Selasa, 28 Januari 2014

Tak Hanya Sekedar Lomba Balap Kita

Maaf teman, aku melanggar ucapanku, sekali ini. Ini masalah perlombaan kita sampai puncak gunung itu.

Ada beberapa kesempatan datang, sepertinya Tuhan berpihak padaku. Ah, kau sudah loyo baru jalan sedikit saja menapaki perlombaan yang kita mulai dulu, dulu sekali. Kau ingat pada puncak gunung yang kita lombakan itu? Sepertinya memasuki dunia orang dewasa membuatmu sedikit lupa. Oh, ya, mari kuingatkan sedikit.

Dulu, kita pernah berjanji, seperti janji-janji lain yang pada akhirnya terpenuhi atau salah satu dari kita yang mengingkari. Ini janji serius, perlombaan menuju sebuah negeri dongeng, tempat kita menggantung mimpi-mimpi yang sudah kita sudahi saat ini. Kita tak pernah menentukan kadaluarsanya, yang penting berlari saja, terus terus dan terus sampai siapa diantara kita yang mencapainya duluan. Pernah, suatu ketika kau katakan padaku kau merasa menyerah. Perjalanan mendaki ini begitu sulit, sulit sekali, dan kau memang loyo karena kurang tempaan. Dasar cengeng! Ayo kita melangkah lagi! Lalu entah, saat ini apa kau ingat bahwa aku tak pernah berkata kita sudahi saja janji itu sampai di sini.

Temanku, kau harus tahu, ada bantuan dari langit, sedikit saja sebuah kesempatan untukku, dan kau harusnya memang tahu dan merasa iri hingga terpecut untuk berlari. Ya, intinya, ada jalan pintas yang kutemukan. Tapi kau juga harus tahu, bahwa aku menemukan suatu hal yang mungkin membuatmu tambah loyo.

Perlombaan ini, ternyata bukan kita saja yang menempuhnya. Ada banyak orang yang kutemui di jalan ini. Apa memang ini jalan yang benar, atau ini memang jalan pintas yang telah diketahui banyak orang. Kau tahu, lama-lama melihat begitu banyak orang ini aku jadi malas! Ini bukan lagi perlombaan kita saja, ini sebuah maraton!

Kau boleh saja mengejekku karena menempuh jalan ini. Ya, tapi nanti aku akan mengejekmu yang loyo hingga lama sekali sampai di ujung perlombaan ini, puncak gunung mimpi kita. Oleh karena itu, aku ingin kau makhlum, kalau waktuku kini tersita di jalur ini. Liburan ini, aku masih punya 2 hari untukmu, tenang saja.

Rabu, 01 Januari 2014

Masalah Bertemu

Pada dasarnya, bukan masalah ada waktu atau tidak ada waktu untuk bertemu, tetapi lebih kepada mau atau tidak mau bertemu.

Bertemu, berkumpul, rasa-rasanya masalah kita sejak kelulusan adalah hal satu ini. Aku selalu berpikir kalau, lama tidak berhubungan pun aku yakin saat kita bertemu pun kita akan tetap bisa nyambung. Ah, iya, masalah ini. Tapi mungkin kamu sudah berubah dan tak bisa kembali jadi dirimu yang dulu, lalu meninggalkan teman-temanmu yang lain, dan memilih teman-temanmu yang baru. Tapi waktu terus berlalu dan nantinya kau berubah lagi, meninggalkan teman-temanmu yang baru dan yang lama kepada teman-temanmu yang baru lagi. Lalu pada akhirnya kau menyadari, kamu tak memiliki teman sejati. Karena teman-teman yang sejenak kau 'temani' itu bagimu hanya pengisi kekosongan hari-harimu, karena kau tak memilihnya dengan benar, dan kau hanya terikat karena sesuatu hal yang rapuh yang nantinya kau tinggalkan dan terurai seperti halnya jazad. Lalu saat kau sadar, sudah terlambat bagimu untuk menjalin benang 'pertemanan'. Lalu kau jadikan hal ini sebagai salah satu alasan mengapa kau tak pernah bisa diajak bertemu. 

Maaf, aku tidak bisa ikut, aku baru pulang kemarin sore dan nggak enak sama keluargaku. Tiap tahun, tiap ada yang mengajak bertemu saat weekend, kubela-belain datang dan memilih kembali merantau esok pagi.  

Maaf, aku nggak bisa ikut, aku nggak pulang. Tiap tahun, di jadwal yang hampir sama, kau tak pernah pulang. Bukannya itu menandakan kau memang tak pulang pada hari itu dan memilih pulang pada hari lain?  

Maaf, aku nggak bisa, rumahku jauh. Tiap tahun, tiap bertemu, kubela-belain dari rumahku yang jauhya mungkin sama jauhnya dengan rumahmu. Tapi bukankah kau bisa pulang duluan kalau memang takut kemalaman? Bukankah itu menandakan bahwa kau memang berkedok rumahmu yang jauh itu? Toh nyatanya ada saja yang rumahnya jauh dan tetap datang.

Maaf, aku nggak bisa, besok senin aku ujian. Ngajaknya malam sabtu, MALAM SABTU! Apa aku boleh bilang, besok senin aku juga ada ujian ngumpulin tugas. Tapi apa aku bilang ke kamu? Tidak. Bukankah bertemu juga masih H-3 ujianmu? Bukankah kau memang memakai 'ujian' itu sebagai alasanmu tak mau bertemu?

Boleh tidak aku misuh padamu? Ah, lagipula ngapain aku harus meminta ijin padamu untuk misuh di sini? Tapi, memang, yang kukatakan benar, kan? Kau memang tak mau, tak mau bertemu. Kalaupun mau kau pasti akan berusaha untuk bertemu. Kalau kali ini tak bisa, lain kali pasti berusaha untuk datang. Tapi nyatanya lagi-lagi ketika aku mengajakmu kau berkelit entah dengan alasan apa.

Aku muak padamu. Aku tahu aku tak berhak memaksakanmu untuk bertemu. Tapi aku memang ingin bertemu. Bukankah sering kali aku yang mengajakmu bertemu? Apakah selama 3 tahun ini kau pernah berusaha untuk membikin sebuah acara pertemuan bersama? Coba ingat-ingat lagi. Apa perlu aku membenturkan kepalamu biar kau ingat? Oh, kamu sudah ingat? Tidak. Ya, memang tidak. Kenapa? Karena memang kau tak ingin bertemu kan.

Baiklah kalau begitu. Begini saja. Aku akan berhenti menghubungimu, karena kau pikir bukankah sms atau pesanku begitu menganggumu hingga tak pernah kau balas? Oh iya aku lupa, ponselmu kan sudah pintar, pulsa seberapapun bukannya masalah, pasti ada. Tak sepertiku yang masih repor-repot memakai ponsel bodoh, memakai cara kuno berkirim pesan lewat sms yang menghabiskan pula yang menurutmu tak banyak untuk sms semua orang meminta bertemu.

Oh iya, aku juga akan berhenti untuk mengajakmu bertemu. Aku akan tak peduli kau marah, kau sedih, atau kau tak peduli karena kau tak diajak karena kau telah punya duniamu sendiri, dunia yang sempit, sesempit hatimu yang mendepak orang lain untuk memasukkan orang lain ke hatimu. Lalu suatu ketika kamu akan meminta bertemu, mungkin di hari pernikahanmu (?), lalu aku akan dengan tak peduli akan berkata kepadamu, Maaf, aku tak mau bertemu denganmu karena kau tak pernah mau bertemu denganku meski kau bisa dan punya waktu. Begitu saja, bagaimana? Adilkan?

Ah, tapi aku tak sampai hati tak datang ke pernikahanmu. Oh iya itu pun kalau kau memang mengirimkan undangan ya?