Rabu, 31 Desember 2014

Januari

Sora, pada jarak ini aku ingin kembali menemuimu.

Kita tak pernah menghitung waktu. Tahu-tahu, betapa jauh aku dari kenangan akanmu. Satu dekade dan aku hanya menghitung jari satu tangan saja tak sampai. Kamu, satu diantara jari-jari  yang kuhitung itu. Yang lainnya, ah, tak perlu kita bicarakan di sini.

Kalau boleh aku katakan, saat ini aku begitu putus asa. Mencari jari yang dapat kumasukkan dalam hitungan. Di negeri mimpi ini, aku bermimpi dapat bertemu seseorang. Tapi, ketika batas waktu untuk terjaga telah siaga, aku sadar, aku terjebak dalam sebuah romantika bacaan anak remaja.

Kalau boleh aku katakan padamu, tubuh kita menua. Semakin renta, pada rindu-rindu masa lalu, yang gempita juga pilu, romansa yang tak kunjung habis-habisnya. Adakah kita harus kembali pada masa-masa itu hanya karena aku begitu mendambakan ombak yang bergumul menghempas pantai dan menghalau kupu-kupu yang terbang menggelitiki dada kiriku? Atau adakah kita harus bertemu lagi pada waktu yang tepat tempat yang tepat dikesempatan yang kita buat? Jangan-jangan, sesungguhnya kita saling berdoa, agar jangan dipertemukan lagi, agar kau bertemu romansa yang lebih gampang tapi bukan gampangan, agar kau tak perlu susah payah gelisah tiap malam memikirkan jarak yang harus ditempuh agar benang-benang tak kusut.

Aku susah payah memperpanjang jarakku dan kau, tapi akhirnya lagi-lagi Januari mengingatkanku padamu, pada perpisahan diujung Desember, juga pada surat yang akhirnya aku kirimkan padamu di bulan Januari, juga pada yang aku ambil di bulan Desember, juga pada kerinduanku untuk dapat jatuh cinta di bulan Januari.

Kita sama-sama menua. Romansa itu, bagiku, begitu abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar