Rabu, 16 April 2014

Waktu

Siapa bilang aku tak berubah? Seperti halnya kau, kini aku memihak pada waktu.


Aku membencimu yang mempertanyakan kualitas pertemanan kita. Jelas-jelas saja aku membuang 'segala'nya demi seonggok hubungan bernama pertemanan! Ya, seonggok, karena memang kau mengonggokkannya begitu saja di mukaku. Kita tahu, jelas sangat tahu, waktu dan jarak lagi-lagi memperlihatkan bahwa hubungan yang terjalin baik manapun, tak akan kekal. Semua hal berubah, aku kamu mereka kita semua, bahkan atom terkecil dari inti alam semesta ini terus berubah. Seperti halnya waktu yang terus melaju, seperti hanya roda yang terus berputar untuk dapat menyeimbangkan diri. Begitulah semesta terus berlanjut, menuju entah apa aku juga tak tahu.

Dan jelas saja, perubahan adalah bagian dari tumbuh. Aku dulu mengatakan padamu aku benci tumbuh menjadi dewasa. Tapi sekali lagi waktu dan jarak membuatku luluh, meski aku menggugat setiap perubahan, kini aku berkompromi dengannya. Tapi bukan kah itu esensi dari menjadi dewasa? Tercerahkan oleh pengetahuan yang bertambah, yang membuatmu tak lagi jadi anak ingusan kemarin sore. Kewajiban yang semakin banyak mengalahkan hak asasi kita sebagai seorang individu yang bebas. Meluaskan pandanganmu yang sempit oleh keegoisan masa muda.

Dan kau mempersalahkan semua itu atas ketidakbecusanmu berkompromi dengan waktu dan jarak, ah, apalagi perubahan. Kau hanya mengkambinghitamkanya karena tak menemukan cara untuk berkompromi dengannya. Tapi meski kau berkata kau telah berubah dan tumbuh dewasa, bukankan kau yang tak sanggup berkompromi dengan perubahan dan mempersalahkannya atas semua ketidaknyambungan kita ketika bertemu itulah yang membuatmu masih menjadi anak ingusan berpikiran sempit karena ego masa muda yang telah menganggap dirimu sendiri yang tumbuh dan orang lain yang tak tumbuh sehingga membuat kita tak bisa lagi berteman?

Entah aku harus tertawa sarkas atau harus sedih?

Aku tahu kawan, tanpa kau beritahu pun aku telah mengerti sejak lama. Ketika kita semua melangkahkan kaki keluar dari rumah itu, rumah kita dulu itu, jauh sebelumnya aku telah berfirasat semua ini akan terjadi. Itulah mengapa aku katakan padamu aku membenci tumbuh menjadi dewasa. Karena ketika kau pada akhirnya tak bisa melalui tahap diantaranya, kau hanya akan menjadi tua dan menyebalkan. Tanpa kau katakan pun, aku telah tahu, akan tiba suatu ketika aku berhenti mengenal dirimu. Karena, semua dari kita telah menjadi seseorang seperti saat ini. Dan aku tidak mengenalmu lagi. Yang kupunya hanya sisa-sisa memori yang kian lama kian menyusut, karena kita yang tak pernah mempertemukan kesempatan untuk memperbaruinya. Lalu kau berhenti menulis, baik di tempat dulu kita menulis maupun di linimasa papan depan stasiun. Kau hilang dari dunia. Lalu kutemukan ceritamu bersama orang lain, terpampang di jendela. Dan aku sadar betul, kau telah lama menemukan penggantiku, pengganti orang-orang yang dulu bersamamu, ya, sebut saja begitu. Karena saat itu aku mulai tak yakin apa kita. Meski aku tak pernah berkata kita berhenti berteman.

Meski kita sama-sama tahu, dunia harus bergerak untuk menyeimbangkan isinya, tolong jangan sekali-kali katakan padaku bahwa kau bukan temanku lagi, meski kau yang telah menggapnya seperti itu. Kutegaskan, meski masa muda saat kita selalu bersama telah usai, digantikan serial pertemuan yang jarang terjadi, aku masih menganggapmu teman. Karena kau harus tahu, aku hanya menenukan sosok kualitas individu yang mau kubagi suka duka sisi gelap dan terang diriku hanya padamu, yang tak kutemukan pada diri orang lain beberapa tahun belakangan. Hanya kamu, ya, kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu yang disana dan kamu yang di situ.

Temanku, kuharap waktu tak menyesatkanmu. Karena kau harus tahu, waktu hanyalah satu dari sekian nominal hitungan yang diciptakan manusia untuk mengukur seberapa lama segala sesuatu berlalu setelah penciptaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar