncak lagi.

Kadang terpikir, ah, sudah, menyerah saja, di rumah ibu masak makanan kesukaanku. Di rumah ada televisi, nonton sambil tiduran di kursi empuk enak sekali. Sedang, apa-apaan tanjakan ini? Lagipula, mengapa aku harus menempuh tanjakan ini? Tuhan, apa kau sedang bercanda kepadaku? Bukakah kau berikan orang lain jalan yang lebih mudah daripadaku? Aku, aku sungguh tak mengerti lagi. Kalau aku putar balik dan menyusuri jalan pulang, tak mengapa kan?

Tapi, tapi, tapi, aku tak rela. Meski tanjakan ini akan berakhir di tanjakan lainnya, meski puncak yang kutuju bukan lah puncak yang sebenarnya, aku akan terus menyusuri jalan ini. Setidaknya, kalau aku bosan aku akan terus berjalan dan pura-pura senang. Jikalau pemandangan sekitar memang lebih indah, aku akan pelan-pelan saja. Sesekali nyasar juga tak mengapa. Tapi aku tak akan berhenti di sini, meski aku tak dapat berlari. Gila aja tanjakan lari, mau bunuh diri dengan mematahkan kaki apa?

Ya, begitu saja, aku setuju. Aku akan simpan tangis keputus asaanku ini buat esok, esok ketika aku menyelesaikan tanjakan ini. Ya, tanjakan ini, dan tanjakan tanjakan lainnya.

*

Hidup memang seperti mendaki. Puncak sudah terjanji, nanti kamu akan moksa lebur ing pati.

Selasa, 20 Mei 2014

Menolak Lupa

Menjelang senja, kutemukan serangkaian kata yang kau tuturkan dengan begitu syahdu, hingga ngilunya sampai kepadaku.

Aku telah belajar untuk merelakanmu, kawanku, membagimu dengan orang yang kini lebih mengenalmu. Karena aku tahu, yang kukenal darimu hanya secuplik dari masa lalumu, masa-masa ketika kau baru akan tumbuh jadi orang dewasa yang kini sering kali menyebalkan. Kau bilang kau mulai lelah dengan pertemanan ini. Tapi mengapa aku malah semakin merasa aku ingin terus bersamamu hingga entah kapan? Bukan bersamamu untuk berbagi hidup, tapi bersamamu untuk mengenang masa lalu yang begitu jaya, yang nikmatnya mungkin tak terkalahkan oleh kebahagiaan manapun yang kita rasakan sekarang.

Aku tahu kamu hanya sedikit cengeng. Dikit-dikit mengeluh malas bertemu, dikit-dikit ngambeg dan mutung karena ketidak jelasan kita yang masih bertahan sejak dulu. Tapi bukankah kau sudah mengenalku dan mereka setelah sekian lama? Apa jangan-jangan, selama tahun-tahn terakhir ini kau telah melupakan nikmatnya menjadi anak muda yang suka basa basi bercanda sana sini tak jelas ujungnya seperti yang biasa dulu kita lakukan? Ah, mungkin kau memang sudah menua, hingga lupa.

Kau bilang, pada akhirnya, tak ada yang benar-benar kau kenal dariku, darinya, dari mereka. Itu kata-kataku, kau ingat? Dulu mungkin aku akan bersikeras kalau aku tak menyukai perubahan. Tapi apa daya, bahkan semesta saja mendukung setiap perubahan yang ada.

Kawan, aku sedih melihatmu menghindar seorang diri, menghindari teman-temanmu yang kau bagi masa muda di masa lalu, mengabaikan semua jenis kontak yang kucoba lakukan untuk menjangkaumu. Aku merasakan kehilangan yang teramat sangat akan penolakanmu itu. Sudah cukup bagiku hanya bertemu denganmu setahun dapat dihitung jari. Tapi jangan kau tambahi lagi dengan ke-takbersediaan-mu untuk bertemu.

Ah, aku tulis panjang lebar disinipun, kau bahkan tak pernah meliriknya, kan?
Sudah, aku tahu kau berubah. Semua orang berubah. Tapi kita harus berkompromi dengan perubahan ini. Karena aku menolak untuk melupakanmu.

Minggu, 04 Mei 2014

Surat untuk Seorang Kakak

Mei, ya, ini sudah Mei. Sebentar lagi aku akan melepasmu pergi, seperti seorang adik yang melepaskan kakaknya di pelabuhan untuk pergi berkelana berlayar ke dunia. Aku merasa perlu menuliskan ini, kakakku tersayang. Karena aku yakin kau mungkin tak akan membacanya. Tapi aku ingin menjadikan ini penanda, bahwa aku akan begitu sedih melepasmu.

Kakakku, yang kutemukan setelah aku dewasa.
Semalam lalu, aku memimpikanmu. Sekali ini diantara ribuan mimpi yang kuingat dan kulupakan. Sekali ini aku memimpikanmu, melepaskanmu. Entah ini pertanda apa, mungkin pertanda bahwa melepasmu akan sebegitu berat, mungkin aku akan tak kuasa menahan air mata, seperti saat aku menuliskan ini.

Terimakasih karena kau telah hadir menjadi sosok yang aku dambakan sejak kecil. 
Penyakit brother complex ini mungkin belum sembuh betul sampai kau akan pergi beberapa hari lagi, mungkin juga tak akan sembuh. Diantara semua kakak yang kutemui di perjalanan ini, hanya kamu, ya, hanya kamu yang benar dekat dihati. Rasanya sudah seperti kau kakak kandungku sendiri. Aku menemukan diriku padamu, menemukan diriku yang laki-laki di sosokmu. Bersamamu aku seperti bercermin.

Terimakasih telah membawaku sampai puncak Hargo Dumilah dan puncak Triangulasi.
Mereka bilang aku merasakan sesuatu yang lebih kepadamu. Ya, mungkin mereka benar. Mungkin aku memang merasakan sesuatu yang lebih kepadamu. Mungkin aku telah jatuh hati padamu. Tapi kurasa, yang kurasakan padamu ini lebih dalam daripada sekedar roman picisan. Ini lebih dari sekedar ini, ini lebih dalam lagi, hingga rasanya sakit sekali melepasmu.

Terimakasih karena telah ada disaat apapun dalam hidupku.
Perempuanmu pasti sangat beruntung bersamamu. Aku semakin mengerti mengapa ia jatuh cinta padamu. Kebaikanmu telah menyentuh kebebalanku. Nasehatmu telah membimbingku melewati hal-hal tergalau dihidupku.

Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Aku terlampau kehilangan kata-kata untuk melanjutkan tulisan ini. Kakakku tersayang, aku menyayangimu melebihi diriku. Jangan lupakan aku meski dunia telah kau kitari.

Tertanda,
Adikmu yang selalu menyusahkanmu.

Rabu, 16 April 2014

Waktu

Siapa bilang aku tak berubah? Seperti halnya kau, kini aku memihak pada waktu.


Aku membencimu yang mempertanyakan kualitas pertemanan kita. Jelas-jelas saja aku membuang 'segala'nya demi seonggok hubungan bernama pertemanan! Ya, seonggok, karena memang kau mengonggokkannya begitu saja di mukaku. Kita tahu, jelas sangat tahu, waktu dan jarak lagi-lagi memperlihatkan bahwa hubungan yang terjalin baik manapun, tak akan kekal. Semua hal berubah, aku kamu mereka kita semua, bahkan atom terkecil dari inti alam semesta ini terus berubah. Seperti halnya waktu yang terus melaju, seperti hanya roda yang terus berputar untuk dapat menyeimbangkan diri. Begitulah semesta terus berlanjut, menuju entah apa aku juga tak tahu.

Dan jelas saja, perubahan adalah bagian dari tumbuh. Aku dulu mengatakan padamu aku benci tumbuh menjadi dewasa. Tapi sekali lagi waktu dan jarak membuatku luluh, meski aku menggugat setiap perubahan, kini aku berkompromi dengannya. Tapi bukan kah itu esensi dari menjadi dewasa? Tercerahkan oleh pengetahuan yang bertambah, yang membuatmu tak lagi jadi anak ingusan kemarin sore. Kewajiban yang semakin banyak mengalahkan hak asasi kita sebagai seorang individu yang bebas. Meluaskan pandanganmu yang sempit oleh keegoisan masa muda.

Dan kau mempersalahkan semua itu atas ketidakbecusanmu berkompromi dengan waktu dan jarak, ah, apalagi perubahan. Kau hanya mengkambinghitamkanya karena tak menemukan cara untuk berkompromi dengannya. Tapi meski kau berkata kau telah berubah dan tumbuh dewasa, bukankan kau yang tak sanggup berkompromi dengan perubahan dan mempersalahkannya atas semua ketidaknyambungan kita ketika bertemu itulah yang membuatmu masih menjadi anak ingusan berpikiran sempit karena ego masa muda yang telah menganggap dirimu sendiri yang tumbuh dan orang lain yang tak tumbuh sehingga membuat kita tak bisa lagi berteman?

Entah aku harus tertawa sarkas atau harus sedih?

Aku tahu kawan, tanpa kau beritahu pun aku telah mengerti sejak lama. Ketika kita semua melangkahkan kaki keluar dari rumah itu, rumah kita dulu itu, jauh sebelumnya aku telah berfirasat semua ini akan terjadi. Itulah mengapa aku katakan padamu aku membenci tumbuh menjadi dewasa. Karena ketika kau pada akhirnya tak bisa melalui tahap diantaranya, kau hanya akan menjadi tua dan menyebalkan. Tanpa kau katakan pun, aku telah tahu, akan tiba suatu ketika aku berhenti mengenal dirimu. Karena, semua dari kita telah menjadi seseorang seperti saat ini. Dan aku tidak mengenalmu lagi. Yang kupunya hanya sisa-sisa memori yang kian lama kian menyusut, karena kita yang tak pernah mempertemukan kesempatan untuk memperbaruinya. Lalu kau berhenti menulis, baik di tempat dulu kita menulis maupun di linimasa papan depan stasiun. Kau hilang dari dunia. Lalu kutemukan ceritamu bersama orang lain, terpampang di jendela. Dan aku sadar betul, kau telah lama menemukan penggantiku, pengganti orang-orang yang dulu bersamamu, ya, sebut saja begitu. Karena saat itu aku mulai tak yakin apa kita. Meski aku tak pernah berkata kita berhenti berteman.

Meski kita sama-sama tahu, dunia harus bergerak untuk menyeimbangkan isinya, tolong jangan sekali-kali katakan padaku bahwa kau bukan temanku lagi, meski kau yang telah menggapnya seperti itu. Kutegaskan, meski masa muda saat kita selalu bersama telah usai, digantikan serial pertemuan yang jarang terjadi, aku masih menganggapmu teman. Karena kau harus tahu, aku hanya menenukan sosok kualitas individu yang mau kubagi suka duka sisi gelap dan terang diriku hanya padamu, yang tak kutemukan pada diri orang lain beberapa tahun belakangan. Hanya kamu, ya, kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu yang disana dan kamu yang di situ.

Temanku, kuharap waktu tak menyesatkanmu. Karena kau harus tahu, waktu hanyalah satu dari sekian nominal hitungan yang diciptakan manusia untuk mengukur seberapa lama segala sesuatu berlalu setelah penciptaan-Nya.

Selasa, 28 Januari 2014

Tak Hanya Sekedar Lomba Balap Kita

Maaf teman, aku melanggar ucapanku, sekali ini. Ini masalah perlombaan kita sampai puncak gunung itu.

Ada beberapa kesempatan datang, sepertinya Tuhan berpihak padaku. Ah, kau sudah loyo baru jalan sedikit saja menapaki perlombaan yang kita mulai dulu, dulu sekali. Kau ingat pada puncak gunung yang kita lombakan itu? Sepertinya memasuki dunia orang dewasa membuatmu sedikit lupa. Oh, ya, mari kuingatkan sedikit.

Dulu, kita pernah berjanji, seperti janji-janji lain yang pada akhirnya terpenuhi atau salah satu dari kita yang mengingkari. Ini janji serius, perlombaan menuju sebuah negeri dongeng, tempat kita menggantung mimpi-mimpi yang sudah kita sudahi saat ini. Kita tak pernah menentukan kadaluarsanya, yang penting berlari saja, terus terus dan terus sampai siapa diantara kita yang mencapainya duluan. Pernah, suatu ketika kau katakan padaku kau merasa menyerah. Perjalanan mendaki ini begitu sulit, sulit sekali, dan kau memang loyo karena kurang tempaan. Dasar cengeng! Ayo kita melangkah lagi! Lalu entah, saat ini apa kau ingat bahwa aku tak pernah berkata kita sudahi saja janji itu sampai di sini.

Temanku, kau harus tahu, ada bantuan dari langit, sedikit saja sebuah kesempatan untukku, dan kau harusnya memang tahu dan merasa iri hingga terpecut untuk berlari. Ya, intinya, ada jalan pintas yang kutemukan. Tapi kau juga harus tahu, bahwa aku menemukan suatu hal yang mungkin membuatmu tambah loyo.

Perlombaan ini, ternyata bukan kita saja yang menempuhnya. Ada banyak orang yang kutemui di jalan ini. Apa memang ini jalan yang benar, atau ini memang jalan pintas yang telah diketahui banyak orang. Kau tahu, lama-lama melihat begitu banyak orang ini aku jadi malas! Ini bukan lagi perlombaan kita saja, ini sebuah maraton!

Kau boleh saja mengejekku karena menempuh jalan ini. Ya, tapi nanti aku akan mengejekmu yang loyo hingga lama sekali sampai di ujung perlombaan ini, puncak gunung mimpi kita. Oleh karena itu, aku ingin kau makhlum, kalau waktuku kini tersita di jalur ini. Liburan ini, aku masih punya 2 hari untukmu, tenang saja.

Rabu, 01 Januari 2014

Masalah Bertemu

Pada dasarnya, bukan masalah ada waktu atau tidak ada waktu untuk bertemu, tetapi lebih kepada mau atau tidak mau bertemu.

Bertemu, berkumpul, rasa-rasanya masalah kita sejak kelulusan adalah hal satu ini. Aku selalu berpikir kalau, lama tidak berhubungan pun aku yakin saat kita bertemu pun kita akan tetap bisa nyambung. Ah, iya, masalah ini. Tapi mungkin kamu sudah berubah dan tak bisa kembali jadi dirimu yang dulu, lalu meninggalkan teman-temanmu yang lain, dan memilih teman-temanmu yang baru. Tapi waktu terus berlalu dan nantinya kau berubah lagi, meninggalkan teman-temanmu yang baru dan yang lama kepada teman-temanmu yang baru lagi. Lalu pada akhirnya kau menyadari, kamu tak memiliki teman sejati. Karena teman-teman yang sejenak kau 'temani' itu bagimu hanya pengisi kekosongan hari-harimu, karena kau tak memilihnya dengan benar, dan kau hanya terikat karena sesuatu hal yang rapuh yang nantinya kau tinggalkan dan terurai seperti halnya jazad. Lalu saat kau sadar, sudah terlambat bagimu untuk menjalin benang 'pertemanan'. Lalu kau jadikan hal ini sebagai salah satu alasan mengapa kau tak pernah bisa diajak bertemu. 

Maaf, aku tidak bisa ikut, aku baru pulang kemarin sore dan nggak enak sama keluargaku. Tiap tahun, tiap ada yang mengajak bertemu saat weekend, kubela-belain datang dan memilih kembali merantau esok pagi.  

Maaf, aku nggak bisa ikut, aku nggak pulang. Tiap tahun, di jadwal yang hampir sama, kau tak pernah pulang. Bukannya itu menandakan kau memang tak pulang pada hari itu dan memilih pulang pada hari lain?  

Maaf, aku nggak bisa, rumahku jauh. Tiap tahun, tiap bertemu, kubela-belain dari rumahku yang jauhya mungkin sama jauhnya dengan rumahmu. Tapi bukankah kau bisa pulang duluan kalau memang takut kemalaman? Bukankah itu menandakan bahwa kau memang berkedok rumahmu yang jauh itu? Toh nyatanya ada saja yang rumahnya jauh dan tetap datang.

Maaf, aku nggak bisa, besok senin aku ujian. Ngajaknya malam sabtu, MALAM SABTU! Apa aku boleh bilang, besok senin aku juga ada ujian ngumpulin tugas. Tapi apa aku bilang ke kamu? Tidak. Bukankah bertemu juga masih H-3 ujianmu? Bukankah kau memang memakai 'ujian' itu sebagai alasanmu tak mau bertemu?

Boleh tidak aku misuh padamu? Ah, lagipula ngapain aku harus meminta ijin padamu untuk misuh di sini? Tapi, memang, yang kukatakan benar, kan? Kau memang tak mau, tak mau bertemu. Kalaupun mau kau pasti akan berusaha untuk bertemu. Kalau kali ini tak bisa, lain kali pasti berusaha untuk datang. Tapi nyatanya lagi-lagi ketika aku mengajakmu kau berkelit entah dengan alasan apa.

Aku muak padamu. Aku tahu aku tak berhak memaksakanmu untuk bertemu. Tapi aku memang ingin bertemu. Bukankah sering kali aku yang mengajakmu bertemu? Apakah selama 3 tahun ini kau pernah berusaha untuk membikin sebuah acara pertemuan bersama? Coba ingat-ingat lagi. Apa perlu aku membenturkan kepalamu biar kau ingat? Oh, kamu sudah ingat? Tidak. Ya, memang tidak. Kenapa? Karena memang kau tak ingin bertemu kan.

Baiklah kalau begitu. Begini saja. Aku akan berhenti menghubungimu, karena kau pikir bukankah sms atau pesanku begitu menganggumu hingga tak pernah kau balas? Oh iya aku lupa, ponselmu kan sudah pintar, pulsa seberapapun bukannya masalah, pasti ada. Tak sepertiku yang masih repor-repot memakai ponsel bodoh, memakai cara kuno berkirim pesan lewat sms yang menghabiskan pula yang menurutmu tak banyak untuk sms semua orang meminta bertemu.

Oh iya, aku juga akan berhenti untuk mengajakmu bertemu. Aku akan tak peduli kau marah, kau sedih, atau kau tak peduli karena kau tak diajak karena kau telah punya duniamu sendiri, dunia yang sempit, sesempit hatimu yang mendepak orang lain untuk memasukkan orang lain ke hatimu. Lalu suatu ketika kamu akan meminta bertemu, mungkin di hari pernikahanmu (?), lalu aku akan dengan tak peduli akan berkata kepadamu, Maaf, aku tak mau bertemu denganmu karena kau tak pernah mau bertemu denganku meski kau bisa dan punya waktu. Begitu saja, bagaimana? Adilkan?

Ah, tapi aku tak sampai hati tak datang ke pernikahanmu. Oh iya itu pun kalau kau memang mengirimkan undangan ya?