Selasa, 20 Mei 2014

Menolak Lupa

Menjelang senja, kutemukan serangkaian kata yang kau tuturkan dengan begitu syahdu, hingga ngilunya sampai kepadaku.

Aku telah belajar untuk merelakanmu, kawanku, membagimu dengan orang yang kini lebih mengenalmu. Karena aku tahu, yang kukenal darimu hanya secuplik dari masa lalumu, masa-masa ketika kau baru akan tumbuh jadi orang dewasa yang kini sering kali menyebalkan. Kau bilang kau mulai lelah dengan pertemanan ini. Tapi mengapa aku malah semakin merasa aku ingin terus bersamamu hingga entah kapan? Bukan bersamamu untuk berbagi hidup, tapi bersamamu untuk mengenang masa lalu yang begitu jaya, yang nikmatnya mungkin tak terkalahkan oleh kebahagiaan manapun yang kita rasakan sekarang.

Aku tahu kamu hanya sedikit cengeng. Dikit-dikit mengeluh malas bertemu, dikit-dikit ngambeg dan mutung karena ketidak jelasan kita yang masih bertahan sejak dulu. Tapi bukankah kau sudah mengenalku dan mereka setelah sekian lama? Apa jangan-jangan, selama tahun-tahn terakhir ini kau telah melupakan nikmatnya menjadi anak muda yang suka basa basi bercanda sana sini tak jelas ujungnya seperti yang biasa dulu kita lakukan? Ah, mungkin kau memang sudah menua, hingga lupa.

Kau bilang, pada akhirnya, tak ada yang benar-benar kau kenal dariku, darinya, dari mereka. Itu kata-kataku, kau ingat? Dulu mungkin aku akan bersikeras kalau aku tak menyukai perubahan. Tapi apa daya, bahkan semesta saja mendukung setiap perubahan yang ada.

Kawan, aku sedih melihatmu menghindar seorang diri, menghindari teman-temanmu yang kau bagi masa muda di masa lalu, mengabaikan semua jenis kontak yang kucoba lakukan untuk menjangkaumu. Aku merasakan kehilangan yang teramat sangat akan penolakanmu itu. Sudah cukup bagiku hanya bertemu denganmu setahun dapat dihitung jari. Tapi jangan kau tambahi lagi dengan ke-takbersediaan-mu untuk bertemu.

Ah, aku tulis panjang lebar disinipun, kau bahkan tak pernah meliriknya, kan?
Sudah, aku tahu kau berubah. Semua orang berubah. Tapi kita harus berkompromi dengan perubahan ini. Karena aku menolak untuk melupakanmu.

Minggu, 04 Mei 2014

Surat untuk Seorang Kakak

Mei, ya, ini sudah Mei. Sebentar lagi aku akan melepasmu pergi, seperti seorang adik yang melepaskan kakaknya di pelabuhan untuk pergi berkelana berlayar ke dunia. Aku merasa perlu menuliskan ini, kakakku tersayang. Karena aku yakin kau mungkin tak akan membacanya. Tapi aku ingin menjadikan ini penanda, bahwa aku akan begitu sedih melepasmu.

Kakakku, yang kutemukan setelah aku dewasa.
Semalam lalu, aku memimpikanmu. Sekali ini diantara ribuan mimpi yang kuingat dan kulupakan. Sekali ini aku memimpikanmu, melepaskanmu. Entah ini pertanda apa, mungkin pertanda bahwa melepasmu akan sebegitu berat, mungkin aku akan tak kuasa menahan air mata, seperti saat aku menuliskan ini.

Terimakasih karena kau telah hadir menjadi sosok yang aku dambakan sejak kecil. 
Penyakit brother complex ini mungkin belum sembuh betul sampai kau akan pergi beberapa hari lagi, mungkin juga tak akan sembuh. Diantara semua kakak yang kutemui di perjalanan ini, hanya kamu, ya, hanya kamu yang benar dekat dihati. Rasanya sudah seperti kau kakak kandungku sendiri. Aku menemukan diriku padamu, menemukan diriku yang laki-laki di sosokmu. Bersamamu aku seperti bercermin.

Terimakasih telah membawaku sampai puncak Hargo Dumilah dan puncak Triangulasi.
Mereka bilang aku merasakan sesuatu yang lebih kepadamu. Ya, mungkin mereka benar. Mungkin aku memang merasakan sesuatu yang lebih kepadamu. Mungkin aku telah jatuh hati padamu. Tapi kurasa, yang kurasakan padamu ini lebih dalam daripada sekedar roman picisan. Ini lebih dari sekedar ini, ini lebih dalam lagi, hingga rasanya sakit sekali melepasmu.

Terimakasih karena telah ada disaat apapun dalam hidupku.
Perempuanmu pasti sangat beruntung bersamamu. Aku semakin mengerti mengapa ia jatuh cinta padamu. Kebaikanmu telah menyentuh kebebalanku. Nasehatmu telah membimbingku melewati hal-hal tergalau dihidupku.

Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Aku terlampau kehilangan kata-kata untuk melanjutkan tulisan ini. Kakakku tersayang, aku menyayangimu melebihi diriku. Jangan lupakan aku meski dunia telah kau kitari.

Tertanda,
Adikmu yang selalu menyusahkanmu.