Selasa, 08 Juli 2014

Percakapan (Saat) Mendaki

Dan bukankah, Tuhan tak memberikan cobaan yang tak dapat manusia lampaui?



Entah sudah berapa kali, berapa lama, tanjakan ini kutempuh. Kadang pelan-pelan karena memang susah, kadang pelan-pelan karena pemandangan yang menggugah, kadang pelan-pelan karena memang ingin beristirah, kadang pelan-pelan karena terpintas untuk menyerah. Kadang cepat-cepat karena bersemangat, kadang cepat-cepat karena ingin lekas sampai. Tapi, di balik puncak masih ada puncak lagi.

Kadang terpikir, ah, sudah, menyerah saja, di rumah ibu masak makanan kesukaanku. Di rumah ada televisi, nonton sambil tiduran di kursi empuk enak sekali. Sedang, apa-apaan tanjakan ini? Lagipula, mengapa aku harus menempuh tanjakan ini? Tuhan, apa kau sedang bercanda kepadaku? Bukakah kau berikan orang lain jalan yang lebih mudah daripadaku? Aku, aku sungguh tak mengerti lagi. Kalau aku putar balik dan menyusuri jalan pulang, tak mengapa kan?

Tapi, tapi, tapi, aku tak rela. Meski tanjakan ini akan berakhir di tanjakan lainnya, meski puncak yang kutuju bukan lah puncak yang sebenarnya, aku akan terus menyusuri jalan ini. Setidaknya, kalau aku bosan aku akan terus berjalan dan pura-pura senang. Jikalau pemandangan sekitar memang lebih indah, aku akan pelan-pelan saja. Sesekali nyasar juga tak mengapa. Tapi aku tak akan berhenti di sini, meski aku tak dapat berlari. Gila aja tanjakan lari, mau bunuh diri dengan mematahkan kaki apa?

Ya, begitu saja, aku setuju. Aku akan simpan tangis keputus asaanku ini buat esok, esok ketika aku menyelesaikan tanjakan ini. Ya, tanjakan ini, dan tanjakan tanjakan lainnya.

*

Hidup memang seperti mendaki. Puncak sudah terjanji, nanti kamu akan moksa lebur ing pati.