Minggu, 04 Mei 2014

Surat untuk Seorang Kakak

Mei, ya, ini sudah Mei. Sebentar lagi aku akan melepasmu pergi, seperti seorang adik yang melepaskan kakaknya di pelabuhan untuk pergi berkelana berlayar ke dunia. Aku merasa perlu menuliskan ini, kakakku tersayang. Karena aku yakin kau mungkin tak akan membacanya. Tapi aku ingin menjadikan ini penanda, bahwa aku akan begitu sedih melepasmu.

Kakakku, yang kutemukan setelah aku dewasa.
Semalam lalu, aku memimpikanmu. Sekali ini diantara ribuan mimpi yang kuingat dan kulupakan. Sekali ini aku memimpikanmu, melepaskanmu. Entah ini pertanda apa, mungkin pertanda bahwa melepasmu akan sebegitu berat, mungkin aku akan tak kuasa menahan air mata, seperti saat aku menuliskan ini.

Terimakasih karena kau telah hadir menjadi sosok yang aku dambakan sejak kecil. 
Penyakit brother complex ini mungkin belum sembuh betul sampai kau akan pergi beberapa hari lagi, mungkin juga tak akan sembuh. Diantara semua kakak yang kutemui di perjalanan ini, hanya kamu, ya, hanya kamu yang benar dekat dihati. Rasanya sudah seperti kau kakak kandungku sendiri. Aku menemukan diriku padamu, menemukan diriku yang laki-laki di sosokmu. Bersamamu aku seperti bercermin.

Terimakasih telah membawaku sampai puncak Hargo Dumilah dan puncak Triangulasi.
Mereka bilang aku merasakan sesuatu yang lebih kepadamu. Ya, mungkin mereka benar. Mungkin aku memang merasakan sesuatu yang lebih kepadamu. Mungkin aku telah jatuh hati padamu. Tapi kurasa, yang kurasakan padamu ini lebih dalam daripada sekedar roman picisan. Ini lebih dari sekedar ini, ini lebih dalam lagi, hingga rasanya sakit sekali melepasmu.

Terimakasih karena telah ada disaat apapun dalam hidupku.
Perempuanmu pasti sangat beruntung bersamamu. Aku semakin mengerti mengapa ia jatuh cinta padamu. Kebaikanmu telah menyentuh kebebalanku. Nasehatmu telah membimbingku melewati hal-hal tergalau dihidupku.

Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Aku terlampau kehilangan kata-kata untuk melanjutkan tulisan ini. Kakakku tersayang, aku menyayangimu melebihi diriku. Jangan lupakan aku meski dunia telah kau kitari.

Tertanda,
Adikmu yang selalu menyusahkanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar